Bab Kejujuran

Bab Kejujuran


Penjelasan: Allah terkadang menguji seorang hamba, lalu Dia melindunginya dari kemaksiatan, apabila Dia mengetahui niat baik di dalam hatinya. Dan bahwa kejujuran itu perkara yang agung dan berhak mendapatkan pahala dari Allah 'Azza wa Jalla. Maka, sudah seharusnya kita bersikap jujur dan menjadi bagian dari orang-orang yang jujur.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah [9]: 119)

Allah berfirman:

"...Laki-laki dan perempuan yang benar..." (QS. Al-Ahzab [33]: 35)

Allah berfirman:

"...Tetapi, jika mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka..." (QS. Muhammad [47]: 21)

Adapun hadist-hadist yang menerangkannya ialah:

1/54. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Sesungguhnya seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya berdusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka. Sesungguhnya seseorang akan selalu berdusta sehingga ditulislah di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 6094 dan Muslim: 103/2607)

Penjelasan: Sesungguhnya seorang hamba yang muslim apabila senantiasa berada dalam kejujuran itu akan mengantarkannya menuju surga dan ini merupakan satu tujuan yang diharapkan oleh setiap muslim. Sedangkan dusta itu merupakan jalan yang lain, dan ini merupakan jalan kejelekan pertama yang akan mengantarkan manusia menuju neraka. Kita berlindung kepada Allah dari (siksa) neraka.

2/55. Abu Muhammad Al-Hasan bin 'Ali bin Abu Thalib berkata, "Saya menghafal sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, 'Tinggalkan apapun yang meragukanmu kepada apapun yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan'." (HR. At-Tirmidzi: 2518 dan Ahmad: 200/1. At-Tirmidzi mengatakan, hadist shahih. Syaikh Ahmad Syakir menjelaskan bahwa sanadnya shahih)

Sabda beliau yaribuka dengan difathahkan ya dan mendhammahkannya jika yaribuka. Artinya ialah tinggalkan apa yang meragukanmu dalam melakukannya dan berlaku luruslah kepada apa yang tidak meragukanmu dalam melakukannya.

Penjelasan: Hadist ini mengandung salah satu pokok dari ilmu Ushul Fiqh, yaitu bahwa sesuatu yang mengandung keraguan itu harus ditinggalkan dan mengambil sesuatu yang tidak ada keraguan padanya. Oleh karena itu, setiap insan harus meninggalkan dusta dan harus bersikap jujur karena dusta itu keraguan sedangkan kejujuran itu ketenangan.

3/56. Dari Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb radhiyallahu anhu dalam hadistnya yang panjang tentang cerita raja Heraklius. Heraklius berkata, "Apakah yang diperintah olehnya (yang dimaksud ialah oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam)?" Abu Sufyan berkata, "Saya lalu menjawab, 'Beliau bersabda, 'Sembahlah Allah Yang Maha Esa, jangan kamu menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya, dan tinggalkanlah apa-apa yang dikatakan oleh nenek moyangmu. Beliau juga menyuruh kami untuk melakukan shalat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menjalin silaturahmi'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 7 dan Muslim: 1773)

Penjelasan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mulia memerintahkan kepada umatnya untuk meninggalkan apa yang dilakukan (disembah) nenek moyang mereka dari perbuatan syirik kepada Allah. Dan shalat itu merupakan penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya. Shalat merupakan pembeda antara kafir dan syirik, dan kehormatan seorang insan adalah agar menjauhi dari sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah berupa perbuatan zina dan hal-hal yang mengundang ke arah perzinaan.

4/57. Dari Abu Tsabit, dan dikatakan Abu Sa'd, dan dikatakan Abul Walid, Sahl bin Hunaif radhiyallahu anhu (dia adalah orang yang ikut peperangan Badar), bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang benar-benar memohon kepada Allah Ta'ala mati syahid, niscaya Allah akan menyampaikannya ke tingkat orang-orang yang mati syahid, walaupun ia mati di atas tempat tidurnya." (HR. Muslim: 1909)

Penjelasan: Dari hadist ini kita dapat mengetahui bahwa syahid itu beraneka ragam. Di antaranya, sudah berpendapat beberapa ulama bahwa para ulama itu adalah para syuhada, dan termasuk syuhada juga adalah orang yang terkena wabah penyakit, sakit perut, terbakar, tenggelam, dan yang berperang di jalan Allah. Termasuk syuhada pula orang yang berperang dengan jiwa saja dan yang ikut berperang dengan mengorbankan harta saja. Akan tetapi, yang paling tinggi derajat syahidnya adalah mereka yang berperang di jalan Allah untuk menegakkan bahwa Kalimatullah itu paling tinggi.

5/58. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ada salah seorang di antara para Nabi Shalawatullahi Wa Salamuhu Alaihim sewaktu akan berangkat berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya, 'Jangan mengikutiku (berperang) seorang lelaki yang baru menikah, dan ia ingin menggaulinya, sementara ia belum melakukannya. Tidak juga seorang yang membangun rumah sedangkan ia belum selesai memasang atapnya. Dan tidak pula seorang yang baru membeli kambing atau unta yang sedang hamil dan ia menunggu kelahiran anaknya.' Kemudian Nabi tersebut pun berangkat berperang dan ketika mendekati negeri (yang diperangi) pada waktu shalat Ashar atau hampir tiba dengan waktu itu, kemudian Nabi berkata kepada matahari, 'Wahai matahari, sesungguhnya kamu diperintah dan saya pun diperintah. Ya Allah, tahanlah jalannya matahari itu di atas kami.'

Kemudian matahari itu tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Kemudian itu mengumpulkan ghanimah (rampasan perang) lalu datanglah-yaitu api-untuk melahapnya, tetapi api itu tidak dapat melahapnya. Nabi itu berkata, 'Sesungguhnya di kalangan kalian ada yang berbuat ghulul (menyembunyikan harta rampasan perang), maka setiap kelompok harus mengirimkan seorang lelaki untuk berbai'at kepadaku.'

Lalu ada seorang lelaki tangannya melekat dengan tangan Nabi itu. Maka nabi itu berkata, 'Sesungguhnya di kalangan kabilahmu ada yang berbuat ghulul, oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu memberikan pembai'atan padaku.' Selanjutnya ada dua atau tiga orang yang tangannya melekat dengan tangan Nabi itu, lalu nabi itu berkata, 'Dari kalanganmu ada yang berbuat ghulul.' Lalu mereka membawa emas sebesar kepala sapi, lalu meletakkannya, kemudian datanglah api dan melahapnya.

Oleh karenanya, belum dihalalkan harta-harta rampasan bagi seseorang pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkannya untuk kita harta-harta rampasan tersebut, ketika Allah mengetahui kelemahan dan ketidakberdayaan kita. Maka Allah pun menghalalkannya untuk kita." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 3124 dan Muslim: 1747).

Al-khalifât dengan fathahnya khâ' mu'jamah dan kasrahnya lâm adalah jamaknya khalifatun yang artinya ialah unta yang hamil.

Penjelasan: Hadist ini sebagai bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa planet-planer itu tidak berubah-ubah. Mahasuci Allah, siapakah yang menciptakan planet-planet ini? Sungguh Allah 'Azza wa Jalla yang telah menciptakannya, maka yang menciptakannya sudah tentu bisa mengubah-ubahnya. Namun, mereka berpendapat bahwa semua planet yang ada di angkasa beredar pada porosnya secara alami, tidak ada campur tangan dari manapun. Dan kita berlindung kepada Allah karena mereka sudah mengingkari sang Maha Pencipta. Hadist ini juga sebagai dalil tentang kekuasaan Allah mendatangkan api yang tidak diketahui dari mana datangnya, bahkan langsung diturunkan dari langit, bukan berasal dari pepohonan di muka bumi, bukan pula dari kayu bakar yang ada di bumi. Api itu datang dari langit atas titah Allah.

6/59. Abu Khalid Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Dua orang yang berjual beli (penjual dan pembeli) masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Apabila keduanya bersikap jujur dan berterus terang, maka keduanya akan mendapatkan berkah dalam transaksi jual belinya. Namun, bila keduanya saling menutup-nutupi dan berdusta, maka lenyaplah keberkahan dalam transaksi jual-beli mereka berdua." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 2079 dan Muslim: 1532)

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat penjelasan bahwa dasar dari jual beli dari kedua belah pihak adalah kejujuran, karena dengan kejujuran dari kedua belah pihak akan mendatangkan berkah bagi keduanya dalam transaksi jual-beli mereka. Jika salah satunya berbuat jahat atau dusta, maka itu akan menghilangkan berkah dari jual beli.
Bab Sabar

Bab Sabar


Penjelasan: Kesabaran balasannya berlipat ganda tanpa batas dari sisi Allah 'Azza wa Jalla, dan ini menunjukkan bahwa pahalanya sangat besar. Manusia tidak akan mungkin dapat menggambarkan betapa besarnya pahala ini, karena tidak dapat dihitung dengan angka. Bahkan, ini merupakan perkara yang diketahui Allah dan tidak ada hitungan padanya.

Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu..." (QS. Ali 'Imran [3]: 200)

Allah berfirman:

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Allah berfirman:

"...Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar [39]: 10)

Allah berfirman:

"Tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Asy-Syura [42]: 43)

Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 153)

Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu..." (QS. Muhammad [47]: 31)

Ayat-ayat yang mengandung perintah untuk bersabar dan yang menerangkan keutamaan sabar itu banyak sekali yang sudah diketahui.

1/25. Abu Malik al-Harits bin 'Ashim Al-Asy'ari radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Bersuci adalah sebagian dari iman dan (bacaan) alhamdulillah itu memenuhi timbangan, (bacaan) subhanallah dan alhamdulillah itu keduanya memenuhi apa-apa yang ada di antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah sebagai bukti, sabar merupakan cahaya, Al-Qur'an adalah merupakan hujjah (pembela) untukmu atau sebagai hujjah (pemberat) bagimu. Setiap orang berangkat menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya dan ada yang menghancurkan dirinya." (HR. Muslim Bab Thaharah no. 223)

Penjelasan: Hadist ini menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengelompokkan orang menjadi beberapa bagian. Sekelompok menjadikan al-Qur'an sebagai hujjah (penggugat) bagi mereka. Dan sekelompok yang lain adalah orang-orang yang memerdekakan diri mereka dengan amalan mereka yang shaleh, dan sekelompok lainnya adalah orang-orang yang menghancurkan diri mereka dengan amalan mereka yang jelek.

2/26. Dari Abu Sa'id Sa'ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri bahwa ada beberapa orang dari kaum Anshar meminta (sedekah) kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau memberikan sesuatu pada mereka. Kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya lagi sehingga habislah harta yang ada di sisi beliau. Ketika beliau memberikan setiap sesuatunya dengan tangannya, beliau sembari bersabda kepada mereka, "Apa saja berupa kebaikan yang ada di sisiku, maka sekali-kali tidak akan aku sembunyikan dari kalian. Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaga kehormatan dirinya. Dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup, maka Allah akan mencukupinya. Dan barangsiapa yang berlaku sabar, maka Allah akan membuatnya sabar. Tiada seorang pun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 1469 dan Muslim: 1053)

Penjelasan: Sesungguhnya bagi seorang hamba muslim apabila Allah menganugrahkan kesabaran padanya, maka itu merupakan sebaik-baik pemberian adri apa yang diberikan bagi seorang manusia, dan sesuatu yang paling luas dari apa yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, ia senantiasa merasakan ketenangan hati dan ketenangan jiwa.

3/27. Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sangat mengagumkan sekali keadaan seorang mukmin itu. Semua keadaanya itu merupakan kebaikan baginya, dan yang demikian itu hanya bagi seorang mukmin. Apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa oleh kesulitan (musibah), ia pun bersabar dan hal ini pun merupakan kebaikan baginya." (HR. Muslim: 64/2999)

Penjelasan: Hadist ini mengandung beberapa faedah, diantaranya mengajarkan keimanan bahwa seorang mukmin senantiasa ada dalam kebaikan dan kenikmatan, mengajarkan untuk bersabar atas setiap kesulitan kerena itu bagian seorang mukmin, dan juga mengajarkan untuk senantiasa bersyukur ketika mendapat kebahagiaan. Karena, syukur itu merupakan bagian dari sebab bertambahnya kenikmatan.

4/28. Anas radhiyallahu anhu berkata, "Ketika sakit Nabi shallallahu alaihi wasallam sudah semakin parah, maka beliau pun diliputi oleh kedukaan (menghadapi sakaratul maut). Kemudian Fathimah radhiyallahu anha berkata, 'Kesukaran yang dihadapi ayahanda.' Lalu beliau bersabda, 'Ayahmu tidak akan memperoleh kesulitan lagi sesudah hari ini.' Selanjutnya  setelah beliau wafat, Fathimah radhiyallahu anha berkata, 'Wahai ayahku yang telah memenuhi panggilan Rabbnya. Wahai ayahku, surga Firdaus adalah tempat kediamannya. Wahai ayahku, kepada Jibril kami sampaikan berita wafatnya.'

Kemudian setelah beliau dikebumikan, Fathimah radhiyallahu anha berkata pula, 'Apakah hati kalian semua merasa tenang dengan menyebarkan tanah di atas makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu?'" (HR. Al-Bukhari: 4462)

Penjelasan: Hadist ini menjelaskan bahwa tidak mengapa seseorang mengeluh selama ia tidak mengundang amarah Allah 'Azza wa Jalla. Fathimah mengeluh ketika melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tetapi tidak berlebihan dan tidak menunjukkan penolakannya atas takdir dari Allah 'Azza wa Jalla.

5/29. Abu Zaid Usama bin Zaid bin Haritsah, pelayan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kekasih dan anak kekasih beliau berkata, "Salah seorang putri Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus seseorang untuk memberitahu kepada beliau bahaw anaknya sedang sakaratul maut. Maka kami diminta untuk datang, kemudian beliau hanya mengirimkan salam, seraya bersabda, 'Menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi. Dan segala sesuatunya telah ditentukan di sisi-Nya, maka hendaklah kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah.' Kemudian putri beliau mengirimkan berita kembali kepada beliau yang disertai sumpah agar beliau berkenan untuk hadir.

Maka berdirilah beliau disertai Sa'ad bin 'Ubadah, Mu'adz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, dan beberapa shahabat yang lain. Maka diberikan anak yang sakit itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan didudukkan di pangkuan beliau, sedangkan nafasnya tersengal-sengal. Yang terjadi kemudian, meneteslah air mata beliau. Melihat hal itu, Sa'ad bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah ini?' Beliau menjawab, 'Tetesan air mata ini adalah rahmat yang dikaruniakan Allah Ta'ala ke dalam hati para hamba-Nya'."

Dalam riwayat lain disebutkan, "Ke dalam hati hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang mempunyai rasa sayang." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 1248 dan Muslim: 923)

Makna taqa'qa'u ialah bergerak dan bergoyang.

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bolehnya menangis sebagai bentuk kasih sayang pada yang terkena musibah dan wajibnya bersabar sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Selain itu, ta'ziyah (mengunjungi yang terkena musibah) adalah sebagai bentuk penghibur dan memberikan kekuatan baginya untuk bersabar.

6/30. Dari Shuhaib radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Dahulu ada seorang raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai seorang ahli sihir. Setelah penyihir itu tua, ia berkata kepada raja, 'Sesungguhnya aku ini telah tua, maka kirimkanlah padaku seorang anak yang akan aku turunkan ilmu sihirku.' Kemudian raja itu mengirimkan padanya seorang anak untuk diajarinya. Anak ini di tengah perjalanannya apabila bertemu dengan seseorang rahib, ia pun duduk padanya dan mendengarkan nasihat-nasihatnya. Apabila ia telah datang di tempat penyihir, ia pun melalui tempat rahib tadi dan kemudian ia duduk padanya. Maka apabila datang di tempat penyihir, ia pun dipukul olehnya. Hal yang demikian itu diadukan oleh anak itu kepada rahib, lalu rahib berkata, 'Jika engkau takut pada penyihir itu, katakanlah bahwa engkau ditahan oleh keluargamu. Dan jika engkau takut pada keluargamu, maka katakanlah bahwa engkau ditahan oleh penyihir.'

Pada suatu ketika di waktu ia dalam keadaan yang demikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang yang besar yang menghalangi orang banyak (di jalan yang dilalui mereka). Anak itu lalu berkata, 'Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah rahib itu yang lebih baik.' Ia pun mengambil sebuah batu kemudian berkata, 'Ya Allah, apabila perkara rahib itu lebih dicintai di sisi-Mu daripada perkara penyihir itu, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.' Selanjutnya batu itu dilemparkan kepada binatang, kemudian binatang itu pun terbunuh sehingga orang-orang bisa berlalu.

Ia lalu mendatangi rahib dan memberitahukan hal tersebut. Rahib itu pun berkata, 'Hai anakku, engkau sekarang lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkat sesuai apa yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar demikian, janganlah menyebut namaku.'

Lalu anak itu dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra serta dapat mengobati orang banyak dari segala macam penyakit. Maka hal demikian itu didengar oleh sahabat karib raja yang telah menjadi buta. Ia pun datang pada anak itu dengan membawa hadiah yang banyak jumlahnya, lalu ia berkata, 'Apa saja yang ada di sisimu ini menjadi milikmu, apabila engkau dapat menyembuhkan aku.' Anak itu berkata, 'Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapapun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkannya. Maka jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada Allah semoga Dia menyembuhkan engkau.'

Sahabat raja itu lalu beriman kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkannya. Kemudian, ia mendatangi raja lalu duduk di dekatnya sebagaimana duduknya yang seperti biasa. Raja kemudian bertanya, 'Siapakah yang mengembalikan penglihatanmu itu?' Ia menjawab, 'Rabbku.' Raja bertanya, 'Apakah engkau mempunyai Rabb selain aku?' Ia menjawab, 'Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.' Maka ia pun ditindak oleh raja itu dan menyiksa terus-menerus, sehingga ia pun menunjuk kepada anak yang menyebabkan kesembuhannya. Anak itu pun didatangkan. Raja berkata padanya, 'Hai anakku, kiranya sihirmu sudah sampai ke tingkat dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit lepra dan engkau dapat melakukan ini dan dapat pula melakukan itu.' Anak itu berkata, 'Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Allah yang menyembuhkannya.'
Maka anak itu pun ditindak dan disiksa secara terus-menerus sehingga anak itu pun menunjuk kepada sang rahib. Maka rahib pun didatangkan, kemudian kepadanya dikatakan, 'Kembalilah dari agamamu!' Pendeta itu enggan (menolak perintah raja). Lalu raja meminta supaya diambilkan gergaji, kemudian diletakkanlah gergaji itu di tengah kepalanya. Kemudian dia membelahnya hingga jatuhlah kedia belahan kepala tersebut. Selanjutnya didatangkan pula sahabat karib raja tadi, lalu raja berkata, 'Kembalilah dari agamamu!' Ia pun enggan (menolak perintah raja). Kemudian diletakkan pula gergaji itu di tengah kepalanya lalu membelahnya, sehingga jatuhlah kedua belahan kepalanya.
Selanjutnya didatangkan pula anak itu. Kepadanya dikatakan, 'Kembalilah dari agamamu!' Ia pun enggan (menolak ajakan raja). Kemudian anak itu diserahkan kepada sekelompok sahabatnya (tentaranya) lalu berkata, 'Pergilah bawa anak ini ke gunung ini atau itu, naiklah dengannya ke gunung itu. Jika engkau semua telah sampai di puncaknya, maka apabila anak ini kembali dari agamanya, lepaskanlah. Namun, jika tidak maka lemparkanlah ia dari atas gunung itu.'
Sahabat-sahabatnya itu pergi membawanya, kemudian menaiki gunung. Anak itu pun berdoa, 'Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakmu.' Kemudian gunung itu pun bergoncang keras dan mereka semuanya jatuh. Anak itu lalu datang berjalan menuju tempat raja. Maka raja berkata kepadanya, 'Apa yang dilakukan oleh kawan-kawanmu?' Ia menjawab, 'Allah Ta'ala telah mencukupiku dari tindakan mereka.' Lalu anak tersebut pun kemudian diserahkan kepada sekelompok sahabat-sahabatnya yang lain lagi dan berkata, 'Pergilah dengan membawa anak ini dalam sebuah sampan dan berlayarlah sampai di tengah lautan. Jika ia kembali dari agamanya (maka lepaskanlah ia). Tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ke lautan itu.'

Orang-orang pun pergi membawanya, lalu anak itu berdoa, 'Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendak-Mu.' Tiba-tiba sampan itu berbalik, maka tenggelamlah mereka semua. Dan anak itu datang berjalan ke tempat raja. Raja pun berkata, 'Apakah yang dikerjakan oleh kawan-kawanmu?' Ia menjawab, 'Allah Ta'ala telah mencukupiku dari tindakan mereka.' Selanjutnya ia pun berkata pada raja, 'Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku, hingga engkau bersedia melakukan apa yang aku perintahkan.' Raja bertanya, 'Apakah itu?' Ia menjawab, 'Engkau kumpulkan semua orang di lapangan luas, lalu saliblah aku di atas sebuah pelapah. Kemudian ambillah sebatang anak panah dari tempat panahku, lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya dan ucapkanlah, "Dengan nama Allah, Rabb anak ini.' Setelah itu, lesakkanlah anak panah itu. Apabila engkau mengerjakan semua itu, tentu engkau dapat membunuhku.'

Maka raja pun mengumpulkan semua orang di suatu padang luas. Lalu anak itu disalib pada sebuah pelepah, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya. Setelah itu, dia meletakkan anak panah di busur, lalu mengucapkan, 'Dengan nama Allah, Rabb anak ini.'

Anak panah pun dilesakkan dan tepat mengenai pelipis anak tersebut. Anak itu meletakkan tangannya di pelipisnya, kemudian meninggal dunia. Maka orang-orang pun berkata, 'Kami semua beriman kepada Rabb anak ini.' Raja pun didatangi dan kepadanya dikatakan, 'Apakah tuan mengetahui apa yang selama ini tuan takutkan? Benar-benar demi Allah, apa yang tuan takutkan itu telah tiba. Orang-orang semuanya telah beriman.'

Maka raja memerintahkan supaya membuat parit besar di jalanan lalu dinyalakan api di dalamnya. Ia berkata, 'Barangsiapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.' Atau dikatakan, 'Masuklah ke dalamnya.'

Mereka pun melakukannya sehingga datanglah seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini agaknya berhenti dan ketakutan. Dan tiba-tiba bayinya berkata, 'Hai ibunda, bersabarlah, karena sesungguhnya ibu berada di atas kebenaran'." (HR. Muslim: 73/3005)

Dzirwatul jabal artinya puncak gunung. Ini boleh dibaca dengan kasrahnya dzal mu'jamah atau dhammahnya. Al-qurqûr, dibaca dengan didhammahkan kedua qafnya, adalah salah satu jenis sampan. Ash-sha'îd artinya bumi yang menonjol (bukit). Al-Ukhdûd ialah beberapa belahan di bumi seperti sungai kecil. Udhrima artinya menyalakan. Inkafa'at artinya berubah. Taqâ'asat artinya terhenti atau tidak berani maju dan merasa ketakutan.

Penjelasan: sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mengabulkan doa orang-orang yang berada dalam kesulitan, apabila seorang manusia berdoa kepada Rabbnya ketika ia dalam keadaa sulit (bahaya) dan ia yakin bahwa Allah akan mengabulkannya, maka sungguh Allah akan mengabulkan doanya, sehingga orang-orang kafir pun jika mereka berdoa kepada Allah ketika dalam keadaan sulit, maka Allah akan mengabulkan doa mereka.

7/31. Anas radhiyallahu anhu berkata, "Nabi shallallahu alaihi wasallam berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di atas sebuah kuburan. Beliau bersabda, 'Bertakwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.' Wanita itu berkata, 'Menjauhlah dariku, karena engkau tidak terkena musibah sebagaimana musibah yang menimpa diriku dan engkau tidak mengetahui musibah apa itu.' Lalu diberitahukan pada wanita tersebut bahwa yang diajak bicara tadi adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Wanita itu pun mendatangi rumah Nabi shallallahu alaihi wasallam  hingga di muka pintu dan di depan rumahnya tidak didapatinya para penjaga pintu. Wanita itu lalu berkata, 'Saya tadi tidak mengenalmu.' Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya kesabaran itu hanyalah saat pertama kali musibah terjadi'." (Muttafaqun 'alaih. HR. Al-Bukhâri: 1283)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Wanita itu menangisi anaknya (yang meninggal)."

Penjelasan: Faedah yang terkandung  dalam hadist ini adalah bahwa seorang manusia termaafkan karena ketidaktahuan. Apakah ketidaktahuannya terhadap hukum syara' atau karena keadaan, sebagaimana yang dilakukan oleh wanita di atas terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Selain itu, bahwa kesabaran yang terpuji bagi orang yang bersabar ketika mendapatkan musibah yang pertama, dan menangis di kuburan menunjukkan bahwa ia tidak sabar.

8/32. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, 'Tidak ada balasan bagi seseorang hamba-Ku yang mukmin di sisi-Ku, di waktu Aku mengambil (mematikan) kekasihnya dari ahli dunia, kemudian ia mengharapkan keridhaan Allah, melainkan orang itu akan mendapatkan surga'." (HR. Al-Bukhâri: 6424).

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil tentang keutamaan sabar atas orang yang diambil kekasihnya di dunia, dan bahwa Allah 'Azza wa Jalla akan memberikan pahala surga kepada orang yang mengharapkan keridhaan Allah. Selain itu, hadist ini sebagai dalil akan karunia Allah dan kemuliaan-Nya kepada setiap hamba-Nya, karena sesungguhnya itu adalah milik-Nya dan segala urusan itu adalah kehendak-Nya.

9/33. Dari 'Aisyah radhiyallahu anha bahwa ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Perihal tha'un (wabah penyakit), lalu beliau menjelaskannya bahwa sesungguhnya tha'un itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, dan juga sebagai rahmat yang dijadikan oleh Allah Ta'ala kepada kaum mukminin. Maka tidaklah seorang hamba yang tertimpa tha'un, kemudian ia menetap di negerinya dengan sabar dan mengharapka keridhaan Allah serta mengetahui pula bahwa tha'un itu tidak akan menimpanya kecuali karena telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan mendapatkan seperti pahala orang yang mati syahid. (HR. Al-Bukhâri: 5734).

10/34. Anas radhiyallahu anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Apabila aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya, kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.' (Dua kekasihnya) yang dimaksud adalah kedua matanya (penglihatan)." (HR. Al-Bukhari: 5653).

Penjelasan: (Hadist no 33 dan 34): Sesungguhnya seorang hamba yang muslim apabila ia bersabar, menetap, dan mengharapkan keridhaan Allah atas wabah penyakit yang menimpanya, dan dia mengetahui bahwa penyakit itu tidak akan menimpanya kecuali karena telah ditetapkan oleh Allah sampai ia meninggal, maka ditetapkan baginya seperti pahala orang yang mati syahid. Ini merupakan karunia dari Allah 'Azza wa Jalla. Dan sesungguhnya Allah apabila mengambil satu dari kedua mata seorang hamba, kemudian ia sabar dan mengharapkan ridha Allah, maka sesungguhnya Allah akan menggantikannya dengan surga.

11/35. 'Atha' bin Abu Rabah meriwayatkan, "Ibnu 'Abbas berkata kepadaku, "Maukah kutunjukkan seorang wanita yang termasuk ahli surga?" Aku menjawab, "Ya." Ia berkata, "Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu mengadu, 'Sesungguhnya saya mempunyai penyakit ayan, dan aurat saya terbuka karenanya. Oleh karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar saya diberi kesembuhan.' Beliau bersabda, 'Apabila kamu mau bersabar maka bagimu surga, dan apabila kamu mau, saya pun akan berdoa kepada Allah agar engkau diberi kesembuhan.' Wanita itu menjawab, 'Saya akan bersabar.' Kemudian wanita itu berkata lagi, 'Sesungguhnya aurat saya terbuka karenanya, maka mohonkanlah kepada Allah agar aurat saya tidak terbuka.' Maka beliau pun berdoa untuknya." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 5652)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil akan keutamaan sabar dan bahwa sabar itu salah satu sebab masuk surga. Hal itu terbukti ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Apabila kamu mau bersabar maka bagimu surga."

12/36. Abu 'Abdurrahman 'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Seakan-akan saya masih melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sewaktu menceritakan salah seorang nabi dari para nabi, semoga shalawat Allah atas mereka. Ketika nabi itu dipukuli kaumnya sehingga berlumuran darah, dan ia mengusap darah dari wajahnya sambil berdoa, 'Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 3477 dan Muslim: 1792).

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa kesabaran para Nabi dalam menjalankan dakwah agar kembali kepada Allah, merupakan sebagai pelajaran bagi kita agar kita bisa bersabar dalam menghadapi cobaan ketika berada di jalan Allah, apakah itu berupa perkataan atau perbuatan.

13/37. Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, penyakit, kegundahaan, kesedihan, kesakitan, maupun duka cita, sampai duri pun yang menusuknya, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 2541, 5642 dan Muslim: 52/2573).
Al-washab artinya adalah penyakit.

14/38. Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata, "Saya masuk ke tempat Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sedang sakit demam. Kemudian saya berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar menderita demam yang sangat tinggi.' Beliau memberitahukan, 'Benar, sakit panas yang saya derita ini dua kali lipat lebih panas dari yang biasa diderita kalian.' Saya bertanya, 'Kalau begitu, engkau mendapat pahala dua kali lipat?' Beliau menjawab, 'Benar, memang demikianlah keadannya. Dan tidaklah seorang muslim yang tertimpa suatu penyakit, baik itu tertusuk duri maupun lebih dari itu, melainkan Allah menghapus kesalahan-kesalahannya dan mengugurkan dosa-dosanya sebagaimana pepohonan yang menggugurkan daun-daunanya'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 5648 dan Muslim: 45/2571)

Al-wa'ku yaitu sangat panas (dalam tubuh karena sakit). Dan dikatakan, panas badan (demam).

Penjelasan: (Hadist no 37 dan 38): menjelaskan bahwa seorang hamba apabila terkena musibah walaupun tertusuk duri, hendaknya dia ingat dan mengharap ridha Allah atas musibah yang menimpanya. Apabila seorang hamba ditimpa musibah dan ia semakin bersabar dan mengharap pahala dari Allah, maka baginya pahala atas usahanya untuk bersabar. Dan ini semua merupakan karunia dari Allah ketika menguji seorang hamba yang beriman, kemudian Dia akan menghapus segala kejelekannya.

15/39. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya satu kebaikan, maka Allah akan memberikan musibah padanya." (HR. Al-Bukhâri: 5645)

Wadhbathu (yushib), boleh dibaca dengan difathah dan dikasrah (huruf) shad-nya (yushib/yushab).

16/40. Anas radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kalian menginginkan mati karena suatu bahaya yang menimpanya. Tetapi seandainya ia terpaksa harus berbuat demikian, maka ucapkanlah: 'Ya Allah, biarkanlah aku hidup jika hidup itu lebih baik untukku dan matikanlah aku apabila kematian itu merupakan kebaikan untukku'." (Muttafaqun 'Alaih. HR. Al-Bukhâri: 5671 dan Muslim: 10/2680)

Penjelasan: (Hadist no 39 dan 40): Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan tentang pahala sabar dan pahala mengharapkan ridha dari Allah dan bahwa seorang hamba harus bersabar dan menerima. Sesungguhnya orang yang diuji dengan berbagai musibah maka itu merupakan kebaikan baginya, karena musibah itu dapat menghapus dosa-dosa dan menghapus setiap kesalahan.

17/41. Abu 'Abdullah Khabbab bin al-Aratti radhiyallahu anhu berkata, "Kami mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau berbantalkan pakaian burdahnya di bawah naungan Ka'bah. Kami berkata, 'Mengapa engkau tidak memohonkan pertolongan kepada kami? Dan mengapa engkau tidak berdoa memohon kepada Allah untuk kami?' Beliau lalu bersabda, 'Pernah terjadi terhadap orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang ditangkap kemudian digalikanlah tanah untuknya dan ia diletakkan di dalam tanah tadi. Selanjutnya, didatangkanlah sebuah gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya, kemudian kepalanya itu dibelah menjadi dua bagian, dan disisir dengan sisir yang terbuat dari besi yang membuat terkelupas daging dan tulangnya. Semua siksaan itu tidak memalingkan dia dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan perkara ini (Islam), sehingga seseorang yang berkendaraan yang berjalan dari Shan'a ke Hadhramaut tidak ada yang ditakuti melainkan Allah atau karena takut pada serigala atas kambingnya. Namun, kalian semua sangat tergesa-gesa'." (HR. Al-Bukhari: 2943, 3852)

Dalam riwayat lain diterangkan, "Beliau saat itu sedang berbantal burdahnya, sungguh kita telah mendapat kesulitan besar dari kaum musyrikin."

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil wajibnya sabar atas celaan dari musuh kaum muslimin dan apabila seorang hamba bisa sabar, maka ia beruntung. Allah 'Azza wa Jalla sesungguhnya menguji orang-orang yang beriman atas orang-orang kafir, dimana mereka melukai dan bahkan membunuh mereka, sebagaimana mereka membunuh para nabi. Maka wajib bagi seorang hamba untuk menerima atas tindakan kaum kafir dengan jalan sabar dan mengharapkan ridha dari Allah dan menanti kemenangan.

18/42. Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata, "Suatu hari pada peperangan Hunain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihkan (mengutamakan) beberapa orang dalam pembagian (harta rampasan), lalu beliau memberikan kepada Al-Aqra' bin Habis seratus ekor unta dan memberikan kepada 'Uyainah bin Hishn seperti itu pula (seratus ekor unta). Beliau juga memberikan kepada orang-orang yang termasuk bangsawan Arab dan mengutamakan cara pembagian kepada mereka tadi. Kemudian ada seorang lelaki berkata, 'Demi Allah, pembagian seperti ini sama sekali tidak adil, dan sepertinya tidak mengharapkan keridhaan Allah.' Kemudian berkata, 'Demi Allah, hal ini akan saya beritahukan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.'
Saya pun mendatanginya lalu menceritakan kepadanya tentang apa yang dikatakan oleh orang itu. Maka berubahlah warna wajah beliau sehingga menjadi semacam kesumba merah (karena marah), lalu bersabda, 'Siapakah yang dapat dinamakan adil, jika Allah dan Rasul-Nya dianggap tidak adil juga?' Kemudian beliau bersabda, 'Semoga Allah senantiasa merahmati Nabi Musa. Ia telah disakiti dengan cara yang lebih parah dari ini, tetapi ia tetap sabar.' Saya berkata, 'Semestinya saya tidak memberitahukan dan tidak akan mengadukan lagi sesuatu pembicaraan pun setelah peristiwa itu.' (Muttafaqun 'alaih. HR. Al-Bukhari: 3150 dan Muslim: 1062)

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam Kashshirfi dengan kasrahnya shad muhmalah, artinya kesumba merah.

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa seorang imam harus memperhatikan maslahat dalam pembagian sesuatu walaupun dalam pembagiannya itu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, jika di sana ada maslahat karena Islam. Bukan karena kepentingan pribadi atau dia memberi kepada orang yang disayang dan tidak memberi pada orang yang ia benci. Hadist ini juga sebagai dalil bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengambil pelajaran dari para rasul terdahulu.

19/43. Anas radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, maka Dia mempercepat suatu siksaan (penderitaan) di dunia. Namun, bila Allah menghendaki kejelekan pada seorang hamba-Nya, maka orang itu dibiarkan saja dengan dosanya sehingga nanti akan dipenuhkan balasan (siksaannya) pada hari kiamat."

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya besarnya balasan (pahala) itu dilihat dari besarnya cobaan dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai suatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu, barangsiapa yang ridha, ia akan mendapatkan keridhaan dari Allah. Dan barangsiapa yang murka maka ia mendapatkan kemurkaan Allah." (HR. At-Tirmidzi: 2396 dan ia mengatakan bahwa ini hadist hasan.)

Penjelasan: Hadist ini menjelaskan tentang kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwa apabila seorang muslim diuji dengan sebuah musibah, lalu ia tidak berburuk sangka bahwa Allah membencinya. Bahkan, musibah ini terkadang sebagai bentuk kecintaan Allah kepada seorang hamba, dimana Dia akan mengujinya dengan berbagai musibah. Maka apabila seorang hamba itu ridha, sabar, dan mengharap keridhaan Allah, maka baginya keridhaan. Adapun bila ia murka, baginya murka Allah.

20/44. Anas radhiyallahu anhu berkata, "Abu Thalhah mempunyai seorang putra yang sedang menderita sakit. Ketika Abu Thalhah keluar (pergi keluar rumah), anaknya pun meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah kembali, ia bertanya, 'Bagaimanakah keadaan anakku?' Ummu Sulaim (ibu anak tersebut) menjawab, 'Ia dalam keadaan lebih tenang dari sebelumnya.' Istrinya (Ummu Sulaim) kemudian menyiapkan makan malam untuknya kemudian Abu Thalhah pun makan malam, selanjutnya ia pun menggauli istrinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata, 'Anak itu telah dimakamkan.'

Tatkala pagi telah tiba, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu memberitahukan kejadian tersebut, Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Apakah kalian tadi malam menjadi pengantin?' Abu Thalhah menjawab, 'Ya.' Beliau lalu berdoa, 'Ya Allah, berkahilah mereka berdua.'

Selanjutnya Ummu Sulaim pun melahirkan seorang anak lelaki. Abu Thalhah lalu berkata padaku (Anas radhiyallahu anhu), 'Bawalah anak ini kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.' Dan disertakanlah bersamanya beberapa biji buah kurma. Maka beliau bersaba, 'Adakah besertanya sesuatu?' Ia (Anas) menjawab, 'Ya. Ada beberapa biji buah kurma.' Lalu buah kurma itu diambil oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam lantas mengunyahnya, kemudian beliau mengambil kunyahan dari mulutnya, selanjutnya memasukkannya ke dalam mulut bayi tersebut. Setelah itu, digosokkanya di langit-langit mulutnya dan memberinya nama Abdullah." (Muttafaqun 'alaihi. HR-Al-Bukhari: 5407 dan Muslim: 2144)

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, Ibnu 'Uyainah berkata, "Maka seorang lelaki dari Anshar berkata, 'Lalu saya melihat sembilan anak laki-laki yang semuanya para pembaca (penghafal) al-Qur'an. Semuanya adalah anak-anak 'Abdullah yang dilahirkan tersebut'."

Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, lalu istrinya berkata kepada keluarganya, 'Janganlah kalian memberitahukan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya. Biar aku sendiri yang akan memberitahukan kepadanya.' Abu Thalhah kemudian datang dan Ummu Sulaim menyiapkan makan malam untuknya dan Abu Thalhah pun makan dan minum. Selanjutnya Ummu Sulaim berhias untuknya dengan dandanan paling indah dari dandanan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Lalu Abu Thalhah menggaulinya.

Sewaktu istrinya telah mengetahui vahwa suaminya telah kenyang dan selesai dari hasratnya, ia oun verkata kepada Abu Thalhah, 'Bagaimanakah pendapatmu jika suatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembali apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya kepada yang meminjaminya?' Abu Thalhah menjawab, 'Tidak boleh.' Kemudian istrinya pun berkata, 'Jika demikian, bersabarlah dan harapkanlah pahala terhadap (kematian) anakmu.'

Abu Thalhah lalu marah kemudian berkata, 'Engkau biarkan aku tidak mengetahui hingga berlumuran janabah, lalu engkau beritahukan perihal anakku itu padaku?' Ia pun kemudian begegas ke tempat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengadukan segala sesuatu yang telah terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, 'Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu'."

Ia (Anas radhiyallahu anhu) berkata, "Kemudian Ummu Sulaim pun hamil. Anas radhiyallahu anhu kemudian berkata, 'Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang bepergian dan Ummu Sulaim menyertainya. Apabila beliau datang di Madinah di waktu malam dari bepergian, beliau tidak pernah mendatangi rumah keluarganya malam-malam. Ummu Sulaim tiba-tiba merasa sakit karena hendak melahirkan, maka oleh karenanya Abu Thalhah tertahan dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terus berangkat'."

Anas berkata, "Abu Thalhah berkata, 'Sesungguhnya Engkau tentulah Maha Mengetahui, ya Rabbku bahwa saya ini sangat ingin sekali untuk keluar berpergian bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di waktu beliau keluar berpergian, dan untuk masuk bersama beliau di waktu beliau masuk. Sesungguhnya saya telah tertahan pada saat ini dengan sebab sebagaimana yang Engkau ketahui.' Ummu Sulaim lalu berkata, 'Hai Abu Thalhah, saya tidak merasakan sakitnya hendak melahirkan sebagaimana yang biasanya saya rasakan  (hendak melahirkan). Maka, berangkatlah.' Maka, kami pun berangkat. Ummu Sulaim sebenarnya memang merasakan sakit hendak melahirkan. Oleh karena itu, ketika keduanya telah tiba, lalu Ummu Sulaim pun melahirkan seorang anak lelaki. Maka ibuku (ibu Anas radhiyallahu anhu) berkata padaku, 'Hai Anas, janganlah anak itu disusui oleh siapapun hingga engkau berpagi-pagi membawa anak itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan selanjutnya saya menceritakan hadist ini sampai selesai."

Penjelasan: Hadist ini mengandung beberapa faedah, di antaranya air liur Nabi shallallahu alaihi wasallam mengandung berkah dan para shahabat biasanya mencari berkah dari air liur beliau. Para shahabat juga apabila melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam berwudhu untuk shalat, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan sisa air wudhunya. Selain itu, dari kurma yang ditahnikkan oleh Rasulullah yang mulia kepada bayi, bahwa kurma itu mengandung kebaikan dan berkah, serta mengandung manfaat untuk pencernaan. (HR. Al-Bukhari: 5407 dan Muslim: 2144)

21/45. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Orang yang kuat itu bukanlah orang yang pandai berkelahi. Orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika sedang marah." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 6114 dan Muslim: 107/2609)

Ash-shura'ah dengan dhammahnya shad dan fathahnya ra', menurut asalnya menurut bangsa Arab adalah orang yang sering berkelahi dengan orang lain.

22/46. Sulaiman bin Shurad radhiyallahu anhu berkata, "Saya duduk bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam dan di sana ada dua orang laki-laki yang saling memaki. Salah seorang dari keduanya telah merah mukanya dan membesarlah urat lehernya. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya saya mengetahui suatu kalimat yang apabila kalimat itu dibaca, niscaya hilanglah apa yang terjadi, yaitu apabila ia membaca a'udzu billahi minasy syaithanir rajim, niscaya hilanglah apa yang sedang terjadi.' Lalu mereka berkata padanya, 'Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 6115 dan Muslim: 110/2610)

Penjelasan: (Hadist no 45 dan 46) Dalam hadist ini (terdapat) anjuran bagi seorang hamba hendaknya ia mengendalikan dirinya ketika marah dan ia tidak bisa menahan amarahnya, maka sungguh ia akan menyesal setelah marah. Dan kebanyakan orang yang marah itu suka menghambur-hamburkan hartanya, apakah itu dengan membakar atau menghancurkannya.

23/47. Dari Mu'adz bin Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah 'Azza wa Jalla menyerunya di hadapan kepala (disaksikan) seluruh makhluk pada hari kiamat, sehingga orang itu memilih bidadari cantik dengan sesuka hatinya." (HR. Abu Daud: 4777 dan At-Tirmidzi: 2021. At-Tirmidzi mengatakan, hadist hasan. Al-Albani menghasankannya)

24/48. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, "Berilah wasiat padaku." Beliau bersabda, "Jangan marah." Orang itu mengulanginya berkali-kali tetapi beliau tetap bersabda, "Jangan marah." (HR. Al-Bukhari: 6116)

25/49. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, senantiasa mendapat cobaan baik dari dirinya, anaknya, maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah tanpa membawa dosa sedikitpun." (HR. At-Tirmidzi: 2399 dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadist hasan shahih. Al-Albani menshahihkannya)

Penjelasan: (Hadist no. 47, 48, dan 49) Dalam hadist ini sebagai dalil atas keutamaan sabar, dan bahwa seorang hamba apabila bersabar dan mengharap pahala dari Allah, maka Allah akan menghapus semua kesalahannya. Karena, musibah yang menimpa pada diri, anak, dan harta merupakan sebagai penghapus dosa bagi seorang hamba.

26/50. Ibnu 'Abbas berkata, "Ketika 'Uyainah bin Hishn datang kemudian menginap di tempat anak saudara sepupunya, yaitu Al-Hurr bin Qais, ia merupakan salah seorang yang dekat dengan Umar radhiyallahu anhu. Dan Umar radhiyallahu anhu mengangkat orang-orang yang pandai membaca al-Qur'an sebagai kawan dan bermusyawarah dalam majelisnya, baik yang tua maupun yang masih muda usianya. 'Uyainah berkata kepada sepupunya, 'Hai anak saudaraku, kamu adalah orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintakan izin padanya agar aku dapat menemuinya.' Kemudian saudaranya itu memintakan izin dan Umar pun mengizinkannya. Ketika 'Uyainah masuk, ia berkata, 'Wahai putra Al-Khaththab, demi Allah engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan engkau tidak adil dalam mengadili kami.'

Maka marahlah Umar radhiyallahu anhu sehingga hampir saja ia dipukulinya. Kemudian Al-Hurr berkata kepada Umar, 'Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, 'Berikanlah maaf, perintahlah untuk berbuat baik, dan jangan menghiraukan orang-orang yang bodoh.' (QS. Al-A'râf [7]: 19). Dan sebenarnya orang ini adalah termasuk golongan orang-orang yang bodoh.' Demi Allah, ketika ayat ini dibacakan, Umar seakan-akan belum pernah mendengarnya, padahal Umar adalah orang yang sangat teliti terhadap kitab Allah Ta'ala." (HR. Al-Bukhâri: 4642)

Penjelasan: Faedah dari hadist ini bahwa seorang muslim itu mampu mengendalikan dirinya ketika marah, dan hendaknya ia membaca Kitabullah dan ayat-ayatnya. Selain itu, hendaknya ia memaafkan atas ketidaktahuan mereka dan membiarkan mereka selama penentangannya tidak menghinakan dan tidak berkhianat.

27/51. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya sepeninggalku nanti akan ada sifat-sifat (para pemimpin) yang hanya mementingkan dirinya sendiri (egois) dan beberapa perkara yang kalian akan mengingkarinya." Para shahabat berkata, "Wahai Rasulullah, apakah yang engkau perintahkan pada kami (jika kami menemuo zaman itu)?" Beliau bersabda, "Tunaikanlah hak yang diwajibkan atas kalian dan mohonlah kepada Allah yang menjadi hak kalian." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 3604 dan Muslim: 1843).
Al-atsarah adalah menyendiri dengan sesuatu dari orang yang terdapat hak padanya (sifat mementingkan diri sendiri/egois).

28/52. Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair radhiyallahu anhu bahwa ada seorang lelaki dari kaum Anshar berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mempekerjakan saya sebagaimana engkau telah memperkerjakan si Fulan?" Beliau lalu bersabda, "Sesungguhnya sepeninggalku nanti kalian akan mendapatkan orang yang suka mementingkan diri sendiri maka bersabarlah sampai kalian bertemu denganku di Telaga Kautsar."(Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 3792 dan Muslim: 1845)
Usaidun dengan hamzah didhammah dan hudhairun dengan hâ' yang didhammahkan dan dhâdh yang difathahkan. Wallahu a'lam.

Penjelasan: (Hadist no. 51 dan 52) Dalam kedua hadist ini terdapat anjuran untuk bersabar atas sifat otoriternya seorang pemimpin dalam menjalankan haknya. Akan tetapi, kita harus mengetahui bahwa setiap manusia menjadi pemimpin atas mereka.

29/53. Dari Abu Ibrahim 'Abdullah bin Abu Aufa, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada sebagian hari-hari yang padanya beliau bertemu musuh, beliau menunggu sehingga matahari tergelincir lalu beliau berdiri di tengah-tengah para shahabat seraya bersabda, "Wahai manusia, janganlah kalian berharap bertemu musuh dan mintalah selalu keselamatan (kesehatan). Adapun jika kalian bertemu musuh, maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa surga itu ada di bawah naungan pedang." Selanjutnya Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa, "Ya Allah yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan, yang mengalahkan musuh, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami memperoleh kemenangan atas mereka." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 2965 dan Muslim: 1742)

Penjelasan: Hadist ini mengandung beberapa faedah, di antaranya bahwa seorang manusia tidak boleh mengharapkan pertemuan dengan musuh dan memohon keselamatan kepada Allah dari pertemuan dengan musuh. Adapun ketika bertemu dengan musuh, maka bersabarlah dan berdoalah untuk kekalahan musuh, karena sesungguhnya mereka itu adalah musuhmu dan musuh Allah.
Bab Taubat

Bab Taubat


Penjelasan: Allah menjelaskan dalam kitab-Nya yang agung bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suka bersuci. Orang-orang yang bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla, setiap kali mereka berbuat kesalahan, mereka langsung bertaubat kepada Allah.
Para Ulama berkata, "Taubat itu hukumnya wajib dari segala macam dosa. Jika kemaksiatan itu terjadi antara seorang hamba dan Allah, yakni tidak ada kaitannya dengan hak manusia yang lain, maka untuk taubat itu ada tiga macam syarat, yaitu:
  • Pertama: hendaklah meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan
  • Kedua: menyesal atas apa yang telah dilakukan
  • Ketiga: berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selamanya.
Jika salah satu dari tiga syarat tersebut itu ada yang hilang, maka tidak sah taubatnya.

Apabila kemaksiatan itu ada hubungannya dengan sesama manusia, maka syarat-syaratnya itu ada empat macam, yaitu tiga syarat yang telah disebutkan di atas dan keempatnya ialah supaya melepaskan tanggungan itu dari hak kawannya. Oleh karena itu, jika tanggungan itu berupa harta atau yang semisalnya, maka kembalikanlah kepadanya. Jika berupa dakwaan zina atau yang semisal dengan itu, maka hendaklah mencabut dakwaan tadi dari orang yang didakwanya atau meminta maaf padanya. Dan jika merupakan ghibah, maka hendaklah meminta penghalalan yakni penerimaan maaf darinya. Ia juga diwajibkan untuk bertaubat dari segala dosa. Adapun bila orang yang bersangkutan itu bertaubat dari sebagian dosanya, maka taubatnya itu pun tetap sah dari dosa yang dimaksudkan itu. Namun, dosa-dosa yang lainnya masih tetap ada dan tersisa (yang belum bertaubat darinya).

Demikianlah pendapat para ulama.

Sudah sangat jelas dalil-dalil yang tercantum dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta ijmak seluruh umat perihal wajibnya mengerjakan taubat.

Allah berfirman:

"...Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nur [24]: 31)

Allah berfirman:
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya..." (QS. Hud [11]: 3)

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya)..." (QS. At-Tahrim [66]: 8)

1/13. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Demi Allah, sesungguhnya saya beristighfar (memohon pengampunan) kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 6307)

2/14. Al-Agharr bin Yasar al-Muzanni radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mohonkanlah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali." (HR. Muslim: 42/2702)

Penjelasan: Dua hadist di atas (13 dan 14) merupakan bukti bahwa Nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wasallam orang yang paling giat beribadah kepada Allah. Dan sesungguhnya beliau adalah seorang guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, baik itu dengan lisan maupun dengan perbuatannya. Beliau senantiasa memohon ampun kepada Allah dan memerintahkan umatnya agar senantiasa beristighfar (memohon ampun), sehingga beliau menjadi figur yang sangat layak untuk diteladani.

3/15. Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari radhiyallahu anhu (pelayan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah itu lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas." (Muttafaqun 'alaih. HR. Al-Bukhari: 6309 dan Muslim: 8,7/2747)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya (untanya) dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya padahal di atas hewan itu ada perbekalannya. Sehingga, ia pun mnejadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan hati yang telah putus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraanya itu tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya maka ia berkata, 'Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu' Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya."

Penjelasan: Hadist ini merupakan dalil atas kegembiraan Allah 'Azza wa Jalla atas taubat dari hamba-Nya, apabila ia bertaubat kepada-Nya. Hadist ini pula menganjurkan agar bertaubat karena sesungguhnya Allah sangat mencintainya dan itu merupakan kemaslahatan bagi hamba-Nya. Selain itu, bahwa seorang insan apabila melakukan kesalahan dalam ucapan walaupun itu berupa kekufuran karena kesalahan lisannya, maka itu tidak menjadi dosa baginya.

4/16. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ari radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat." (HR. Muslim: 31/5759)

5/17. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah menerima taubatnya." (HR. Muslim: 43/2703)

6/18. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya (sekarat)." (HR. At-Tirmidzi: 3537 dan Ahmad: 132/2. At-Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadist hasan. Sanadnya shahih)

Penjelasan: Faedah hadist di atas (16-17-18) bahwa sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sekalipun terlambat. Akan tetapi, menyegerakan taubat adalah wajib, karena seseorang tidak ada yang tahu datangnya kematian secara tiba-tiba, kemudian ia mati sebelum melakukan taubat. Dan apabila matahari terbit dari barat maka berakhirlah penerimaan taubat.

7/19. Zir bin Hubaisy berkata, "Saya mendatangi Shafwan bin 'Assal radhiyallahu anhu. Saya bertanya tentang mengusap dua sepatu khuf. Shafwan berkata, 'Apakah yang menyebabkan engkau datang, wahai Zir?' Saya menjawab, 'Untuk mencari ilmu.' Ia berkata lagi, 'Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu, karena ridha dengan apa yang dicarinya.' Maka saya berkata, 'Sebenarnya sudah terlintas di hatiku untuk mengusap di atas dua sepatu khuf itu sehabis buang air besar atau kecil, sementara engkau termasuk salah seorang shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka dari itu, saya datang untuk menanyakannya kepadamu. Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengannya?' Shafwan menjawab, 'Ya, pernah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami jika kami berpergian (sedang dalam perjalanan), supaya kami tidak melepaskan khuf kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami terkena janabah. Namun, kalau hanya karena buang air besar atau kecil atau karena sehabis tidur (boleh tidak dilepas).'

Saya berkata lagi, 'Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan tentang masalah hawa nafsu (cinta)?' Dia menjawab, 'Ya pernah. Pada suatu ketika, kami bersama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan. Di kala kami berada di sisi beliau, tiba-tiba ada seorang Arab badui (pegunungan) memanggil beliau dengan suara yang sangat keras sekali. Ia berkata, 'Hai Muhammad.' Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menjawabnya dengan suara yang sama kerasnya, 'Mari ke mari.'

Saya pun berkata pada Arab badui tersebut, 'Celaka engkau ini, perlahankanlah suaramu, sebab engkau ini benar-benar berada di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam sedangkan aku dilarang dari hal ini.' Namun, Arab badui itu berkata, 'Demi Allah, aku tidak akan memperlahankan suaraku.' Kemudian ia berkata kepada beliau, 'Ada orang mencintai sesuatu golongan, tetapi ia tidak dapat bertemu (menyamai) mereka.' Nabi shallallahu alaihi wasallam pun menjawab, 'Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.' Tidak henti-hentinya beliau memberitahukan apa saja kepada kami, sehingga akhirnya menyebutkan bahwa di arah barat itu ada sebuah pintu yang perjalanan luasnya jika ditempuh seseorang dengan berkendara, memakan waktu empat puluh atau tujuh puluh tahun perjalanan."

Sufyan, salah seorang perawi hadist ini mengatakan, "Dari arah Syam, pintu itu dijadikan oleh Allah sejak hari Dia menciptakan seluruh langit dan bumi, akan senantiasa terbuka untuk taubat, tidak pernah ditutup sampai matahari terbit dari sana." (HR. At-Tirmidzi: 3535 dan lainnya. At-Tirmidzi mengatakan, hadist ini hasan shahih)

8/20. Dari Abu Sa'id bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelummu telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan pada seorang pendeta. Ia pun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah ia masih diterima untuk bertaubat? Pendeta itu menjawab, 'Tidak bisa.' Kemudian ia bunuh pendeta itu, maka dengan demikian genaplah menjadi seratus. Lalu ia bertanya lagi tentang orang paling alim dari penduduk bumi, kemudian ditunjukkan pada seorang yang alim. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima taubatnya? Orang alim itu menjawab, 'Ya, masih bisa. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dirinya dengan taubat itu? Pergilah engkau ke tanah ini (satu wilayah), sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang menyembah Allah. Menyembahlah engkau kepada Allah bersama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu (tempat asalmu), sebab tanahmu adalah negeri yang buruk.'

Maka ia pun bergegas pergi sehingga di waktu ia telah sampai separuh dari perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian. Kemudian terjadilah perselisihana tentang orang tersebut anatara malaikat rahmat dan malaikat siksa. Malaikat rahmat berkata, 'Orang ini telah datang bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah.' Malaikat siksa berkata, 'Orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.' Selanjutnya ada satu malaikat yang mendatangi mereka dalam wujud seorang manusia, lalu ia dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi-sebagai hakim-. Ia berkata, 'Ukurlah antara dua tempat itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka ia adalah untuknya. Lalu para malaikat itu mengukur, kemudian didapatinya bahwa orang tersebut lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki (yang dituju untuk taubat) sehingga ia dibawa oleh malaikat rahmat." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 3470 dan Muslim: 46/2766)

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan, "Orang tersebut lebih dekat sejengkal saja ke perkampungan yang baik itu (yang hendak didatangi), maka dijadikanlah ia termasuk golongan penduduknya."

Dalam riwayat lain yang shahih pula disebutkan, "Allah Ta'ala lalu mewahyukan kepada tanah yang ini (tempat asalnya) supaya engkau menjauh dan kepada tanah yang ini (tempat yang hendak dituju) supaya engkau mendekat. Kemudian berfirman, 'Ukurlah antara keduanya.' Maka mereka (para malaikat) mendapati bahwa kepada yang dituju lebih dekat sejauh sejengkal jaraknya. Maka orang itu pun diampuni dosa-dosanya."

Dalam riwayat lain lagi disebutkan, "Orang tersebut bergerak dengan membusungkan dadanya ke arah tempat yang dituju."

Penjelasan: Hadist ini mengandung beberapa faedah, di antaranya bahwa seorang pembunuh itu memiliki kesempatan untuk bertaubat. Dalilnya ada dalam Kitabullah:

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya..." (QS. An-Nisa' [4]: 116)

Selama itu bukan dosa syirik, Allah akan mengampuninya jika Dia berkehendak.

9/21. Dari 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik, ia yang sering menuntun ayahnya (Ka'ab) ketika telah buta. 'Abdullah berkata, "Saya mendengar Ka'ab bin Malik radhiyallahu anhu bercerita tentang tertinggalnya (tidak bersama) dia bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Ka'ab bin Malik berkata, 'Saya selalu bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk. Memang saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar, tapi tak seorang pun dicela karena tidak ikut dalam perang tersebut. Sebab, waktu itu beliau bersama kaum muslimin keluar bertujuan untuk menghadang rombongan Quraisy lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan musuh. Sungguh aku mengikuti pertemuan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam 'Aqabah, ketika kami berjanji setia terhadap Islam. Saya tidak merasa lebih senang seandainya saya bisa mengikuti perang Badar, tetapi tidak mengikuti malam 'Aqabah, meskipun perang Badar lebih banyak (lebih masyhur) disebut-sebut di kalangan manusia daripada malam 'Aqabah.

Adapun ceritaku tentang ketika tidak ikut perang Tabuk, waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat atau lebih mudah (mencari perlengkapan perang), ketika kau tertinggal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk. Demi Allah, saya belum pernah mengumpulkan dua buah kendaraan sebelum adanya peperangan Tabuk itu, sedangkan untuk persiapan peperangan ini sebenarnya saya dapat mengumpulkan keduanya. Belum pernah Rasulullah mengharapkan suatu peperangan, melainkan beliau berniat pula dengan peperangan yang berikutnya hingga sampai terjadinya perang Tabuk.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berangkat dalam peperangan Tabuk itu dalam cuaca yang sangat panas dan menghadapi suatu perjalanan yang jauh dan sulit. Selain itu juga menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka beliau merasa perlu memberitahukan kaum muslimin akan kesulita-kesulitan yang mungkin dihadapi, agar kaum muslimin melakukan persiapan yang cukup. Rasulullah juga menjelaskan tentang tujuan mereka. Waktu itu, kaum muslimin yang ikut perang Tabuk bersama beliau cukup banyak, tetapi nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku-yang dimaksud Ka'ab adanya buku catatan, daftar mereka.'

Ka'ab berkata, 'Sedikit sekali di antara mereka yang absen (bersembunyi dan tidak ikut perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahuinya, selama wahyu Allah tidak turun (mengabarkan). Rasulullah berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan sedang dalam masa panen dan kenyamanan berada di bawah naungannya. Karena itu, hatiku lebih condong kepadanya. Tatkala Rasulullah dan kaum muslimin hendak berangkat mempersiapkan segala sesuatunya, aku pun bergegas keluar guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun, aku kembali tanpa menghasilkan apa-apa dan di dalam hati saya berkata, saya mampu mempersiapkannya jika saya menginginkanya.

Hal yang demikian itu berlangsung terus dan saya selalu menundanya untuk mempersiapkan perlengkapan perang, sampai kesibukan kaum muslimin memuncak. Pada akhirnya, di pagi hari Rasulullah beserta kaum muslimin berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan. Lalu saya keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi saya kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum muslimin bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian saya putuskan untuk berangkat dan menyusul mereka. Malangnya yang telah saya lakukan, ternyata itu belum ditakdirkan untukku. Akhirnya, apabila saya keluar dan bergaul dengan masyarakat sesudah berangkatnya Rasulullah, saya dihadapkan dengan keadaan bahwa saya dianggap sebagai orang munafik atau termasuk di antara orang-orang lemah yang mendapatkan uzur dari Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mencari saya, hingga sampai di Tabuk. Sesampainya di Tabuk, barulah beliau bertanya, 'Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Ka'ab bin Malik?' Salah seorang dari Bani Salimah menjawab, 'Wahai Rasulullah, ia ditahan oleh pakaian dan selendangnya.' Maka Mu'adz bin Jabal berkata, 'Alangkah jeleknya apa yang engkau katakan itu. Demi Allah, Wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali kebaikan.'

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun diam. Pada saat itulah beliau melihat seorang lelaki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan. Rasulullah bersabda, 'Mudah-mudahan itu adalah Abu Khaitsamah.' Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah Al-Anshari. Dialah orang yang bersedekah segantang kurma, ketika diolok-olok oleh orang munafiq.'

Ka'ab meneruskan ceritanya, 'Tatkala saya mendengar bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk, maka kesusahan pun mulai menyelimuti saya. Saya mulai mereka-reka alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari beliau. Saya juga meminta bantuan keluargaku untuk mencari alasan dan jalan keluar yang sangat baik. Namun, ketika mendengar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sudah dekat, hilanglah segala macam kebohongan yang saya siapkan, hingga saya yakin tidak ada alasan yang dapat menyelamatkan dari beliau selamanya. Karena itu, saya mengatakan yang sebenarnya.

Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba. Biasanya, kalau beliau datang dari bepergian, yang beliau tuju pertama kali adalah masjid. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat lalu duduk bersama orang-orang. Maka ketika beliau demikian itu, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang (Tabuk) menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan kepada beliau disertai dengan sumpah. Mereka yang tidak ikut perang Tabuk ada delapan puluh orang lebih. Rasulullah menerima alasan mereka, menerima bai'at merka, dan memohonkan ampunan bagi mereka. Sedangkan batin mereka, beliau serahkan kepada Allah Ta'ala.

Kemudian aku pun menghadap beliau. Ketika saya mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum sinis kemudian bersabda, 'Kemarilah.' Ka'ab berjalan mendekat dan duduk di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya, 'Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?' Saya menjawab, 'Wahai Rasulullah, Demi Allah andaikan saya duduk di hadapan orang selain engkau dari penduduk dunia, saya yakin dapat bebas dari kemarahanmu dengan menggunakan berbagai alasan yang bisa diterima. Sungguh, saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata bohong dan membuatmu ridha kepada saya, pasti Allah akan membuatmu murka kepada saya. Sebaliknya,  jika saya berkata benar yang membuatmu marah, maka saya sangat mengharapkan ampunan dari Allah 'Azza wa Jalla. Demi Allah, aku tidak mempunyai uzur. Demi Allah, diriku benar-benar dalam kondisi kuat dan lebih mudah ketika aku tidak mengikutimu (ke perang Tabuk).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, 'Adapun orang ini (Ka'ab bin Malik) telah berkata jujur. Berdirilah! Tunggulah keputusan Allah terhadap dirimu.' Saya pun berdiri. Beberapa orang dari Bani Salimah berjalan menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya, 'Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu mengemukakan alasan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk. Mestinya cukuplah bagimu, jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memintakan ampun untukmu.'

Ka'ab berkata, 'Demi Allah, orang-orang Bani Salimah itu terus menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya saya kembali kepada beliau untuk meralat perkataanku. Tetapi, kemudian aku bertanya kepada orang-orang Bani Salimah itu, 'Adakah orang lain yang mengalami seperti yang saya alami?' Mereka menjawab, 'Ya, memang ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang engkau katakan dan mereka mendapat jawaban sama seperti jawaban yang engkau terima.' Saya bertanya, 'Siapa mereka berdua?' Mereka menjawab, 'Murarah bin Rabi'ah Al-'Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.' Mereka menyebutkan dua orang lelaki shaleh yang keduanya mengikuti perang Badar dan keduanya dapat dijadikan teladan. Maka saya terus berlalu ketika mereka menyebutkan nama keduanya kepadaku.'

Sejak saat itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Sejak itu pula orang-orang menjauhi kami- atau ia berkata, 'Mereka telah mengubah sikap kepada kami-, sehingga bumi terasa asing bagiku, seolah-olah bumi yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah saya kenal. Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari. Dua orang temanku (Murarah dan Hilal) lebih memilih untuk menyembunyikan diri dan diam di rumahnya masing-masing, sambil tiada henti-hentinya menangis.

Sedangkan saya adalah orang yang paling muda dan paling kuat dari mereka. Aku tetap keluar rumah untuk mengikuti shalat jamaah bersama kaum muslimin dan pergi ke pasar. Namun, tak seorang pun mau diajak bicara. Saya pergi menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk sekadar mengucapkan salam kepada beliau sesudah shalat. Akan tetapi, hati ini berkata, 'Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan menggerakkan bibir beliau untuk menajwab salamku, atau tidak?' Kemudian aku mengerjakan shalat berdekatan dengan beliau, sesekali aku melirik beliau. Apabila menghadap shalat, beliau memandangku, kalau aku menengok ke arah beliau, beliau berpaling dariku.

Hal ini terus terjadi sampai suatu hari aku berjalan-jalan, lalu memanjat dinding pekarangan abu Qatadah, Dia adalah saudara sepupu dan orang yang paling kusayangi. Kuucapkan salam kepadanya, maka demi Allah ia tidak menjawab salamku. Maka aku pun berkata kepadanya, 'Wahai Abu Qatadah, dengan nama Allah aku meminta kepadamu, bukankah engkau tahu bahwa aku ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?' Abu Qatadah diam tak bergeming sehingga kuulangi pertanyaanku, tapi dia tetap diam. Sesudah aku ulangi pertanyaanku sekali lagi, barulah dia menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Seketika itu mengalirlah air mataku dan aku pun pulang.

Pada suatu hari, ketika aku sedang berjalan-jalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang petani asing dari negeri Syam yang datang ke Madinah untuk menjual bahan makanan. Petani itu bertanya, 'Siapakah yang dapat menunjukkanku kepada Ka'ab bin Malik?' Orang-orang pun memberikan isyarat ke arahku. Petani tadi mendatangiku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku, dari Raja Ghassan. Setelah kubaca ternyata isinya sebagai berikut, 'Amma ba'du. Sungguh kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam) mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu untuk tinggal di tempat hina dan tersia-sia. Karena itu, datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu.'

Aku pun berkata pada saat membacanya, 'Ini juga merupakan cobaan.' Kemudian aku menuju tungku lalu membakarnya. Selang empat puluh malam, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang kepadaku dan berkata, 'Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.' Ka'ab bertanya, 'Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?' Utusan itu menjawab, 'Tidak, hindarilah dia, jangan dekat-dekat padanya.' Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengirimkan utusan kepada kedua orang temanku (Murarah dan Hilal), yang maksudnya sama dengan yang kuterima. Aku pun berkata kepada istriku, 'Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah engkau di sana, sampai keputusan Allah datang.'

Suatu saat istri Hilal bin Umayyah menghadap kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memohon kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah seorang tua yang sebatang kara dan tidak mempunyai pelayan. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?' Beliau menjawab, 'Tidak, jangan sampai dia dekat-dekat padamu.' Istri Hilal pun berkata, 'Demi Allah, ia tidak bergerak sedikit pun. Demi Allah, ia masih terus menangis sejak perkara itu terjadi sampai sekarang.'
Sebagian keluarga berkata kepadaku, 'Hai Ka'ab, kalau saja engkau meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk istrimu tentu itu lebih baik, sebagaimana istri Hilal bin Umayyah untuk melayani suaminya.' Aku menjawab, 'Aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan beliau apabila aku meminta izin beliau, sedangkan aku seorang yang masih muda.' Maka setelah itu saya tinggal selama sepuluh malam sampai genap lima puluh malam, dari sejak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang (kaum muslimin) berbicara kepada kami.

Maka pada saat aku melaksanakan shalat Shubuh pada pagi selepas malam kelima puluh, ketika aku sedang berada di salah satu rumah kami, ketika aku sedang duduk dalam keadaan yang Allah sebutkan, ketika diriku merasa sempit dan bumi ini pun terasa sempit bagiku, aku mendengar suara yang berteriak di atas gunung Sala' dengan suara yang paling tinggi, 'Wahai Ka'ab bin Malik, bergembiralah!' Maka aku tertunduk sujud dan aku tahu bahwa kelapangan telah datang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumumkan penerimaan Allah terhadap taubat kami, ketika beliau melakukan shalat Shubuh.

Orang-orang pun pergi membiarkan kabar gembira kepada kami, dan ada juga yang pergi kepada dua orang sahabatku memberi kabar gembira kepada mereka. Seorang lelaki berkuda berlari menujuku, dan seseorang dari Aslam berlari kepadaku, lalu berdiri di atas gunung, dan suaranya itu datang kepadaku untuk memberiku kabar gembira, aku lekas melepaskan kedua pakaianku dan aku berikan kepadanya karena kabar gembira yang telah dibawanya. Demi Allah, aku tidak memiliki apa-apa selain kedua pakaian itu pada hari itu, dan aku meminjam dua pakaian lain lalu mengenakannya.
Setelah itu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sementara orang-orang menyambutku secara berbondong-bondong. Mereka semua memberiku selamat atas penerimaan taubatku. Mereka berkata, 'Selamat atas penerimaan Allah atas taubatmu.' Demikianlah, sampai aku memasuki masjid, ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang duduk di tengah-tengah orang. Lalu berdirilah Thalhah bin 'Ubaidillah menghampiriku sambil berlari kecil dan memberiku ucapan selamat. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang berdiri kecuali dia dan aku tidak pernah melupakan ucapan selamat Thalhah.

Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau pun berkata sambil tampak kegembiraan pada wajahnya, 'Bergembiralah, karena hari ini merupakan hari paling baik bagimu, sejak kamu dilahirkan ibumu.' Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah datangnya dari engkau sendiri atau dari Allah?' Beliau menjawab, 'Tidak, berita ini dari Allah 'Azza wa Jalla.' Aku berkata, 'Apakah ini datangnya dari engkau wahai Rasulullah, ataukah dari Allah?' Rasulullah berkata, 'Tidak, berita ini dari Allah.'

Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang gembira, wajahnya bersinar seperti bulan, dan kami bisa mengetahuinya dari (wajah) beliau. Ketika aku telah duduk di hadapannya, aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara taubatku aku lepaskan (hak) hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan RasulNya.' Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, 'Tahanlah untukmu sebagian hartamu, karena itu lebih baik untukmu.' Aku menjawab, 'Aku akan menahan bagianku yang ada di Khaibar.'

Kemudian aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuran. Dan sesungguhnya di antara taubatku, aku hanya akan berbicara jujur selama sisa hidupku.' Demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang dari kaum muslimin yang diuji oleh Allah dengan kejujuran perkataan sejak aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang lebih baik daripada yang apa yang diujikan kepadaku. Sejak aku menyebutkan itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai hari ini, aku tidak pernah berbohong. Dan aku berharap Allah menjagaku selama sisa hidupku.'

Ka'ab berkata, 'Kemudian Allah  menurunkan ayat, 'Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti jejak Nabi dalam masa kesulitan...' sampai pada firman-Nya, '...Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. 'Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka...' sampai pada firman-Nya, '...Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.' (QS. At-Taubah [9]: 117-119)

Ka'ab berkata, 'Demi Allah, belum pernah Allah memberikan nikmat, sesudah Allah memberi aku petunjuk memeluk Islam, yang paling besar pada diri saya daripada kejujuranku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebab, andaikata aku berbohong kepada beliau, pastilah bencana menimpaku (rusak agamaku), sebagaimana binasannya orang-orang yang berdusta. Sungguh, Allah berfirman kepada orang-orang yang berdusta, ketika Allah menurunkan wahyu dan merupakan sejelek-jeleknya apa yang Allah katakan kepada seseorang. Allah berfirman, 'Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam sebagai balasan atas apa yang  telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.' (QS. At-Taubah [9]: 95-96)

Ka'ab berkata, 'Dan kami telah tertinggal. Yaitu kami bertiga, dari urusan orang-orang yang diterima oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika mereka bersumpah kepada beliau. Lalu, beliau membaiat mereka dan memintakan ampunan untuk mereka. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengakhirkan perkara kami sampai Allah memberi keputusan tentangnya. Allah berfirman, 'Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.' Dan bukanlah yang disebutkan itu apa-apa yang kami bertiga tertinggal dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafik yang bersumpah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menyampaikan bermacam alasan yang kemudian diterima oleh beliau'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 53/2769)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Nabi shallallahu alaihi wasallam keluar pada waktu perang Tabuk pada hari Kamis dan memang sudah menjadi kesukaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis." Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, "Biasanya beliau datang dari bepergian pada waktu Dhuha, dan bila beliau datang biasanya langsung ke masjid dan shalat dua rakaat kemudian duduk di dalamnya."

10/22. Dari Abu Nujaid 'Imran bin Al-Hushain Al-Khuza'i bahwa ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena perbuatan zina. Kemudian ia berkata, "Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu perbuatan yang harus dikenakan had (hukuman), maka laksanakanlah had itu atas diriku." Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam memanggil wali wanita itu lalu bersabda, "Berbuat baiklah kepada wanita ini dan apabila telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawanya)."

Wali tersebut pun melakukan apa yang diperintahkan. Kemudian, Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan agar wanita itu diikatkan pada pakainnya dengan erat, kemudian memerintahkan untuk merajamnya. Setelah itu, beliau menshalatkan jenazahnya. Maka 'Umar berkata pada beliau, "Apakah engkau menshalatkan jenazahnya, wahai Rasulullah, sedangkan ia telah berzina?" Beliau bersabda, "Sungguh, ia telah benar-benar bertaubat. Seandainya taubatnya itu dibagikan kepada tujuh puluh orang dari penduduk Madinah, pasti mencukupi mereka. Adakah pernah engkau menemukan seseorang yang lebih utama dari orang yang suka mengorbankan jiwanya semata-mata mengharapkan keridhaan Allah 'Azza wa Jalla?" (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 6438 dan Muslim: 1048-1049)

11/23. Dari Ibnu 'Abbas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan memiliki dua lembah, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat." (Muttafaqun 'alaih. HR. Al-Bukhari: 6438 dan Muslim: 1048/1049)

12/24. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla tertawa kepada dua orang yang seorang membunuh pada lainnya, kemudian keduanya dapat memasuki surga. Yang seorang itu berperang fisabilillah kemudian ia dibunuh, selanjutnya Allah menerima taubat atas orang yang membunuhnya tadi, kemudian ia masuk Islam lalu dibunuh sebagai seorang syahid." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 2826 dan Muslim: 1890)

Penjelasan: (Hadist: ke 23 dan 24): bahwa seorang hamba yang rakus akan harta itu tidak akan memperhatikan pada sesuatu yang diharamkan atau didapatkan dengan jalan haram. Adapun obat dari itu semua adalah dengan bertaubat kepada Allah. Selain itu, seorang kafir apabila ia bertaubat dari kekufurannya walaupun dia sudah membunuh seseorang dari kalangan muslimin, maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya, karena Islam bisa melenyapkan (dosa) yang telah dilakukan sebelumnya (sebelum masuk Islam).
Bab Keikhlasan dan Menghadirkan Niat dalam Segala Amal Perbuatan dan Ucapan serta Berbagai Keadaan yang Jelas dan yang Samar

Bab Keikhlasan dan Menghadirkan Niat dalam Segala Amal Perbuatan dan Ucapan serta Berbagai Keadaan yang Jelas dan yang Samar


Penjelasan:

Menjadi suatu kepastian untuk menyertakan niat dalam semua amal ibadah dan niat itu ada tiga macam:
  1. Niat ibadah
  2. Niat karena Allah
  3. Niat karena dia mengikuti perintah Allah
Ini merupakan niat yang paling sempurna dalam seluruh ibadah.

Allah swt berfirman:

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. al-Bayyinah [98]: 5)

Allah swt berfirman pula:

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya..." (QS. al-Hajj [22]: 37)

Allah swt berfirman pula:

"Katakanlah, 'Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui'." (QS. ali Imran [3]: 29)

1/1. Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul 'Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib al-Quraisy al-'Adawi ra berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Semua amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang itu tergantung pada apa yang telah dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu pun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang akan diperolehnya atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya pun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. al-Bukhari: 1 dan Muslim: 1908).

Diriwayatkan oleh dua orang imam ahli hadist, yaitu Abu 'Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju'fi Al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi rahimahullah. Hadist tersebut tercantum dalam kedua kitab shahih milik keduanya yang merupakan kitab hadist paling shahih yang pernah ditulis.
Penjelasan: Harus diketahui bahwa semua kemaksiatan yang ada selain kafir tidak keluar dari iman. Selain itu, hijrah itu ada beberapa macam: hijrah tempat, hijrah amal, dan hijrah 'amil (pelaku).

2/2. Ummul mukminin, Ummu 'Abdullah, 'Aisyah ra berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang (menghancurkan) Ka'bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang lalu mereka semuanya dibenamkan (ke dalam perut bumi) dari orang pertama sampai terakhir'." Aisyah berkata, "Saya pun bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang ka'bah)?' Rasulullah saw menjawab, 'Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka itu akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka'." (Muttafaq 'alaih. HR. al-Bukhari: 2118 dan Muslim: 8/2884. Dan lafalnya menurut al-Bukhari)

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat pelajaran, bahwa barangsiapa yang ikut serta bersama orang batil, pembangkang, dan penentang maka dia digolongkan bersama mereka dalam hal hukuman (sanksi). Apakah dia orang yang shaleh atau jahat, hukuman itu berlaku secara umum dan tidak meninggalkan seseorang pun. Kemudian pada hari kiamat mereka dibangkitkan sesuai dengan niat mereka masing-masing. Allah swt berfirman:

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaanNya." (QS. al-Anfal [8]: 25)

3/3. 'Aisyah ra berkata, Nabi saw bersabda, "Tidak ada hijrah setelah pembebasan (Makkah), tetapi yang ada jihad dan niat. Maka dari itu, apabila engkau semua diminta untuk keluar (oleh imam untuk berjihad), maka keluarlah (berangkatlah)." (Muttafaq 'alaih. HR. al-Bukhari: 3900 dan Muslim: 1864)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa Mekkah tidak akan kembali menjadi negeri kafir. Bahkan, akan tetap menjadi negeri Islam sampai hari kiamat tiba, atau sampai Allah berkehendak.

4/4. Abu Abdillah Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiyallahu anhu berkata, "Kami bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam suatu peperangan (perang Tabuk) kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa lelaki yang engkau semua tidak menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyebrangi suatu lembah, melainkan mereka itu akan ada bersama kalian. Mereka itu terhalang oleh sakit'." Dalam suatu riwayat dijelaskan, "Melainkan mereka (yang terhalang sakit) akan ikut serta bersama kalian dalam (mencari) pahala." (HR. Muslim: 1911)

Sedangkan dalam riwayat al-Bukhari, Anas radhiyallahu anhu berkata, "Kami kembali dari perang Tabuk bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, 'Sesungguhnya ada beberapa kaum yang kita tinggalkan di Madinah. Tidaklah kita menempuh suatu lereng ataupun lembah, melainkan mereka itu bersama dengan kita, (namun) mereka itu terhalang oleh uzur (sakit)'." (HR. al-Bukhari: 2839)

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat isyarat bahwa orang yang keluar di jalan Allah dalam rangka untuk bertempur dan jihad, maka baginya pahala selama perjalanannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan dan lereng ataupun lembah, dan tidak pula menyebrangi suatu lembah tidak pula bukit, melainkan mereka itu akan ada bersama kalian."

5/5. Dari Abu Yazid Ma'an bin Yazid bin Akhnas (ia, ayahnya, dan kakeknya termasuk dalam golongan shahabat). Ia berkata, "Ayahku, yaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar untuk ia sedekahkan. Dinar-dinar itu ia letakkan di sisi seseorang di dalam masjid. Kemudian aku datang dan mengambilnya, lantas memberikan kepadanya (ayahku). Maka (ayahku) berkata, 'Demi Allah, bukan engkau yang kukehendaki (untuk sedekah itu).'

Maka hal tersebut pun aku adukan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau pun bersabda, ' Bagimu apa yang telah engkau niatkan wahai Yazid, sedangkan bagimu apa yang telah engkau ambil, wahai Ma'an'." (HR. al-Bukhari: 1422)

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat beberapa faedah, yaitu bolehnya bagi seorang ayah bersedekah pada anaknya, begitupun sebaliknya. Dan boleh juga bagi seorang ayah memberikan zakat pada anaknya dengan syarat bahwa itu tidak mnejadikannya terbebas dari kewajiban atasnya.

6/6. Abu Ishaq Sa'ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin 'Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay al-Qurasyi az-Zuhri radhiyallahu anhu (ia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga) berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjengukku ketika haji Wada', karena sakit keras. Aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana engkau lihat, sedangkan aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedekahkan dua pertiga dari harta itu?' Beliau menjawab, 'Tidak.' Saya bertanya lagi, 'Bagaimana kalau separuhnya?' Beliau menjawab, 'Tidak'. Saya bertanya lagi, 'Bagaimana kalau sepertiganya?' Beliau menjawab, 'Sepertiga itu banyak (cukup besar). Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Allah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa uang dimakan oleh istrimu.'
Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah aku akan segera berpisah dengan kawan-kawanku?' Beliau menjawab, 'Sesungguhnya kamu belum akan berpisah. Kamu masih akan menambah amal yang kamu niatkan untuk mencari ridha Allah, sehingga akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan segera meninggal setelah sebagian orang dapat mengambil manfaat darimu, sedangkan yang lain merasa dirugikan olehmu. Ya Allah, mudah-mudahan shahabat-shahabatku dapat melanjutkan hijrah mereka dan janganlah engkau mengembalikan mereka ke tempat mereka semula. Namun, yang kasihan (merugi) adalah Sa'ad bin Khaulah.' Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menyayangkan ia meninggal di Makkah." (Muttafaqun 'alaihi. HR. al-Bukhari: 1295 dan Muslim: 1628).

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat dalil bahwa apabila mayit meninggalkan harta untuk diwariskan, maka sungguh itu menjadi kebaikan baginya. Maka setiap orang harus menghadirkan niat karena mendekatkan diri kepada Allah dalam semua harta yang ia infakkan agar menjadi pahala baginya.

7/7. Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian, tidak pula kepada bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian." (HR. Muslim: 2564).

Penjelasan: Sudah semestinya bagi setiap insan agar senantiasa mengobati hatinya untuk menyucikan hatinya karena Allah, sehingga setiap amalnya ikhlas karena Allah dan RasulNya. Sebab, Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan tubuh, tetapi Dia melihat pada hati.

8/8. Abu Musa 'Abdullah bin Qais al-Asy'ari radhiyallahu anhu berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya perihal seseorang yang berperang dengan tujuan menunjukkan keberanian, ada lagi yang berperang dengan tujuan kesukuan, ada pula yang berperang dengan tujuan riya'. Dari semua itu manakah yang termasuk berperang di jalan Allah? Beliau pun menjawab, 'Siapa saja yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. al-Bukhari: 123 dan Muslim: 1904)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa setiap niat itu tidak memiliki batas, tetapi itulah barometer yang disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai barometer yang adil dan sempurna, yaitu, "Siapa saja yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah."

9/9. Abu Bakrah Nufa'i bin Harits Ats-Tsaqafi radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Apabila ada dua orang Islam yang bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada dalam neraka." Saya bertanya, "Wahai Rasulullah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka, lantas bagaiman gerangan yang terbunuh?" Beliau menjawab, "Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya." (Muttafaqun 'alaihi. HR. al-Bukhari: 31 dan Muslim: 14/2888)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa semua amal itu tergantung dari niatnya, dan bahwa seorang muslim ketika ia berniat untuk membunuh sahabatnya, maka seolah-olah ia telah melakukan hal tersebut. Hadist ini juga sebagai dalil bahwa membunuh itu termasuk dosa besar dan sebagai salah satu penyebab masuk neraka dan kita memohon perlindungan kepada Allah.

10/10. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Shalat seseorang dengan berjamaah, lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, selisih dua puluh sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama menunggu dilaksanakannya. Para malaikan mendoakan, 'Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya,' (hal itu) selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadast." (Muttafaqun 'alaihi. HR. al-Bukhari: 647 dan Muslim: 749. Dan lafal hadist ini menurut Muslim)

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam "Yanhazuhu," artinya adalah mengeluarkannya dan menggerakkannya.

Penjelasan: Apabila seorang muslim keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat, maka sesungguhnya Allah menjadikan baginya dalam keadaan shalat selama dia berada di masjid. Selain itu para malaikat juga mendoakannya dan memohon ampunan baginya, selama ia tidak berhadast.

11/11. Dari Abil Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya yang Mahasuci dan Mahatinggi, "Sesungguhnya Allah telah mencatat semua kebaikan dan keburukan, kemudian Allah menjelaskan hal tersebut. Oleh karena itu, barangsiapa yang bermaksud melaksanakan kebaikan lalu ia tidak mengerjakannya, maka Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi mencatat di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia bermaksud melakukannya lalu mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, dan dilipatgandakannya lagi.
Adapun jika ia bermaksud melakukan keburukan, lalu tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Sedangkan apabila ia bermaksud melakukan keburukan kemudian mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan." (Mutafaqun 'alaihi. HR. al-Bukhari: 6491 dan Muslim: 131)

Penjelasan: Hadist ini sebagai dalil bahwa gambaran niat itu ada dalam setiap amal, dan niat yang baik itu mengantarkannya pada kebaikan.

12/12. Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin al-Khaththab berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, 'Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu yang melakukan perjalanan, sehingga mereka terpaksa bermalam di sebuah gua. Kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung dan menutup mulut gua itu. Mereka pun berkata bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian semua dari batu besar ini melainkan jika kalian semua berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amalan shaleh kalian.

Maka seorang dari mereka pun berkata, 'Ya Allah, saya mempunyai dua orang tua sudah lanjut usia dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga maupun budakku. Suatu hari, saya terlambat pulang karena mencari kayu lalu saya memerah susu untuk persediaan minum keduanya. Namun, saya mendapati keduanya sudah tidur. Meskipun demikian, saya tidak memberikan susu itu kepada keluarga atau budakku sebelum keduanya minum. Aku tetap menunggunya (keduanya bangun)-sementara wadahnya (tempat susu) masih berada di tanganku-Dan saya tetap menunggunya hingga terbit fajar sementara putri saya yang masih kecil menangis minta susu sambil memegangi kakiku. Ketika keduanya bangun, kuberikan susu itu untuk diminum. Ya Allah, jika perbuatan itu saya lakukan karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.' Kemudian bergeserlah sedikit batu itu, tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu.

Orang kedua pun berkata, 'Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai.' Dalam riwayat lain disebutkan, 'Saya sangat mencintainya sebagaimana seorang lelaki mencintai seorang perempuan. Saya selalu berhasrat terhadap dirinya (melakukan zina), tetapi ia selalu menolaknya. Beberapa tahun kemudian, ia tertimpa kesulitan (paceklik). Ia pun datang untuk meminta bantuanku, dan saya berikan kepadanya seratus dua puluh dinar dengan syarat menyerahkan dirinya kapan saja saya menginginkan.' Pada riwayat yang lain, 'Ketika saya berada di antara kedua kakinya, ia berkata, 'Takutlah kamu kepada Allah. Janganlah kamu melepas cincin ini (menyobek selaput daraku) melainkan dengan haknya. Maka saya pun berpaling darinya, padahal dia orang yang sangat saya cintai, dan saya juga telah merelakan emas yang kuberikan kepadanya. Ya Allah, jika perbuatan itu saya lakukan hanya mengharap ridhaMu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.' Kemudian bergeserlah batu itu, tetapi mereka masih belum bisa keluar dari gua itu.

Orang yang ketiga pun berkata, 'Ya Allah, saya mempekerjakan beberapa karyawan dan digaji dengan sempurna, kecuali ada seorang yang meninggalkan saya dan belum mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberapa tahun, dia datang dan berkata, 'Wahai hamba Allah, berikanlah gajiku.' Saya berkata, 'Semua yang kamu lihat baik unta, sapi, kambing, maupun budak yang menggembalakannya, semua adalah gajimu.' Ia berkata, 'Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan aku.' Saya menjawab, 'Saya tidak mempermainkanmu.' Kemudian dia mengambil semua itu dan tidak meninggalkannya sedikit pun. Ya Allah, jika perbuatan itu saya lakukan karena mengharapkan ridhaMu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.' Kemudian bergeserlah batu itu dan mereka pun bisa keluar dari dalam gua." (Mutafaqun 'alaihi. HR. al-Bukhari: 2272 dan Muslim: 100/2743)

Penjelasan: Hadist ini mengandung beberapa faedah, di antaranya keutamaan berbuat baik kepada kedua orang tua dan itu termasuk dalam kategori amalan shaleh yang Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap cobaan, dan keutamaan menjaga kesucian diri dari perbuatan zina walaupun ia mampu untuk melaksanakannya, keutamaan amanah, memperbaiki amalan untuk orang lain, dan bahwa ikhlas itu merupakan sebab dimudahkannya seseorang dalam menghadapi berbagai cobaan.