Bab Kejujuran


Penjelasan: Allah terkadang menguji seorang hamba, lalu Dia melindunginya dari kemaksiatan, apabila Dia mengetahui niat baik di dalam hatinya. Dan bahwa kejujuran itu perkara yang agung dan berhak mendapatkan pahala dari Allah 'Azza wa Jalla. Maka, sudah seharusnya kita bersikap jujur dan menjadi bagian dari orang-orang yang jujur.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah [9]: 119)

Allah berfirman:

"...Laki-laki dan perempuan yang benar..." (QS. Al-Ahzab [33]: 35)

Allah berfirman:

"...Tetapi, jika mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka..." (QS. Muhammad [47]: 21)

Adapun hadist-hadist yang menerangkannya ialah:

1/54. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Sesungguhnya seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya berdusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka. Sesungguhnya seseorang akan selalu berdusta sehingga ditulislah di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhari: 6094 dan Muslim: 103/2607)

Penjelasan: Sesungguhnya seorang hamba yang muslim apabila senantiasa berada dalam kejujuran itu akan mengantarkannya menuju surga dan ini merupakan satu tujuan yang diharapkan oleh setiap muslim. Sedangkan dusta itu merupakan jalan yang lain, dan ini merupakan jalan kejelekan pertama yang akan mengantarkan manusia menuju neraka. Kita berlindung kepada Allah dari (siksa) neraka.

2/55. Abu Muhammad Al-Hasan bin 'Ali bin Abu Thalib berkata, "Saya menghafal sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, 'Tinggalkan apapun yang meragukanmu kepada apapun yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan'." (HR. At-Tirmidzi: 2518 dan Ahmad: 200/1. At-Tirmidzi mengatakan, hadist shahih. Syaikh Ahmad Syakir menjelaskan bahwa sanadnya shahih)

Sabda beliau yaribuka dengan difathahkan ya dan mendhammahkannya jika yaribuka. Artinya ialah tinggalkan apa yang meragukanmu dalam melakukannya dan berlaku luruslah kepada apa yang tidak meragukanmu dalam melakukannya.

Penjelasan: Hadist ini mengandung salah satu pokok dari ilmu Ushul Fiqh, yaitu bahwa sesuatu yang mengandung keraguan itu harus ditinggalkan dan mengambil sesuatu yang tidak ada keraguan padanya. Oleh karena itu, setiap insan harus meninggalkan dusta dan harus bersikap jujur karena dusta itu keraguan sedangkan kejujuran itu ketenangan.

3/56. Dari Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb radhiyallahu anhu dalam hadistnya yang panjang tentang cerita raja Heraklius. Heraklius berkata, "Apakah yang diperintah olehnya (yang dimaksud ialah oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam)?" Abu Sufyan berkata, "Saya lalu menjawab, 'Beliau bersabda, 'Sembahlah Allah Yang Maha Esa, jangan kamu menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya, dan tinggalkanlah apa-apa yang dikatakan oleh nenek moyangmu. Beliau juga menyuruh kami untuk melakukan shalat, bersikap jujur, menjaga kesucian diri, dan menjalin silaturahmi'." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 7 dan Muslim: 1773)

Penjelasan: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mulia memerintahkan kepada umatnya untuk meninggalkan apa yang dilakukan (disembah) nenek moyang mereka dari perbuatan syirik kepada Allah. Dan shalat itu merupakan penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya. Shalat merupakan pembeda antara kafir dan syirik, dan kehormatan seorang insan adalah agar menjauhi dari sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah berupa perbuatan zina dan hal-hal yang mengundang ke arah perzinaan.

4/57. Dari Abu Tsabit, dan dikatakan Abu Sa'd, dan dikatakan Abul Walid, Sahl bin Hunaif radhiyallahu anhu (dia adalah orang yang ikut peperangan Badar), bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang benar-benar memohon kepada Allah Ta'ala mati syahid, niscaya Allah akan menyampaikannya ke tingkat orang-orang yang mati syahid, walaupun ia mati di atas tempat tidurnya." (HR. Muslim: 1909)

Penjelasan: Dari hadist ini kita dapat mengetahui bahwa syahid itu beraneka ragam. Di antaranya, sudah berpendapat beberapa ulama bahwa para ulama itu adalah para syuhada, dan termasuk syuhada juga adalah orang yang terkena wabah penyakit, sakit perut, terbakar, tenggelam, dan yang berperang di jalan Allah. Termasuk syuhada pula orang yang berperang dengan jiwa saja dan yang ikut berperang dengan mengorbankan harta saja. Akan tetapi, yang paling tinggi derajat syahidnya adalah mereka yang berperang di jalan Allah untuk menegakkan bahwa Kalimatullah itu paling tinggi.

5/58. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ada salah seorang di antara para Nabi Shalawatullahi Wa Salamuhu Alaihim sewaktu akan berangkat berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya, 'Jangan mengikutiku (berperang) seorang lelaki yang baru menikah, dan ia ingin menggaulinya, sementara ia belum melakukannya. Tidak juga seorang yang membangun rumah sedangkan ia belum selesai memasang atapnya. Dan tidak pula seorang yang baru membeli kambing atau unta yang sedang hamil dan ia menunggu kelahiran anaknya.' Kemudian Nabi tersebut pun berangkat berperang dan ketika mendekati negeri (yang diperangi) pada waktu shalat Ashar atau hampir tiba dengan waktu itu, kemudian Nabi berkata kepada matahari, 'Wahai matahari, sesungguhnya kamu diperintah dan saya pun diperintah. Ya Allah, tahanlah jalannya matahari itu di atas kami.'

Kemudian matahari itu tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Kemudian itu mengumpulkan ghanimah (rampasan perang) lalu datanglah-yaitu api-untuk melahapnya, tetapi api itu tidak dapat melahapnya. Nabi itu berkata, 'Sesungguhnya di kalangan kalian ada yang berbuat ghulul (menyembunyikan harta rampasan perang), maka setiap kelompok harus mengirimkan seorang lelaki untuk berbai'at kepadaku.'

Lalu ada seorang lelaki tangannya melekat dengan tangan Nabi itu. Maka nabi itu berkata, 'Sesungguhnya di kalangan kabilahmu ada yang berbuat ghulul, oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu memberikan pembai'atan padaku.' Selanjutnya ada dua atau tiga orang yang tangannya melekat dengan tangan Nabi itu, lalu nabi itu berkata, 'Dari kalanganmu ada yang berbuat ghulul.' Lalu mereka membawa emas sebesar kepala sapi, lalu meletakkannya, kemudian datanglah api dan melahapnya.

Oleh karenanya, belum dihalalkan harta-harta rampasan bagi seseorang pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkannya untuk kita harta-harta rampasan tersebut, ketika Allah mengetahui kelemahan dan ketidakberdayaan kita. Maka Allah pun menghalalkannya untuk kita." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 3124 dan Muslim: 1747).

Al-khalifât dengan fathahnya khâ' mu'jamah dan kasrahnya lâm adalah jamaknya khalifatun yang artinya ialah unta yang hamil.

Penjelasan: Hadist ini sebagai bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa planet-planer itu tidak berubah-ubah. Mahasuci Allah, siapakah yang menciptakan planet-planet ini? Sungguh Allah 'Azza wa Jalla yang telah menciptakannya, maka yang menciptakannya sudah tentu bisa mengubah-ubahnya. Namun, mereka berpendapat bahwa semua planet yang ada di angkasa beredar pada porosnya secara alami, tidak ada campur tangan dari manapun. Dan kita berlindung kepada Allah karena mereka sudah mengingkari sang Maha Pencipta. Hadist ini juga sebagai dalil tentang kekuasaan Allah mendatangkan api yang tidak diketahui dari mana datangnya, bahkan langsung diturunkan dari langit, bukan berasal dari pepohonan di muka bumi, bukan pula dari kayu bakar yang ada di bumi. Api itu datang dari langit atas titah Allah.

6/59. Abu Khalid Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Dua orang yang berjual beli (penjual dan pembeli) masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Apabila keduanya bersikap jujur dan berterus terang, maka keduanya akan mendapatkan berkah dalam transaksi jual belinya. Namun, bila keduanya saling menutup-nutupi dan berdusta, maka lenyaplah keberkahan dalam transaksi jual-beli mereka berdua." (Muttafaqun 'alaihi. HR. Al-Bukhâri: 2079 dan Muslim: 1532)

Penjelasan: Dalam hadist ini terdapat penjelasan bahwa dasar dari jual beli dari kedua belah pihak adalah kejujuran, karena dengan kejujuran dari kedua belah pihak akan mendatangkan berkah bagi keduanya dalam transaksi jual-beli mereka. Jika salah satunya berbuat jahat atau dusta, maka itu akan menghilangkan berkah dari jual beli.
Komentar