Keislaman dan Kehijrahan Umar

A. Kisah Keislaman Umar

Cahaya keimanan pertama kali meresap masuk ke hati Umar tatkala ia melihat wanita-wanita Quraisy yang rela meninggalkan kampung halaman mereka dan merantau ke negeri lain yang jauh karena mereka disiksa oleh orang-orang seperti dia. Hatinya pun melunak. Ia cela hati kecil/nuraninya. Ia menaruh rasa kasihan terhadap mereka. Ia pun mengucapkan kata-kata yang baik kepada mereka, kendati mereka tidak ingin mendengarnya dari dia.

Ummu Abdillah binti Hantamah bercerita, “Tatkala kami hendak berhijrah ke Habasyah, tiba-tiba Umar datang dan menemuiku. Dulu, kami mendapat siksaan, gangguan, dan tindakan kasar dari Umar. Umar bertanya, “Benarkah kalian hendak pergi, hai Ummu Abdillah?” Aku menjawab, “Benar, kami memang hendak pergi. Demi Allah, kami akan pergi ke bumi Allah karena kalian mengganggu dan menindas kami hingga Allah memberi kami jalan keluar.” Semoga Allah bersama kalian”, kata Umar. Aku melihat kelembutan di hati Umar yang belum pernah kulihat selama ini. Ketika ‘Amir bin Rubai’ah datang -sebelumnya Amir sedang ke luar rumah untuk suatu keperluan-keperluan padanya perihal Umar tersebut. “Apakah kamu mengharapkan Umar masuk Islam?” tanya Amir. “Ya”, jawabku. “Ia tidak akan masuk Islam sebelum keledai Al-Khathab masuk Islam”, ujar Amir.

Kejadian ini benar-benar membekas di hati Umar. Ia merasakan dadanya sesak. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apa pun cobaan yang dihadapi pengikut agama baru ini, tapi mengapa mereka tetap bersikap tabah dan tegar. “Apa rahasia di balik kekuatan yang super dahsyat tersebut?” tanya Umar dalam hati. Ia pun merasa sedih dan hatinya merasa sesak. Tidak lama setelah kejadian ini, Umar pun masuk Islam karena doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Doa beliau inilah yang menjadi faktor utama yang menyebabkan Umar masuk Islam. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah berdoa, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan orang yang paling Engkau cintai dari kedua orang ini, dengan Abu Jahl bin Hisyam atau dengan Umar bin Al-Khathab.” (HR. At-Tirmidzi).

Dan, orang yang paling dicintai oleh Allah di antara keduanya adalah Umar bin Al-Khathab. Dan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan sebab untuk keislaman Umar.

Terdapat banyak riwayat yang menerangkan tentang sebab masuk Islamnya Umar. Ditinjau dari kualitas sanad-sanadnya, sebagian besar dari status riwayat tersebut tidak mencapai kualitas sahih. Dari berbagai riwayat yang penulis kutip dari berbagai buku sirah dan sejarah, maka kisah masuk Islamnya Umar dapat dikelompokkan ke dalam tema-tema berikut:

1. Tekad Umar untuk Membunuh Rasulullah

Orang-orang Quraisy pernah berkumpul dan bermufakat untuk membunuh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. “Siapa yang siap untuk membunuh Muhammad?” tanya mereka. “Saya siap untuk membunuhnya”, jawab Umar. “Andalah yang bertugas untuk membunuhnya, wahai Umar”, kata mereka. Umar pun keluar di siang hari yang sangat panas sambil menghunus pedangnya. Ia hendak membunuh Rasulullah dan beberapa orang di antara sahabatnya. Di antara mereka ada Abu Bakar, Ali bin Abu Thalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan beberapa orang dari kaum Muslimin yang tinggal bersama Rasulullah di Makkah dan tidak ikut berhijrah ke Habasyah. Orang-orang Quraisy menginformasikan kepada Umar bahwa Muhammad dan para sahabatnya sedang berkumpul di Darul Arqam, di bagian bawah bukit Shafa. Nu’aim bin Abdullah An-Nahham bertemu dengan Umar seraya berkata, “Hendak kemanakah engkau wahai Umar?” Umar menjawab, “Aku ingin mencari orang yang berpindah agama ini (Nabi Muhammad), yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya, aku ingin membunuhnya.” Nu’aim berkata, “Perjalanan yang paling jelek adalah perjalananmu wahai Umar. Demi Allah, nafsumu telah mengelabui dirimu, engkau terlalu bersikap berlebihan, engkau ingin membinasakan Bani Adiy, apakah engkau pikir Bani Abdi Manaf akan membiarkanmu berjalan di atas permukaan bumi ini apabila engkau ingin membunuh Muhammad?”.

Mereka terus berdialog hingga suara mereka makin meninggi, Umar berkata, “Menurutku engkau telah berpihak padanya, seandainya aku tahu pastilah engkau yang pertama aku bunuh.” Ketika Nu’aim melihat bahwa emosi Umar belum berakhir, ia berkata, “Aku beritahukan kepadamu bahwa keluargamu dan iparmu telah masuk Islam, mereka telah meninggalkanmu, sekarang engkau hanya berada dalam kesesatanmu.” Ketika Umar mendengar ucapan Nu’aim itu, ia berkata, “Siapa di antara mereka?” Nu’aim menjawab, “Iparmu, anak pamanmu, dan saudarimu.”

2. Umar Mendatangi Rumah Fathimah Saudarinya dengan Tiba-tiba dan Ketegaran Fathimah binti Al-Khathab di Hadapan Saudaranya

Ketika Umar mendengar bahwa saudarinya beserta suaminya telah masuk Islam, ia marah dan mendatangi mereka berdua, ketika ia mengetuk pintu, mereka berdua berkata, “Siapa ini?” Umar berkata, “Ibnu Al-Khathab.” Mereka berdua sedang membaca Al-Qur’an yang ada di tangan mereka, ketika mereka mendengar kedatangan Umar, mereka berdua segera bersembunyi. Ketika Umar memasuki rumah, Fathimah merasakan aroma kemarahan di wajahnya, Fathimah menyembunyikan lembaran-lembaran itu di bawah pahanya. Umar berkata, “Bisikan dan suara pelan apa yang aku dengar dari kamu tadi?” Saat itu mereka sedang membaca surat Thaha. Mereka berdua berkata, “Hanya cerita antara kami berdua.” Adik ipar Umar berkata, “Wahai Umar, bagaimana jika kebenaran berada di luar agamamu?” Umar menendang Sa’id adik iparnya dan menggenggam jenggotnya kuat sekali. Sa’id ia banting ke tanah, lalu menginjaknya dan kemudian menduduki dadanya. Fathimah menolak tubuh Umar dari atas tubuh suaminya, Umar memukulnya hingga wajahnya berdarah, Fathimah marah sambil berkata, “Wahai musuh Allah, apakah engkau memukul aku hanya karena aku mentauhidkan Allah?”, Umar berkata, “Ya.” Fathimah berkata, “Lakukanlah apa yang ingin engkau lakukan, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah, kami telah masuk Islam meskipun engkau tidak suka.”

Ketika Umar mendengarkan kata-kata itu, ia menyesal dan berdiri dari atas dada suami Fathimah, ia duduk, kemudian ia berkata, “Berikanlah kepadaku lembaran yang ada pada kamu, agar aku dapat membacanya.” Fathimah berkata, “Aku tidak akan memberikannya.” Umar berkata, “Celakalah engkau, apa engkau katakan itu telah merasuk ke dalam hatiku, berikanlah kepadaku agar aku dapat melihatnya, aku janjikan padamu bahwa aku tidak akan mengkhianatimu hingga engkau dapat menyimpannya di tempat yang engkau inginkan.” Fathimah berkata, “Engkau itu najis, ‘Tidak boleh menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci’, maka mandilah atau berwudhu!”. Umar keluar untuk mandi, kemudian ia kembali kepada saudarinya, Fathimah memberikan lembaran (Al-Qur’an), di dalamnya terdapat surat Thaha dan beberapa surat lain, ketika ia melihat, “Bismillahirrahmanirrahim” di dalam lembaran itu, ia terkejut, ia menjatuhkan lembaran itu dari tangannya, ia memikirkan dirinya, kemudian lembaran-lembaran itu ia ambil kembali, lembaran yang ia lihat berisi ayat, “Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaa’ul husna (nama-nama yang baik).” (Thaaha: 1-8)

Ayat demi ayat itu terasa agung di dadanya, lalu ia berkata, “Kaum Quraisy lari dari ini.” Kemudian ia meneruskan bacaannya hingga ke ayat, “Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.” (Thaaha: 14-16).

Kemudian Umar berkata, “Yang mengatakan ini, maka pastilah tidak ada (tuhan) lain yang disembah bersama-Nya. Tunjukkan kepadaku tempat Muhammad.”

3. Umar Menemui Rasulullah dan Mengikrarkan Diri Masuk Islam

Ketika Umar mendengar apa yang disampaikan Khabab, Umar keluar dari rumah secara sembunyi-sembunyi. Kepada Umar, Khabab mengatakan, “Kusampaikan berita gembira untukmu, wahai Umar. Aku berharap, mudah-mudahan doa Rasulullah hari Senin kemarin telah terkabul. Beliau berdoa, “Ya Allah, muliakanlah/kokohkanlah Islam dengan orang yang paling Engkau cintai dari kedua orang ini: dengan Abu Jahl bin Hisyam atau dengan Umar bin Al-Khathab.” (HR. At-Tirmidzi).”

“Tunjukkanlah padaku, di mana tempat Rasulullah!” kata Umar. Setelah mengetahu ketulusan niat Umar untuk menemui Rasul, maka mereka menjawab, “Beliau sekarang berada di lembah bukit Shafa.” Setelah itu, Umar mengambil dan menghunus pedangnya. Lalu ia pergi ke lembah bukit Shafa untuk menemui Rasulullah dan para sahabatnya.

Setiba di sana, Umar mengetuk pintu. Mendengar suara Umar, para sahabat merasa takut dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani membuka pintu. “Apa yang terjadi pada kalian?” tanya Hamzah. “Umar bin Al-Khathab berada di luar rumah dan ia ingin bertemu dengan Rasulullah”, jawab mereka. “Umar bin Al-Khathab!” kata Hamzah. Hamzah lalu menyuruh mereka untuk membukakan pintu. “Bila Allah menghendaki kebaikan terhadap dia, maka ia akan masuk Islam. Bila Dia menghendaki yang lain,maka hal itu akan menjadi fitnah”, kata Hamzah. Mereka pun membukakan pintu untuk Umar. Hamzah dan dibantu satu orang memegang lengan Umar hingga mereka berdua membawa Umar ke hadapan Rasulullah. “Lepaskanlah dia!” kata Rasulullah. Rasulullah berdiri dan mengikatkan sorbannya dengan kencang. “Apa gerangan Anda datang ke mari, wahai Umar?” tanya beliau. Umar menjawab, “Ya Rasulullah, saya datang kemari untuk menemui Anda dan saya berikrar beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada apa yang dibawanya dari sisi Allah.” Mendengar hal itu, Rasulullah langsung bertakbir “Allahu Akbar.” Para sahabat yang berada di dalam rumah itu pun tahu kalau Umar telah masuk Islam. Mereka bubar. Hati mereka merasa kuat dengan masuk Islamnya Umar dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka tahu kalau kedua orang ini akan melindungi Rasulullah dari musuh-musuh mereka.” (HR. Ahmad)

4. Tekad Umar untuk Mendakwahkan Islam Secara Terang-terangan dan Kesungguhannya Memikul Berbagai Kesulitan di Jalan Dakwah

Umar masuk Islam dengan hati yang tulus. Ia berusaha mengokohkan agama Islam dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Ia pernah mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ya Rasulullah, bukankah kita berada di pihak yang benar bila kita mati dan bila kita hidup?” Beliau menjawab, “Benar. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya kalian berada di pihak yang benar bila kalian mati dan bila kalian hidup.” Umar berkata, “Lantas mengapa dakwah Islam kita lakukan secara sembunyi-sembunyi? Demi Dzat yang mengutus Anda dengan kebenaran, kami semua akan keluar dari rumah ini.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat bahwa telah tiba saatnya untuk berdakwah secara terang-terangan. Dakwah Islam telah kuat dan dapat membela dirinya sendiri. Maka beliau pun mengizinkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Beliau keluar dari Darul Arqam bersama kaum Muslimin dengan membentuk dua barisan. Satu barisan dipimpin oleh Umar bin Al-Khathab dan satu barisan lagi dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Tatkala orang-orang Quraisy melihat Umar dan Hamzah memimpin barisan kaum Muslimin, mereka tertimpa kesedihan yang belum pernah mereka alami selama ini. Rasulullah saat itu memberi Umar gelar Al-Faruq (pemisah antara yang hak dan yang batil). (HR. Ahmad)

Allah telah mengokohkan agama Islam dan kaum Muslimin dengan masuk Islamnya Umar. Umar adalah orang yang sadar akan harga diri. Ia tidak peduli apa resiko yang akan terjadi di belakangnya. Allah telah melindungi para sahabat nabi dengan Umar dan dengan Hamzah.

Umar bin Al-Khathab menantang orang-orang Musyrik Quraisy. Ia melawan/memerangi mereka hingga akhirnya ia dan kaum Muslimin dapat menunaikan shalat di Ka’bah. Umar tetap berusaha dengan sungguh-sungguh dengan segenap kemampuannya untuk melawan dan memerangi musuh-musuh Islam. Tentang dirinya, ia bercerita, “Aku bertekad ingin dilihat mereka sebagai orang Islam. Aku pergi menemui pamanku, Abu Jahal. Abu Jahal termasuk orang terpandang di mata mereka. Kuketuk pintu rumahnya, “Siapa yang mengetuk pintu?” tanya Abu Jahal. Kujawab, “Umar bin Al-Khathab.” Ia pun keluar menemuiku. Kutanyakan pada Abu Jahal, “Apakah Anda sudah tahu kalau aku telah Murtad (telah masuk Islam)?” Abu Jahal balik bertanya, “Apakah Anda serius telah Murtad?” Kujawab, “Ya, aku serius.” “Jangan lakukan itu”, pinta Abu Jahal. Kujawab, “Saya serius telah Murtad.” “Jangan lakukan itu”, pinta Abu Jahal. Kujawab, “Saya serius telah Murtad.” “Jangan lakukan itu”, pinta Abu Jahal, lalu ia masuk ke dalam rumahnya. Ia menutup pintu dan tidak menghiraukanku. Setelah itu, aku pergi menemui salah seorang tokoh terpandang Quraisy. Sesampai di sana, kuketuk pintu rumahnya, “Siapa di luar?” tanyanya. Kujawab, “Umar bin Al-Khathab.” Ia keluar menemuiku. Kutanyakan padanya, “Apakah Anda sudah tahu kalau aku telah Murtad?” Ia balik bertanya, “Apakah Anda serius telah Murtad?” “Ya, aku serius”, jawabku. “Jangan lakukan itu!” pintanya, lalu ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Seorang laki-laki pernah bertanya kepada saya, “Apakah Anda ingin keislaman Anda diketahui publik?” “Ya”, jawabku. Lalu ia menyarankan, “Bila orang-orang Quraisy duduk-duduk di Hajar Aswad, maka temuilah orang itu, Jamil bin Ma’mar Al-Jamhi!” Setelah itu, aku duduk di samping Jamil bin Ma’mar Al-Jamhi. Kutanyakan kepada Jamil, “Apakah Anda sudah mengetahui kalau aku telah Murtad?” Tatkala orang-orang Quraisy duduk di Hajar Aswad, Jamil langsung berdiri dan menyerukan dengan suara lantang, “Hai orang-orang Quraisy, Umar bin Al-Khathab telah Murtad.” Orang-orang Quraisy serentak menyerangku dan aku pun balik membalas serangan mereka.

Dirawikan dari Abdullah bin Umar, ia bercerita, “Tatkala Umar masuk Islam, orang-orang Quraisy belum mengetahui keislamannya. Umar bertanya, “Siapa di antara penduduk Makkah yang dapat menyebarluaskan informasi tentang keislamanku?” Dikatakan pada Umar, “Jamil bin Ma’mar Al-Jamhi.” Umar keluar dan aku mengikuti di belakangnya. Aku perhatikan apa saja yang dilakukan Umar. Saat itu, aku masih anak-anak, tapi aku sudah dapat memahami apa yang kulihat dan kudengar. Umar menemui Jamil dan menyampaikan padanya, “Wahai Jamil, aku telah masuk Islam.” Demi Allah, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya hingga ia menarik sorbannya. Umar mengikuti Jamil dan aku pun mengikuti ayahku, Umar. Setiba di masjid, Jamil berdiri tepat di pintu masjid dan berteriak dengan suara lantang, “Wahai orang-orang Quraisy -saat itu orang-orang Quraisy sedang berada di sekitar Ka’bah-! Ketahuilah, bahwasanya Umar bin Al-Khathab telah Murtad!” Umar berujar, “Jamil telah berdusta. Yang benar, aku telah masuk Islam. Aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”

Setelah itu, orang-orang Quraisy menyerang Umar. Umar lalu menangkap ‘Utbah bin Rubaiah. Umar memasukkan kedua jari tangannya tepat di mata ‘Utbah. ‘Utbah berteriak. Orang-orang Quraisy pun menjauhi Umar. Umar lalu berdiri dan tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya hingga akhirnya orang-orang Quraisy bubar. Umar mengikuti majelis-majelis mereka dan menampakkan keislamannya di dalam majelis-majelis tersebut.

Umar terus menyerang mereka hingga mentari berada tepat di atas kepala mereka. Umar merasa lelah, lalu duduk dan beristirahat. Tidak lama kemudian, orang-orang Quraisy menghampirinya. Kepada mereka, Umar mengatakan, “Lakukanlah apa yang hendak kalian lakukan. Demi Allah, sekiranya kami berjumlah tiga ratus orang laki-laki, niscaya kalian akan membiarkannya untuk kami atau kami membiarkannya untuk kalian.” Tidak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki yang mengenakan sutra dan gamis berbordir. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya laki-laki itu kepada mereka. Mereka menjawab, “Umar bin Al-Khathab telah Murtad.” Laki-laki itu mengatakan, “Biarkanlah dia! Ia telah memilih agama untuk dirinya sendiri. Apakah kalian mengira bahwa Bani Adiy akan menyerahkan begitu saja anggota suku mereka kepada kalian?” Setelah di Madinah, aku bertanya kepada Umar, “Wahai ayahku, siapa nama orang yang dulu pernah mencegah ayah dari amukan orang-orang Quraisy?” Umar menjawab, “Wahai anakku, dia adalah Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi.” (HR. Imam Ahmad)

5. Pengaruh Keislaman Umar terhadap Dakwah Islam

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Posisi kami menjadi kuat sejak Umar bin Al-Khathab masuk Islam. Anda telah melihat kami tidak dapat melakukan tawaf dan shalat di Ka’bah hingga Umar bin Al-Khathab masuk Islam. Tatkala ia masuk Islam, ia memerangi mereka (orang-orang Musyrik Quraisy) dan akhirnya mereka membiarkan kami menunaikan shalat dan tawaf.” (HR. Ahmad)

Abdullah bin Mas’ud juga pernah mengatakan, “Keislaman Umar bin Al-Khathab adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Anda telah melihat kami tidak dapat melakukan thawaf dan shalat di Ka’bah hingga Umar masuk Islam. Tatkala Umar masuk Islam, ia memerangi mereka (orang-orang Musyrik Quraisy) dan akhirnya mereka membiarkan kami menunaikan shalat dan thawaf di Ka’bah.”

Shuhaib bin Sinan bercerita, “Tatkala Umar bin Al-Khathab masuk Islam, ia menampakkan keislamannya dan mengajak untuk berdakwah secara terbuka. Kami duduk di sekitar Ka’bah dengan membentuk halaqah, melakukan thawaf di Ka’bah, dan berjalan dengan membentuk barisan menghadapi orang yang berlaku kasar kepada kami.”

Benar apa yang diungkapkan seorang penyair mengenai Umar dalam bait-bait syair berikut:

Adalah Al-Faruq yang telah memisahkan dengan pedang antara kekufuran dan keimanan.

Ia tampakkan Islam setelah sebelumnya sembunyi-sembunyi. Ia hapus kegelapan dan ia tampakkan dakwah Islam yang sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

6. Sejarah Keislaman Umar dan Jumlah Kaum Muslimin Saat Ia Masuk Islam

Umar masuk Islam pada bulan Dzulhijjah tahun 6 dari kenabian. Saat itu, ia berusia 27 tahun. Ia masuk Islam tiga hari sesudah Hamzah masuk Islam. Pada masa itu, umat Islam berjumlah 39 orang. Tentang hal ini, Umar bercerita, “Saya masuk Islam dan jumlah orang yang bersama Rasulullah saat itu sebanyak 39 orang laki-laki. Saya melengkapi jumlah mereka sehingga genap 40 orang. Maka Allah menampakkan dan mengokohkan agama Islam.”

Dirawikan bahwa jumlah umat Islam saat itu 40 orang laki-laki atau 40 sekian orang dan 11 orang wanita. Akan tetapi, Umar tidak mengetahui persis jumlah mereka. Sebab, sebagian besar mereka masih menyembunyikan keislaman mereka karena khawatir diketahui orang-orang Musyrik Quraisy. Apalagi Umar sebelumnya termasuk orang yang sangat keras dan kasar kepada mereka. Karena itu, Umar menyebut kalau ia hanya menggenapkan jumlah mereka menjadi 40 orang dan ia tidak menyebut kaum wanita yang telah memeluk agama Islam.

B. Kisah Hijrah Umar bin Al-Khathab

Tatkala Umar bin Al-Khathab berniat hijrah ke Madinah, ia enggan melakukannya kecuali berhijrah secara terang-terangan. Tentang hal ini, Ibnu Abbas bercerita, “Ali bin Abu Thalib pernah mengutarakan kepada saya, “Saya tidak mengetahui seorang pun di antara kaum Muslimin yang berhijrah kecuali berhijrah secara sembunyi-sembunyi selain Umar bin Al-Khathab. Tatkala ia berniat untuk berhijrah, ia menghunus pedangnya, meletakkan busur di pundaknya, memegang beberapa buah anak panah dan membawa tombak, lalu ia berjalan menuju Ka’bah. Pada saat itu, beberapa orang Quraisy sedang berada di halaman Ka’bah. Umar thawaf di Ka’bah tujuh keliling, lalu shalat di Maqam Ibrahim dengan tenang. Kemudian, ia menghampiri orang-orang Quraisy satu persatu. Kepada mereka, Umar mengatakan, “Siapa yang ingin ibunya celaka, anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda, maka hendaklah ia temui aku di lembah ini!” Ali bin Abu Thalib selanjutnya bercerita, “Tidak ada seorang pun yang mengikuti Umar berhijrah kecuali orang-orang papa. Maka Umar pun membimbing mereka, lalu berangkat ke Madinah.”

Umar bin Al-Khathab tiba di Madinah sebelum Nabi tiba di sana. Ia berhijrah bersama beberapa orang dari anggota keluarga dan kaumnya. Di antara mereka yang ikut berhijrah bersama Umar adalah saudaranya, Zaid bin Al-Khathab, Amr, dan Abdullah: keduanya putra Suraqah bin Al-Mu’tamir, Khunais bin Hadzafah As-Sahmi, suami dari putrinya, Hafshah, putra pamannya, Sa’id bin Zaid, ia termasuk salah satu di antara sepuluh orang yang diberitakan masuk Surga, Waqid bin Abdullah At-Tamimi, ia termasuk sekutu mereka, Khauli bin Abu Khauli, Malik bin Abu Khauli, dua orang sekutu mereka dari Bani ‘Ijl dan Bani Al-Bakir: Iyas dan Khalid, ‘Aqil, ‘Amir, dan beberapa orang sekutu mereka dari Bani Sa’ad bin Laits. Mereka singgah di rumah Rifa’ah bin Abd Al-Mundzir di perkampungan Amr bin ‘Auf di daerah Quba.

Al-Bara’ bin ‘Azib bercerita, “Orang pertama yang tiba di Madinah adalah Mash’ab bin ‘Umair dan Ibnu Abu Maktum. Mereka berdua mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Madinah. Setelah itu, Bilal, Saad, dan ‘Ammar bin Yasir, lalu menyusul Umar bin Al-Khathab bersama 20 orang dari sahabat nabi. Kemudian, Nabi tiba di Madinah. Aku belum pernah melihat penduduk Madinah merasa gembira seperti perasaan gembira mereka menyambut kedatangan Rasulullah.” (HR. Al-Bukhari)

Demikianlah, Umar bin Al-Khathab berjuang membela agama dan akidahnya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Ia tidak gentar menghadapi siapa pun. Ia menjadi sandaran dan penolong bagi orang Islam yang hendak hijrah dari Makkah ke Madinah. Ia hijrah bersama rombongan besar dari anggota keluarga dan sekutu kaumnya. Ia membantu para sahabatnya yang ingin berhijrah. Ia khawatir bila ada fitnah dan cobaan yang menimpa mereka.

Mari kita simak cerita Umar sendiri tentang hal ini. Umar bercerita, “Tatkala kami hendak berhijrah ke Madinah, saya berjanji dengan Iyasy bin Abu Rubaiah dan Hisyam bin Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi untuk bertemu di sebuah pohon yang berada di At-Tanadhub, dekat Oase Bani Ghifar di lembah Sarif. Kami bertiga sepakat bahwa siapa di antara kami yang belum sampai di lembah itu pagi harinya, berarti ia telah tertahan dan hendaklah ia meninggalkan kedua temannya.”

Umar selanjutnya bercerita, “Esok paginya, saya dan Iyasy tiba di At-Tanadhub, sedang Hisyam telah tertahan oleh orang-orang Quraisy. Tatkala kami sampai di Madinah, kami singgah di perkampungan Bani Amr bin ‘Auf di daerah Quba. Abu Jahl bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam datang menemui Iyasy bin Abi Rubaiah. Iyasy adalah putra paman mereka dan saudara seibu dengan mereka. Mereka berdua menyusul kami ke Madinah sedang Rasulullah masih berada di Makkah. Mereka berdua mengatakan kepada Iyasy, “Ibumu telah bersumpah tidak akan menyisir rambutnya dan tidak akan berteduh dari terik mentari sampai dia melihat kamu.” Hati Iyasy tidak kuasa mendengar kondisi ibundanya. Kukatakan pada Iyasy, “Hai Iyasy, demi Allah, mereka berdua tidak menginginkan kecuali kamu Murtad dari agamamu. Karena itu, tinggalkanlah mereka berdua!” Iyasy menjawab, “Saya akan menembus sumpah ibuku. Saya masih punya harta yang tertinggal di sana (Makkah) dan saya akan mengambilnya.” Kukatakan lagi pada Iyasy, “Demi Allah, bukankah kamu sudah tahu kalau aku ini adalah orang Quraisy yang paling berlimpah hartanya. Aku akan berikan kepadamu separuh dari hartaku asalkan kamu tidak ikut pergi bersama mereka berdua!”

Umar selanjutnya bercerita, “Iyasy menolak tawaranku dan ia tetap ikut pergi bersama mereka berdua. Ketika Iyasy tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk tetap ikut pergi bersama mereka, kukatakan padanya, “Bila kamu tetap bersikukuh untuk ikut pergi bersama mereka, maka gunakanlah unta tungganganku ini! Unta ini sangat nyaman ditunggangi. Tetaplah kamu menungganginya! Bila kamu melihat gelagat kurang baik dari mereka, maka selamatkanlah dirimu dengan unta tunggangan ini!” Iyasy pun pergi bersama mereka. Di tengah jalan, Abu Jahl mengatakan kepada Iyasy, “Wahai saudaraku, unta tungganganku ini sudah mengalami kelelahan, bolehkah aku tunggangi unta tungganganmu ini?” “Boleh”, jawab Iyasy. Mereka berdua tetap berupaya meyakinkan Iyasy, lalu mereka memasuki kota Makkah. Mereka berdua berusaha memfitnah Iyasy hingga Iyasy termakan fitnah mereka.”

Umar berkata, “Kami mengatakan, Allah tidak akan menerima tindakan dan taubat mereka yang telah mengenal Allah, lalu mereka kembali menjadi kafir, disebabkan karena cobaan yang menimpa mereka.”

Umar selanjutnya bercerita, “Tatkala Nabi sampai di Madinah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat tentang mereka dan perkataan mereka tentang diri mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan, kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan, ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (Az-Zumar: 53-55).

Umar bin Al-Khathab mengatakan, “Kutuliskan tiga ayat ini di atas secarik kertas, lalu kukirim kepada Hisyam bin ‘Ash.” Umar lalu bercerita, “Hisyam berkata, “Setelah surat Umar itu sampai ke tangan saya, lalu saya membacanya di Dzu Thuwa, nama sebuah lembah di Makkah. Aku naik ke puncak bukit sambil membawa surat tersebut. Saya terus membacanya berkali-kali, tapi saya tidak dapat memahaminya, hingga akhirnya saya berdoa, “Ya Allah, ilhamilah aku pemahaman terhadap ayat ini!” Husyam mengatakan, “Allah mengilhamkan pemahaman ke dalam hati saya untuk memahami ayat-ayat tersebut. Akhirnya aku sadar bahwa ayat-ayat itu turun berkaitan dengan kami dan dengan apa yang kami katakan tentang diri kami sendiri.” Husyam selanjutnya mengatakan, “Setelah memahami maksud ayat-ayat itu, saya langsung turun dari bukit dan menunggangi unta kendaraan saya, lalu menyusul Rasulullah yang sudah berada di Madinah.”

Peristiwa ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana Umar menyusun strategi hijrah bagi dirinya dan kedua orang sahabatnya: Iyasy bin Abu Rubaiah dan Hisyam bin Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi. Mereka bertiga berasal dari satu kabilah. Tempat pertemuan yang mereka tentukan berada jauh dari kota Makkah dan tepat di jalur menuju kota Madinah. Mereka telah menentukan waktu dan tempat bertemu secara pasti, dan bila salah seorang di antara mereka bertiga terlambat sampai di tempat itu, maka hendaklah ia meninggalkan kedua orang sahabatnya dan jangan menunggu kedatangan keduanya. Sebab, boleh jadi ia telah tertahan orang-orang Quraisy. Yang terjadi persis seperti yang mereka perkirakan. Hisyam bin Al-‘Ash tertahan orang-orang Quraisy, sedang Umar dan Iyasy meneruskan perjalanan hijrah mereka. Strategi ini benar-benar sukses. Mereka berdua tiba di Madinah dengan selamat. Akan tetapi, orang-orang Quraisy bertekad untuk mengejar orang-orang yang berhijrah ke Madinah. Karenanya, mereka mempersiapkan strategi jitu yang dilaksanakan oleh Abu Jahl dan Al-Harits. Keduanya adalah saudara seibu dengan Iyasy, maka Iyasy merasa tenang dengan mereka berdua. Apalagi hal yang mereka berdua sampaikan berkaitan dengan kondisi ibundanya. Abu Jahl sengaja membuat tipu daya ini, karena ia tahu betul kalau Iyasy sangat menyayangi ibundanya. Hal ini tampak jelas ketika ia menyetujui untuk pulang kembali ke Makkah bersama mereka berdua.

Peristiwa ini juga menunjukkan akan intuisi Umar yang sangat tajam, di mana firasatnya benar tentang perkara penculikan Iyasy. Peristiwa ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan rasa persaudaraan yang telah dibangun Islam. Umar rela berkorban dengan memberikan separuh hartanya demi keselamatan saudaranya, Iyasy. Umar khawatir kalau-kalau orang-orang Quraisy memaksa Iyasy untuk Murtad setelah kembali ke Makkah. Akan tetapi, Iyasy terkalahkan oleh perasaannya terhadap ibundanya. Ia memilih berbakti kepada ibundanya dan memutuskan untuk kembali ke Makkah untuk menebus sumpah ibundanya serta mengambil hartanya yang masih tertinggal di sana. Ia enggan menerima separuh harta saudaranya, Umar bin Al-Khathab. Harta Umar masih berada di Makkah dan belum tersentuh. Tapi karena pandangan Umar lebih jauh dan ia seakan-akan dapat memperkirakan apa yang akan menimpa Iyasy bila kembali ke Makkah, dan ia gagal untuk meyakinkannya, maka ia menyerahkan unta tunggangannya kepada Iyasy. Dan terbukti Iyasy hanya ditipu oleh orang-orang Musyrik Quraisy, sebagaimana dugaan Umar sebelumnya.

Di tengah-tengah masyarakat Islam saat itu tersebar kabar bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima taubat mereka yang termakan fitnah dan kembali menjadi kafir serta hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya, “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (Az-Zumar: 53-55).

Segera setelah ayat ini turun, Umar langsung mengirimkan sepucuk surat yang berisi ayat-ayat ini kepada kedua orang sahabat karibnya: Iyasy dan Husyam. Tujuannya agar mereka berdua berupaya kembali untuk meninggalkan Makkah. Umar telah berupaya menawarkan separuh hartanya kepada Iyasy asalkan ia tidak meninggalkan Madinah. Umar juga memberikan unta tunggangannya kepada Iyasy agar ia dapat melarikan diri dari Abu Jahl dan Al-Harits. Akan tetapi, usaha Umar ini tidak diindahkan Iyasy. Iyasy menolak nasihatnya dan bersikukuh pada pendapatnya sendiri. Perasaan cinta terhadap saudaranya inilah yang bersemayam di hati Umar. Sesaat setelah turun ayat 53-55 dari surat Az-Zumar, Umar langsung mengirimkan sepucuk surat kepada kedua orang sahabat karibnya di Makkah dan kepada setiap orang lemah yang masih berada di sana, agar mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk bergabung dengan kaum Muslimin di Madinah.

Umar pun tiba di Madinah. Ia menjadi pembantu setia bagi Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Beliau mempersaudarakan Umar dengan ‘Uwaim bin Sa’idah. Dikatakan, dengan Utbah bin Malik atau dengan Mu’adz bin Afra’. Tentang hal ini, Ibnu Abd Al-Hadi berkomentar, “Tidak ada kontradiksi di antara riwayat-riwayat tersebut. Boleh jadi, Rasulullah telah mempersaudarakan Umar dengan mereka dalam waktu yang berbeda-beda. Tidak mustahil bila Nabi mempersaudarakan antara Umar dengan mereka bertiga dalam waktu yang berbeda.”

Sumber: Buku Biografi Umar bin Al-Khathab oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like