Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam masyarakat Madinah penuh dengan nilai-nilai yang bisa menjadi pelajaran, ibrah, dan keteladanan. Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq di tengah masyarakat Madinah meninggalkan kepada kita contoh hidup pemahaman tentang Islam dan mengimplementasikannya di dunia manusia. Kepribadian Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki banyak sifat besar dan dipuji oleh Rasulullah dalam banyak hadits serta menggambarkan keutamaan dan kelebihannya atas banyak sahabat yang lain.

Di antara Jejak Rekam Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Masyarakat Madinah.

  • Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap seorang pendeta Yahudi bernama Finhash.

Banyak penulis sirah dan ulama tafsir menceritakan bahwa pada suatu ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk menemui orang-orang Yahudi di Al-Midras (tempat yang digunakan oleh kaum Yahudi untuk membaca Taurat). Di dalamnya, ia mendapati sejumlah orang yang berkumpul di dekat salah seorang dari mereka yang dikenal dengan nama Finhash. Ia adalah salah satu ulama dan pendeta Yahudi. Waktu itu ia didampingi oleh salah seorang pendeta mereka bernama Asyya’. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada Finhash, “Celaka kamu! Bertakwalah kamu kepada Allah dan masuklah Islam. Karena sungguh demi Allah, kamu sebenarnya mengetahui betul bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Beliau telah datang kepada kalian dengan membawa kebenaran dari sisi-Nya. Kalian mendapati beliau termaktub dalam Taurat dan Injil.”

Lalu Finhash berkata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Sungguh wahai Abu Bakar, kami tidak butuh sedikit pun kepada Allah, dan sesungguhnya Allah butuh kepada kami. Kami tidak mendekatkan diri memohon-mohon kepada-Nya sebagaimana Dia mendekatkan diri memohon kepada kami. Dan kami benar-benar tidak butuh kepada-Nya, dan sesungguhnya Dia butuh kepada kami. Seandainya Dia kaya dan tidak butuh kepada kami, tentu Dia tidak akan meminjam hutangan harta kepada kami sebagaimana yang dikatakan oleh kawanmu (maksudnya adalah Rasulullah). Dia melarang kalian dari riba dan Dia memberi riba kepada kami, seandainya Dia kaya, tentu Dia tidak akan bersedia memberi riba kepada kami.”

Mendengar perkataan Finhash tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun sontak langsung marah besar dan memukul muka Finhash dengan sangat keras, dan berkata, “Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya bukan karena adanya perjanjian antara kami dan kamu, sungguh kepalamu sudah aku pukuli wahai musuh Allah.”

Mendapatkan perlakuan seperti itu, Finhash pun lantas pergi mengadukan hal itu kepada Rasulullah, dan berkata, “Wahai Muhammad, lihatlah apa yang telah diperbuat oleh sahabatmu terhadapku.” Lalu Rasulullah meminta klarifikasi kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, “Apa yang telah mendorong kamu untuk melakukan apa yang kamu perbuat itu?” Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya musuh Allah ini telah mengatakan perkataan yang serius. Ia menyangka bahwa Allah fakir sedang mereka adalah kaya. Ketika ia mengatakan hal itu, sontak saja saya langsung marah karena Allah atas ucapannya itu dan saya langsung memukul wajahnya.” Namun Finhash menyangkal semua itu dan berkata, “Aku tidak pernah mengatakan seperti itu.” Lalu Allah pun menurunkan ayat menyangkut apa yang dikatakan oleh Finhash tersebut sebagai sanggahan terhadapnya sekaligus mengkonfirmasi kebenaran Abu Bakar Ash-Shiddiq,

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah olehmu adzab yang membakar.” (Ali Imran: 181).

Sedangkan menyangkut diri Abu Bakar Ash-Shiddiq berikut kemarahannya tersebut, maka turunlah ayat,

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Ali Imran: 186).

  • Menjaga rahasia Rasulullah.

Umar bin Al-Khathab berkata, “Hafshah menjadi janda karena ditinggal mati suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah dan ia termasuk salah satu personil dalam Perang Badar. Lalu aku menemui Utsman bin Affan dan berkata kepadanya, “Jika bersedia, saya akan menikahkan Anda dengan Hafshah.” Lalu Utsman bin Affan berkata, “Beri saya waktu untuk berpikir terlebih dahulu, kemudian temui saya kembali.” Lalu Utsman bin Affan kembali berkata, “Sepertinya, untuk saat-saat ini aku tidak ingin menikah.”

Umar bin Al-Khathab melanjutkan ceritanya, “Lalu aku pergi menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan menawarkan Hafshah kepadanya. Namun ia tidak memberikan tanggapan. Kekecewaanku kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih besar daripada kekecewaanku kepada Utsman.

Beberapa malam pun berlalu, hingga akhirnya kemudian Rasulullah meminang Hafshah, lalu aku pun menikahkan beliau dengannya. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq menemuiku dan berkata, “Mungkin kemarin Anda merasa kecewa kepadaku ketika aku tidak memberikan respon dan jawaban terhadap tawaran Anda.” Aku berkata, “Betul.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk memberikan jawaban melainkan bahwa aku mengetahui kalau Rasulullah pernah menyebut nama Hafshah, maka aku pun tidak ingin membuka rahasia beliau. Dan seandainya beliau tidak menikahinya, tentu aku akan menikahinya.”

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq dan ayat shalat jumu’ah.

Jabir bin Abdullah berkata, “Pada saat Rasulullah sedang menyampaikan khutbah pada hari jumu’ah, kafilah dagang Madinah datang, lalu orang-orang pun bergegas menghampiri kafilah dagang tersebut hingga hanya tersisa dua belas orang saja yang masih bersama Rasulullah lalu turunlah ayat,

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan.” Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Al-Jumu’ah: 11).

Jabir bin Abdullah berkata, “Di antara dua belas orang yang masih tetap bertahan di tempat bersama Rasulullah tersebut adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab.”

  • Rasulullah menyatakan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq steril dari sikap sombong.

Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena didorong oleh sikap sombong, maka pada Hari Kiamat kelak Allah tidak berkenan melihat kepadanya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi pakaianku sering kali menjuntai dengan sendirinya ketika saya biarkan dan lupa untuk memeganginya.” Lalu Rasulullah berkata, “Sesungguhnya kamu tidak melakukan hal itu karena motif sombong.”

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sikap kehati-hatian dan ketelitiannya tentang yang halal.

Diriwayatkan oleh Qais bin Abu Hazim, ia berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki seorang pembantu. Jika si pembantu datang membawa hasil usahanya, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak langsung mengonsumsinya hingga ia menanyakan lebih dulu statusnya. Jika itu adalah sesuatu yang jelas status kehalalannya, maka ia akan mengonsumsinya. Namun jika itu adalah sesuatu yang belum jelas statusnya, maka tidak akan ia makan.

Lalu pada suatu malam, ia lupa menanyakan dan langsung mengonsumsinya. Kemudian setelah itu ia baru ingat, lalu ia pun menanyakan kepada si pembantu, lalu si pembantu itu pun menjawab tentang asal-usul makanan tersebut, dan ternyata itu adalah sesuatu yang statusnya tidak jelas, maka ia pun langsung memasukkan tangannya ke dalam tenggorokan untuk memuntahkan kembali semua apa yang telah ia makan itu, hingga tidak ada yang tersisa lagi dalam perut.”

Itu adalah contoh yang menggambarkan bagaimana sikap wira’i Abu Bakar Ash-Shiddiq, bagaimana ia begitu berhati-hati dan teliti menyangkut kehalalan apa yang ia konsumsi serta sangat anti terhadap hal-hal yang masih syubhat dan tidak jelas statusnya. Sifat ini menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq mencapai derajat tertinggi ketakwaan.

Sudah tidak samar lagi signifikansi kehalalan makanan, minuman, dan pakaian dalam agama, dan itu memiliki hubungan yang erat dengan masalah diperkenankan tidaknya doa seseorang. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits tentang orang yang rambutnya acak-acakan dan tubuhnya yang kusut dan lusuh. Di dalamnya disebutkan, “Orang itu menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa, “Ya Rabbi, ya Rabbi,” sedang makanan yang dikonsumsinya adalah haram, minuman yang ia minum adalah haram, pakaian yang ia kenakan adalah haram, dan ia tumbuh berkembang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya itu akan diperkenankan.”

  • Masukkanlah saya ke dalam perdamaian Anda berdua sebagaimana Anda berdua memasukkan saya ke dalam percekcokan Anda berdua.

Pada suatu kesempatan, Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk menemui Rasulullah, lalu ia mendengar Aisyah berkata-kata dengan suara tinggi. Setelah berada di dekat Aisyah, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq hendak menamparnya dan berkata, “Aku melihat kamu meninggikan suaramu terhadap Rasulullah.” Lalu Rasulullah pun mencegah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan ia pun keluar dalam keadaan marah. Lalu Rasulullah berkata kepada Aisyah setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq keluar, “Tidakkah kamu lihat bagaimana aku telah menyelamatkanmu dari ayahmu?” Setelah beberapa hari berlalu, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun kembali pergi mengunjungi Rasulullah, lalu ia mendapati beliau dan Aisyah telah berdamai dan akur kembali. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Masukkanlah saya ke dalam perdamaian dan keakuran Anda berdua, sebagaimana Anda berdua telah memasukkan saya ke dalam percekcokan Anda berdua.” Lalu Rasulullah berkata, “Baiklah.”

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam bidang amar makruf nahi munkar.

Pada suatu hari raya, Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk menemui Aisyah yang waktu itu ditemani oleh dua sahaya perempuan kaum Anshar yang sedang bernyanyi. Melihat hal itu, Abu Baka Ash-Shiddiq pun berkata, “Apakah kalian bermain dengan mazmur (seruling) setan di rumah Rasulullah?” Waktu itu, Rasulullah menghadap ke tembok, bukan menghadap kepada kedua sahaya perempuan tersebut. Lalu beliau berkata, “Wahai Abu Bakar, setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.”

Dalam hadits di atas terdapat keterangan bahwa kejadian itu bukanlah kebiasaan Rasulullah dan para sahabat, yaitu berkumpul dan mendengarkan nyanyian. Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyebutnya dengan mizmar atau seruling setan. Sementara itu, Rasulullah melegitimasi para sahaya perempuan tersebut melakukan hal itu dengan menjelaskan alasannya, yaitu bahwa hari itu adalah hari raya, sementara anak-anak diperbolehkan bermain-main pada hari raya, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits, “Supaya orang-orang musyrik tahu bahwa ada kelapangan dan keluasan dalam agama kita.”

Aisyah memiliki mainan yang ia gunakan untuk bermain dan mengajak teman-temannya bermain dengannya. Dalam hadits tentang dua sahaya perempuan yang bernyanyi tersebut tidak memuat pengertian bahwa Rasulullah mendengarkannya, sementara perintah dan larangan tidak lain berhubungan dengan mendengarkan bukan hanya semata-mata mendengar.

Dari itu, kami memahami bahwa diperbolehkan bermain pada hari raya bagi orang yang memang pantas bermain, seperti dua sahaya perempuan yang masih kecil tersebut yang bernyanyi di rumah Aisyah pada hari raya.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq memuliakan tamu.

Abdurrahman bin Abu Bakar berkata, “Bahwa kaum shuffah adalah orang-orang miskin. Lalu pada suatu kesempatan, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memiliki makanan yang cukup untuk dua orang, maka hendaklah ia mengajak orang ketiga. Barangsiapa yang memiliki makanan yang cukup untuk empat orang, maka hendaklah ia mengajak orang kelima. Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajak tiga orang untuk makan.

Pada suatu kesempatan, Abu Bakar Ash-Shiddiq makan malam bersama Rasulullah. Setelah malam pun mulai berlalu, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq baru pulang ke rumah. Lalu istrinya berkata kepadanya, “Apa yang telah membuat kamu tidak menemani para tamumu makan malam?” Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya, “Bukankah kamu telah menyediakan makan malam untuk mereka?” Istrinya menjawab, “Mereka tidak mau makan hingga kamu datang.”

Abdurrahman bin Abu Bakar kembali bercerita, “Lalu aku pun pergi bersembunyi. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menegur tamunya dan berkata, “Makanlah.” Ia juga berkata, “Sungguh demi Allah, aku tidak mau makan.” Lalu si tamu pun juga bersumpah tidak mau makan hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq mau ikut makan. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Ini adalah dari setan.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menyuruh supaya makanan ini disiapkan, lalu ia pun makan. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sungguh demi Allah, kami tidak mengambil satu suap melainkan dari bawahnya muncul makanan yang sama dalam jumlah yang lebih banyak.” Mereka pun makan hingga kenyang dan ternyata makanan yang ada berubah menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memperhatikan makanan yang ada, dan ternyata terlihat tidak berkurang sama sekali, bahkan justru bertambah banyak. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata kepada istrinya, “Wahai saudara perempuan Bani Firas, apa ini?” Si istri berkata, “Oh tidak, sungguh makanan ini berubah menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun makan dan berkata, “Sesungguhnya hal itu (yakni sumpah yang ia katakan sebelumnya) adalah dari setan. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq memakan satu suapan dari makanan tersebut, kemudian selebihnya ia bawa kepada Rasulullah. Waktu itu, kami ada akad dengan kaum, kemudian kami berpencar sebanyak dua belas orang, masing-masing orang membawa sejumlah orang yang berapa jumlahnya hanya Allah Yang lebih tahu. Lalu mereka semua makan dari makanan yang dibawa oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut.”

Dalam kisah ini terdapat sejumlah pelajaran, ibrah, dan keteladanan, yang di antaranya adalah:

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa mempraktikkan ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabawi yang memerintahkan untuk memuliakan tamu, seperti ayat,

“Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silahkan Anda makan.” (Adz-Dzariyat: 27)

Juga seperti sabda Rasulullah, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”

  • Dalam kisah di atas disebutkan sebuah karamah Abu Bakar Ash-Shiddiq, hal mana ia tidak mengambil satu suapan melainkan dari bawah makanan yang ada muncul makanan dalam jumlah yang lebih banyak. Bahkan ketika mereka sudah makan dan kenyang, makanan tersebut justru berubah menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Abu Bakar Ash-Shiddiq dan istrinya pun memperhatikan makanan tersebut, dan ternyata memang berubah menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun membawa makanan tersebut kepada Rasulullah, lalu dipanggillah orang-orang dalam jumlah yang cukup banyak untuk memakan makanan tersebut hingga mereka semua kenyang.

Karamah tersebut adalah hasil dari keberkahan mengikuti dan meneladani Rasulullah dalam semua keadaan, tingkah dan hal ihwal. Karamah ini membuktikan kewalian Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena para wali Allah (para kekasih-Nya) adalah mereka orang-orang yang mengikuti dan meneladani Rasulullah. Maka, mereka pun melaksanakan apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan apa yang beliau larang, mengikuti dan meneladani beliau dalam apa yang beliau jelaskan kepada mereka untuk diikuti. Sehingga Allah pun menguatkan mereka dengan malaikat-Nya, menurunkan ke dalam hati mereka sebagian dari nur-nur-Nya dan mereka pun memperoleh berbagai karamah yang digunakan Allah untuk memuliakan para wali-Nya yang bertakwa.

  • Aisyah berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah sekali pun melanggar sumpah hingga Allah menurunkan ayat tentang kafarat sumpah. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Aku tidak bersumpah atas suatu hal, lalu aku melihat bahwa ada hal yang lain yang lebih baik, kecuali aku melakukan apa yang lebih baik itu dan aku membayar kafarat sumpahku tersebut.” Maka, jika Abu Bakar Ash-Shiddiq bersumpah atas sesuatu, lalu ia melihat bahwa selain sesuatu itu adalah yang lebih baik, maka ia membayar kafarat sumpahnya dan melakukan apa yang lebih baik tersebut.

Dalam kisah di atas terdapat keterangan yang menunjukkan hal ini, di mana ia meninggalkan sumpahnya yang pertama demi untuk memuliakan dan menghormati para tamunya, sehingga ia pun ikut makan bersama mereka.

  • Itu bukanlah keberkahan kalian yang pertama wahai keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Aisyah berkata, “Pada suatu ketika, kami pergi bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan beliau, hingga ketika kami berada di Al-Baida` atau Dzat Al-Jaisy, kalungku putus dan jatuh. Lalu Rasulullah pun pergi mencarinya dan orang-orang pun ikut pergi mencari, sementara waktu itu beliau tidak memiliki bekal air dan mereka juga tidak memiliki bekal air. Lalu orang-orang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, “Tidakkah Anda melihat apa yang telah diperbuat oleh Aisyah? Ia membuat Rasulullah dan orang-orang pergi mencari kalungnya yang jatuh, padahal mereka tidak memiliki bekal air.”

Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun datang, sedang waktu itu Rasulullah sedang tiduran dalam posisi kepala beliau berada di atas pahaku. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepadaku, “Gara-gara kamu, Rasulullah dan orang-orang tertahan, sementara mereka tidak memiliki bekal air.” Abu Bakar Ash-Shiddiq pun menegur dan memarahi diriku, dan ia menusuk-nusuk perutku dengan tangannya, dan aku tetap berusaha diam dan tidak bergerak, karena keberadaan Rasulullah yang sedang tertidur di atas pahaku. Rasulullah pun tidur hingga shubuh dalam keadaan tidak memiliki bekal air. Lalu Allah pun menurunkan ayat tayammum (An-Nisa`: 43)

Lalu Usaid bin Khudair berkata, “Itu bukanlah keberkahan kalian yang pertama kali wahai keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq.”

Aisyah kembali bercerita, “Lalu kami pun mulai menggerakkan unta yang mengangkutku, dan kami pun menemukan kalung tersebut berada di bawahnya.”

Dalam kisah di atas, terlihat dengan jelas bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki komitmen yang begitu tinggi untuk senantiasa menjaga etika, sopan santun, dan tata krama dengan Rasulullah, sensitifitasnya yang sangat tinggi untuk menjaga agar jangan sampai ada sesuatu apa pun yang membuat Rasulullah repot dan terganggu, ia tidak rela jika itu terjadi sekalipun itu datang dari orang yang paling dekat kepadanya dan paling dicintai Rasulullah, semisal Aisyah. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah panutan dan teladan bagi para juru dakwah dalam hal menjunjung tinggi etika dan sopan santun dengan Rasulullah, dengan diri sendiri dan dengan kaum muslimin.

  • Pembelaan Rasulullah kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Dari hadits-hadits shahih yang ada, didapat keterangan yang menyatakan bahwa Rasulullah membela Abu Bakar Ash-Shiddiq dan melarang orang-orang bersikap menentang kepadanya. Diriwayatkan oleh Abu ad-Darda`, ia berkata, “Pada suatu kesempatan, aku duduk-duduk bersama Rasulullah, lalu datanglah Abu Bakar Ash-Shiddiq sambil menjinjing ujung bajunya hingga kedua lututnya kelihatan. Lalu Rasulullah berkata, “Adapun kawanmu itu, maka ia habis berseteru dengan seseorang.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mengucapkan salam dan berkata, “Ya Rasulullah, tadi terjadi percekcokan antara saya dengan Umar bin Al-Khathab, kemudian aku merasa menyesal. Lalu aku pun meminta maaf kepada Umar bin Al-Khathab, namun ia tidak mau memaafkanku. Maka, saya pun datang menemui Anda.” Lalu Rasulullah pun berkata sebanyak tiga kali, “Semoga Allah mengampuni Anda wahai Abu Bakar.”

Kemudian Umar bin Al-Khathab pun merasa menyesal, lalu ia datang ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sesampainya di sana, ia bertanya, “Apakah Abu Bakar ada di rumah?” Mereka menjawab, “Tidak ada.” Umar bin Al-Khathab lantas pergi menemui Rasulullah, lalu ia mengucapkan salam kepada beliau. Ketika itu, raut muka Rasulullah nampak cemberut dan masam, hingga akhirnya membuat Abu Bakar Ash-Shiddiq merasa kasihan kepada Umar bin Al-Khathab. Lalu ia pun lantas bersimpuh duduk di atas kedua lututnya, lalu berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku telah berbuat zhalim sebanyak dua kali (karena dirinyalah yang memulai percekcokan itu).” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ketika Allah mengutusku kepada kalian, maka kalian akan berkata kepadaku, “Kamu bohong,” sedang Abu Bakar berkata, “Beliau benar,” dan ia mendukungku dengan jiwa dan hartanya.” Lalu Rasulullah kembali berkata sebanyak dua kali, “Maka, aku minta janganlah kalian mengganggu dan menyakiti sahabatku itu.” Sejak saat itu, tidak ada orang yang berani mengganggu dan menyakiti Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Dalam kisah di atas terdapat banyak pelajaran, ibrah, dan keteladanan. Di antaranya adalah, bahwa para sahabat juga manusia biasa, mereka juga memiliki tabiat manusia pada umumnya, terkadang terjadi perselisihan di antara mereka, pihak yang keliru segera menyadari kesalahannya dan segera meminta maaf kepada saudaranya, sense of affection di antara para sahabat, kedudukan luhur Abu Bakar Ash-Shiddiq di sisi Rasulullah dan para sahabat.

  • Katakan, “Semoga Allah mengampuni Anda wahai Abu Bakar.”

Rabi’ah Al-Aslami berkata, “Dulu, aku mengabdi kepada Rasulullah dan menjadi pelayan beliau,” Lalu Rabi’ah Al-Aslami menuturkan sebuah hadits. Kemudian ia kembali berkata, “Setelah itu, Rasulullah memberiku sebidang tanah dan memberi Abu Bakar Ash-Shiddiq sebidang tanah juga. Dunia pun datang, lalu kami berdua berselisih menyangkut tanda kurma. Aku berkata, “Tandan kurma itu masuk pada batas milikku.” Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Tidak, tetapi itu masuk pada batas milikku.” Lalu terjadilah percekcokan antara diriku dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu ia pun mengucapkan sebuah kata-kata yang ia benci sehingga ia pun menyesal. Lalu ia berkata kepadaku, “Wahai Rabi’ah, ucapkanlah kepadaku perkataan yang sama seperti yang aku ucapkan kepadamu, supaya itu menjadi qishash (balasan yang sama dengan perbuatan yang dilakukan).” Aku berkata, “Saya tidak mau melakukannya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sungguh, kamu harus mengatakan hal yang sama kepadaku, atau jika tidak mau, maka sungguh aku akan minta bantuan kepada Rasulullah.” Lalu aku tetap menolak dan berkata, “Aku tidak akan melakukannya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq pun langsung mengabaikan persoalan tersebut dan bergegas pergi untuk menemui Rasulullah. Aku pun mencoba untuk mengikutinya dari belakang. Lalu ada sejumlah orang dari Aslam datang dan berkata kepadaku, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar Ash-Shiddiq, dalam hal apa ia meminta bantuan kepada Rasulullah untuk menghadapi kamu, padahal dia telah mengucapkan apa yang telah ia ucapkan kepada dirimu.” Lalu aku berkata kepada mereka, “Tahukan kalian, siapa dia? Dia itu Abu Bakar Ash-Shiddiq, salah satu dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua. Dia adalah pembesar dan tokoh utama kaum muslimin. Hati-hati, jangan sampai dia menoleh, lalu dia melihat kalian sedang memihak kepadaku, sehingga membuat dia marah, lalu dia datang kepada Rasulullah lalu beliau marah karena kemarahannya, lalu Allah pun murka karena kemarahan beliau berdua, sehingga binasalah Rabi’ah.”

Orang-orang dari Aslam itu berkata, “Lalu apa yang kamu perintahkan kepada kami?” Rabi’ah Al-Aslami berkata, “Lebih baik, kalian semua pulang.”

Rabi’ah Al-Aslami kembali melanjutkan ceritanya, “Abu Bakar Ash-Shiddiq pun terus berjalan untuk menemui Rasulullah, dan aku pun mengikutinya seorang diri, hingga ia pun bertemu Rasulullah. Lalu ia menceritakan kejadian yang terjadi seperti apa adanya. Lalu Rasulullah mengangkat kepada beliau ke arahku dan berkata, “Wahai Rabi’ah, apa yang telah terjadi di antara kamu dengan Abu Bakar?” Aku pun berkata, “Ya Rasulullah, ceritanya adalah begini dan begini, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq mengucapkan kepadaku suatu kata-kata yang ia benci. Lalu ia berkata kepadaku, “Wahai Rabi’ah, ucapkanlah kepadaku kata-kata yang sama seperti yang aku ucapkan kepadamu, sehingga itu menjadi qishash dan impas,” namun saya menolak.” Lalu Rasulullah berkata, “Betul, jangan kamu balas, akan tetapi ucapkanlah kepada Abu Bakar, “Semoga Allah mengampuni Anda wahai Abu Bakar.” Lalu aku pun mengucapkan, “Semoga Allah mengampuni Anda wahai Abu Bakar.”

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berlalu pergi sambil menangis.”

Sungguh sebuah perasaan, nurani, hati, dan jiwa yang hidup dan sensitif, lekas sadar, tidak puas jika belum dibalas dan tidak tenang jika belum dimaafkan, sebagai ekspresi keinginan tanpa batas dalam menggapai keutamaan dan menjunjung tinggi etika dan norma, sebuah kesadaran yang menguasai dan menawan hati.

Terpelesetnya lisan mengucapkan kata-kata tidak baik, meskipun itu kecil, namun baginya itu adalah sebuah rasa sakit yang sangat mengganggu hati nurani, sehingga ia pun tidak akan merasa lega jika belum dibalas dan saudara Muslim yang bersangkutan belum memaafkan.

Kata-kata tersebut sebenarnya adalah tidak begitu serius, akan tetapi itu telah membuat Rabi’ah merasa tersinggung. Maka, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun merasa sangat tergoncang karenanya, merasa sangat bersalah dan memaksa agar Rabi’ah membalasnya. Padahal Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang terpenting kedua dalam Islam setelah Rasulullah. Kata-kata tersebut tidak mungkin berbentuk ucapan keji dan kotor, karena Akhlak Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak memungkinkan dirinya melakukannya, dan tidak pernah didapatkan dirinya mengucapkan suatu kata-kata keji walau pada masa Jahiliyah sekalipun.

Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat takut dan khawatir dampak buruk kalimat tersebut. Dari itu, ia langsung mengadu kepada Rasulullah. Ini adalah sebuah hal yang sangat menarik dan mengagumkan, bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung melupakan persoalan tanahnya dan perselisihan yang terjadi tersebut, karena hati dan pikirannya telah dikuasai oleh masalah kalimat yang diucapkannya itu, sebab masalah yang menyangkut hak-hak hamba mesti harus mendapatkan maaf dari pemilik hak. Di sini, terdapat pelajaran bagi para tokoh, ulama, pemimpin, dan para juru dakwah tentang bagaimana cara menangani kesalahan-kesalahan, menjaga, dan memelihara hak-hak orang lain dan tidak menginjak-injaknya.

Kaum Rabi’ah waktu itu merasa heran dan seperti menyalahkan sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang pergi mengadu kepada Rasulullah, padahal dirinya telah mengucapkan kata-kata tersebut. Mereka tidak mengetahui apa yang diketahui oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, yaitu keharusan untuk mengakhiri persoalan-persoalan sengketa dan perselisihan secepatnya di dunia dan menghilangkan apa yang melekat dalam hati berupa perasaan marah dan tersinggung sebelum itu dicatat dalam buku catatan amal dan konsekuensi hisab atas hal itu pada hari Kiamat.

Meskipun telah ada keridhaan dari Rabi’ah dan arahan Rasulullah kepadanya untuk tidak membalas kata-kata Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut, namun sekali pun begitu, Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap saja menangis karena takut kepada Allah. Ini sekali lagi menjadi bukti kekuatan iman dan kekokohan keyakinan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Yang terakhir, ada sebuah sikap Rabi’ah Al-Aslami yang patut diacungi jempol, yaitu sikapnya dalam memuliakan dan menghormati Abu Bakar Ash-Shiddiq serta menolak untuk membalasnya. Ini adalah salah satu bentuk sikap respek dan menghargai orang-orang yang memiliki keutamaan dan kedudukan mulia. Sikap ini menunjukkan kuatnya keberagamaan dan kecerdasan akal.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq berlomba-lomba dalam kebajikan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq bercirikan akhlak terpuji, sifat-sifat yang luhur dan selalu terdepan dalam hal kebajikan, sehingga ia menjadi panutan dalam hal kebaikan dan menjadi teladan dalam hal akhlak mulia. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sosok yang memiliki antusiasme luar biasa dalam hal kebajikan. Ia yakin bahwa apa yang bisa untuk dilakukan oleh seseorang pada hari ini, maka mungkin tidak bisa ia lakukan esok. Hari ini adalah amal dan tidak ada hisab, sedangkan esok adalah hisab dan tidak ada lagi amal. Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah termasuk orang yang senantiasa bersegera dalam kebaikan.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Siapakah di antara kalian yang hari ini berpuasa?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Saya.” Rasulullah kembali berkata, “Siapakah di antara kalian yang hari ini melayat jenazah?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Saya.” Rasulullah kembali berkata, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Saya.” Rasulullah kembali berkata, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Saya.” Lalu Rasulullah bersabda, “Amal-amal tersebut tidak terkombinasikan pada seseorang kecuali ia masuk Surga.”

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq menahan amarah.

Abu Hurairah berkata, “Ada seorang laki-laki mengumpat Abu Bakar Ash-Shiddiq, sedang waktu itu Rasulullah duduk saja. Lalu beliau pun merasa kagum dan tersenyum. Lalu ketika orang itu masih terus saja mengumpat dan semakin keterlaluan, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun membalas sebagian perkataan orang itu. Ketika itu, Rasulullah pun marah dan berdiri, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung menghampiri beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, ketika orang itu mengumpatku, maka Anda tetap duduk saja. Lalu ketika orang itu masih terus saja mengumpatku dan semakin keterlaluan, lalu aku pun membalas sebagian ucapannya, maka Anda langsung marah dan berdiri.” Lalu Rasulullah berkata, “Pada awalnya, ada seorang malaikat bersamamu dan membela dirimu. Lalu ketika kamu membalas sebagian ucapannya, maka datanglah setan, maka aku tidak mau duduk bersama setan.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, ada tiga hal yang kesemuanya adalah haqq: Pertama, tiada seorang hamba yang dizhalimi, lalu ia pun mengabaikan kezhaliman yang menimpanya itu karena Allah, melainkan Allah semakin menambahinya kemuliaan dan keluhuran. Kedua, tidak ada seseorang yang membuka pintu pemberian yang itu ia lakukan karena ingin menyambung ikatan silaturahmi melainkan Allah akan semakin menambah banyak hartanya. Ketiga, tidak ada seseorang yang membuka pintu meminta-minta karena ingin memperbanyak harta kecuali Allah akan semakin menambah sedikit hartanya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sosok yang berkarakterkan menahan amarah. Dalam kasus di atas, sebenarnya Abu Bakar Ash-Shiddiq membalas sebagian perkataan orang yang mengumpatnya, karena ia mengira hal itu bisa membuat orang tersebut diam. Lalu Rasulullah pun menganjurkan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk bersikap lebih santun, sabar dan lapang dada, memberikan bimbingan kepadanya untuk tetap menghiasi diri dengan kesabaran dalam situasi-situasi marah.

Karena santun, lapang dada, sabar, dan menahan amarah bisa menjadikan seseorang semakin terpuji, mendapatkan apresiasi dan semakin baik di mata orang-orang, sekaligus semakin mengangkat kedudukannya di sisi Allah.

Dari kejadian di atas, kita juga bisa melihat betapa besar keinginan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk jangan sampai membuat Rasulullah marah dan bersegera untuk membuatnya ridha dan tidak marah lagi.

Dalam hadits di atas terkandung pengertian yang mencela perbuatan marah, melarangnya, mewanti-wanti agar jangan marah. Juga keterangan bahwa para nabi meninggalkan majelis-majelis yang dihadiri oleh setan, penjelasan tentang keutamaan bagi orang yang dizhalimi yang tetap sabar dan mengharap pahala dari sikap tersebut. Juga anjuran untuk memberi, silaturahmi, mencela perbuatan meminta-minta, mengemis, dan para pengemis.

Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa memelihara sikap santun dan menahan amarah, hingga ia menjadi sosok yang dikenal dengan sifat santun, sabar, lapang dada, tidak suka membalas, lembut, ramah, dan halus. Namun hal itu tidak berarti Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah marah. Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap bisa marah, tapi marahnya itu tidak lain adalah karena Allah. Maka, jika ia melihat ada hal-hal yang terhormat di sisi Allah diinjak-injak atau keharaman-keharaman dan pantangan-pantangan-Nya dilanggar, maka ia akan marah besar.

Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq hidup dengan senantiasa memperhatikan, merenungi, memikirkan, dan mengamalkan ayat,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk  orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133-134)

  • Ya tentu, sungguh demi Allah saya ingin Allah mengampuniku.

Abu Bakar Ash-Shiddiq menanggung nafkah hidup Misthah bin Utsatsah. Lalu ketika Misthah bin Utsatsah ikut-ikutan memberikan komentar miring menyangkut diri Aisyah dalam kisah al-Ifk yang sudah terkenal itu, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun bersumpah tidak lagi memberinya nafkah selamanya. Lalu ketika turun ayat 22 surah An-Nur, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berkata, “Sungguh demi Allah, aku sangat ingin memberi jatah nafkah kepada Misthah bin Utsatsah seperti sebelumnya, dan ia berkata, “Sungguh demi Allah, aku tidak akan lagi mencabutnya selamanya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq benar-benar memahami dari ayat tersebut bahwa seorang Mukmin hendaklah meniru akhlak Allah, seperti memaafkan kesalahan, kekeliruan, dan kealpaan. Jika ia melakukan hal itu, maka Allah juga akan berkenan memaafkan dirinya dan menutupi dosa-dosanya. Sebagaimana kamu berbuat, maka seperti itu pula lah kamu dibalas.

Dalam ayat di atas, Allah berfirman, “Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?), yakni, sebagaimana kamu ingin Allah mengampuni dan memaafkan dosa-dosamu, maka demikian pula hendaklah kalian mau memaafkan orang lain. Dalam ayat ini juga terkandung pengertian bahwa barang siapa bersumpah untuk tidak melakukan suatu hal tertentu , lalu ia melihat bahwa melakukan hal tersebut adalah lebih utama dan lebih baik daripada tidak melakukannya, maka hendaklah ia melakukannya dan membayar kafarat sumpahnya tersebut. Ada sebagian ulama mengatakan, “Ini adalah ayat dalam Al-Qur`an yang paling memberikan optimisme dan harapan, mengingat ayat ini menjelaskan kemurahan dan kelembutan Allah terhadap orang-orang bermaksiat yang melakukan qadzaf.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang paling utama dan mulia setelah Nabi Muhammad karena dalam ayat ini, Allah mendeskripsikan Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan sejumlah sifat yang menarik dan menakjubkan yang menunjukkan keluhuran prestise kedudukannya dalam agama. Ar-Razi menyimpulkan empat belas sifat dan kriteria dari ayat, “wa laa ya` tali ulul fadhli minkum was sa’ati.” Di antaranya adalah, ia disebut sebagai orang yang memiliki keutamaan dan kelebihan dalam bentuk mutlak tanpa dibatasi kepada perseorangan. Keutamaan secara otomatis juga mencakup unsur pengutamaan.

Ini menunjukkan bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebagaimana ia adalah sosok yang utama secara mutlak, ia juga sosok yang diutamakan secara mutlak.

Di antaranya lagi adalah, bahwa ketika Allah menyebutnya sebagai orang yang memiliki keutamaan dan kelebihan, kata-kata yang digunakan adalah dalam bentuk jamak bukan tunggal, juga dalam bentuk umum bukan khusus, sebagai bentuk ungkapan pujian, maka di sini mesti juga dikatakan, bahwa ia adalah sosok yang bersih dari kemaksiatan, karena orang yang dipuji sampai seperti itu tentu bukan termasuk penghuni neraka.

  • Aktivitas perniagaan Abu Bakar Ash-Shiddiq dari Madinah ke Syam.

Abu Bakar Ash-Shiddiq melakukan aktivitas perniagaan ke tanah Bushra di negeri Syam pada masa Rasulullah. Antusiasme Abu Bakar Ash-Shiddiq yang begitu besar untuk senantiasa berada bersama Rasulullah tidak lantas menghalanginya untuk pergi berniaga, dan Rasulullah pun tidak mencegahnya untuk pergi berniaga meskipun kecintaan beliau yang begitu besar kepadanya.

Hal ini memberikan pengertian tentang signifikansi memiliki sumber penghidupan bagi setiap Muslim yang memberinya kecukupan sehingga melindunginya dari meminta-minta dan menjadi beban bagi orang lain. Bahkan dengan sumber rezeki yang dimilikinya, ia bisa ikut berpartisipasi dalam mengulurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan, meringankan beban orang yang sedang kesusahan dan ikut berkompetisi pada pintu-pintu infak yang disenangi Allah.

  • Sense of honour Abu Bakar Ash-Shiddiq dan rekomendasi Rasulullah kalau istrinya adalah bersih.

Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash, “Ada beberapa orang dari Bani Hasyim menemui Asma` bin Umais yang waktu itu menjadi istri Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun masuk dan melihat mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun merasa tidak suka akan hal tersebut. Lalu ia pun menceritakan hal itu kepada Rasulullah, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya Allah telah merekomendasikan bahwa istrimu bersih dan tidak melakukan suatu perbuatan yang tercela.” Lalu Rasulullah berdiri di atas mimbar dan berkata, “Setelah hari ini, tidak boleh lagi ada seorang laki-laki menemui seorang perempuan yang suaminya sedang tidak di rumah kecuali disertai satu atau dua orang.”

  • Rasa takut Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Allah

Diriwayatkan oleh Anas, ia berkata, “Pada suatu kesempatan, Rasulullah menyampaikan khutbah kepada kami dengan sebuah khutbah yang aku belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu. Dalam khutbah tersebut, Rasulullah bersabda, “Seandainya kamu sekalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu sekalian tidak banyak tertawa dan lebih banyak menangis.

Lalu para sahabat pun menutupi wajah dan terdengar suara riuh tangisan dari mereka.

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sosok yang sangat besar rasa takut dan pengharapannya. Hal itu menjadikan dirinya teladan dan contoh praktis bagi setiap Muslim, baik pemimpin maupun rakyat, panglima atau kopral, yang ingin berhasil dan beruntung di akhirat.

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sirin, ia berkata, “Setelah Nabi Muhammad, tidak ada satu orang pun yang lebih takut karena apa yang diketahuinya daripada Abu Bakar Ash-Shiddiq.”

Diriwayatkan oleh Qais, ia berkata, “Aku melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq memegangi ujung lisannya dan berkata, “Ini adalah sesuatu yang membawaku kepada kebinasaan.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah berkata, “Menangislah kalian, jika tidak bisa, maka berusahalah untuk menangis meskipun itu dengan cara dibuat-buat.”

Diriwayatkan oleh Maimun bin Mahran, ia berkata, “Ada seekor burung gagak yang masih utuh kedua sayapnya diperlihatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu ia membaliknya kemudian berkata, “Tidak ada seekor binatang buruan yang tertangkap dan tidak pula sebatang pohon yang ditebang melainkan oleh sebab tasbih yang disia-siakannya.”

Diriwayatkan oleh Al-Hasan, ia berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Demi Allah, sungguh aku ingin seandainya aku adalah pohon ini, dimakan dan ditebang.” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sungguh aku ingin seandainya aku hanyalah sehelai bulu di tubuh seorang Mukmin.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq mensenandungkan bait syair berikut ini,

Kamu terus menyiarkan kematian seseorang hingga kamu sendiri akhirnya yang mati. Terkadang seorang pemuda memiliki suatu harapan, lalu ia mati tanpa bisa menggapai harapannya itu.

Di Antara Sifat-sifat Terpenting Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Beberapa Keutamaannya

Sesungguhnya kepribadian Abu Bakar Ash-Shiddiq dinilai sebagai kepribadian pemimpin. Ia memiliki kriteria, spesifikasi, dan sifat-sifat seorang pemimpin Rabbani. Kami akan menyebutkannya secara global dalam beberapa hal, lalu kami fokuskan pembicaraan secara lebih detail pada sebagiannya. Di antara kriteria, spesifikasi, dan sifat-sifat Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut adalah, akidah yang benar dan lurus, pengetahuan agama, kepercayaan kepada Allah, keteladanan, kejujuran, kompetensi dan kapabilitas, keberanian dan ketegasan, muru`ah, zuhud, rela berkorban, kemampuan memilih dan menyeleksi secara baik dan tepat orang-orang yang menjadi pembantunya, tawadhu’, menerima nasihat, santun, sabar, memiliki tekad dan cita-cita luhur, tegas, kemauan yang kuat, adil, kemampuan menyelesaikan berbagai problematika dan persoalan, kemampuan mendidik dan menyiapkan pribadi-pribadi pemimpin, dan berbagai sifat dan kriteria lainnya yang bisa dilihat oleh seorang peneliti pada fase perjalanan hidupnya menyertai Rasulullah pada periode Makkah dan pada periode Madinah dalam berbagai peperangan yang ia ikuti bersama Rasulullah serta jejak rekam kehidupannya dalam masyarakat. Sedangkan sebagian sifat yang lainnya terlihat ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menerima tampuk kepemimpinan negara dan menjadi khalifah Rasulullah.

Berkat taufiq Allah dan oleh karena sifat-sifat kepemimpinan Rabbani yang diletakkan oleh Allah dalam dirinya, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mampu menjaga dan mempertahankan kedaulatan dan keutuhan Negara serta menumpas gerakan kemurtadan.

Berkat karunia dan taufiq Allah pula lah, Abu Bakar Ash-Shiddiq mampu membawa umat melakukan loncatan-loncatan progresif menuju visi, misi, dan tujuan-tujuannya dengan langkah-langkah yang mantap, kuat, dan kokoh.

Di antara sifat-sifat tersebut yang ingin kami kaji secara lebih luas dalam kajian ini adalah, keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Allah, keilmuannya yang kokoh dan mendalam, serta doa dan pendekatan diri kepada Allah secara intensif.

  • Besarnya keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Allah

Keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Allah sangatlah besar. Karena ia benar-benar memahami hakikat iman. Kalimat tauhid pun benar-benar meresap jauh dalam jiwa dan hatinya, dan itu terefleksikan pada anggota tubuhnya dan ia benar-benar menghayati dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan. Maka, ia pun menjadi sosok yang berhiaskan akhlaqul karimah yang luhur, steril dari akhlak yang tercela, konsisten, dan persisten dalam memegang teguh syariat Allah dan dalam mengikuti petunjuk dan tuntunan Nabi Muhammad.

Keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Allah menjadi motif yang memacu dirinya untuk terus bergerak aktif, dinamis dan progresif, bekerja keras tanpa mengenal lelah, berjuang dan mendidik, meraih kemenangan, kekuatan, kemuliaan dan keluhuran.

Dalam hati Abu Bakar Ash-Shiddiq penuh dengan keyakinan dan keimanan yang besar yang tidak ada satu sahabat lain pun yang bisa menyamainya. Abu Bakar bin Ayyasy berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq mengungguli mereka bukan dengan banyaknya shalat dan puasa, tetapi dengan sesuatu yang tertanam dalam hatinya.” Dari itu dikatakan, bahwa seandainya keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq ditimbang dengan keimanan penghuni bumi, niscaya keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap lebih berat. Hal ini sebagaimana keterangan dalam As-Sunan dari Abu Bakarah dari Rasulullah, beliau bersabda, “Apakah ada seseorang dari kalian yang melihat suatu mimpi?” Lalu ada seorang laki-laki berkata, “Saya. Saya bermimpi seolah-olah ada sebuah timbangan turun dari langit. Lalu Anda dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ditimbang, dan Anda adalah yang lebih berat. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab ditimbang, lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah yang lebih berat. Kemudian Umar bin Al-Khathab dan Utsman bin Affan ditimbang, lalu Umar bin Al-Khathab adalah yang lebih berat. Kemudian timbangan itu diangkat kembali.” Lalu Rasulullah nampak sedih karena mimpi tersebut, lalu beliau bersabda, “Khilafah kenabian, kemudian setelah itu Allah memberikan kekuasaan dan kerajaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata, “Suatu ketika, Rasulullah shalat shubuh. Kemudian setelah selesai, beliau menghadap kepada orang-orang, lalu bersabda, “Syahdan, ada seorang laki-laki menggiring seekor lembu miliknya, lalu ia menaikinya, lalu lembu itu menoleh kepada orang itu dan berkata, “Aku tidak diciptakan untuk fungsi itu (yaitu dijadikan hewan tunggangan), tetapi aku diciptakan untuk membajak ladang.”

Mendengar cerita itu, orang-orang pun kagum dan terheran-heran seraya berkata, “Subhanallah! Lembu bisa bicara?” Lalu Rasulullah berkata, “Sesungguhnya aku mengimaninya, demikian pula Abu Bakar dan Umar bin Al-Khathab.” Abu Hurairah kembali bercerita, “Rasulullah kembali bersabda, “Syahdan, ada seorang laki-laki sedang menggembalakan kambingnya. Tiba-tiba ada seekor serigala menyerang dan berhasil membawa lari seekor kambing. Lalu orang itu pun mencarinya, lalu menyelamatkannya kembali dari tangan serigala tersebut. Melihat hal itu, si serigala itu pun berkata kepada orang tersebut, “Hari ini, kamu bisa menyelamatkannya dariku, maka siapakah yang akan menyelamatkannya pada hari sabu’ (hari di mana terjadi huru-hara dan kegaduhan hingga orang-orang mengabaikan binatang ternaknya), yaitu pada hari di mana tidak ada yang mengawasinya selain aku?” Mendengar cerita itu, orang-orang pun berkata dengan nada heran, “Subhanallah! Seekor serigala bisa bicara?” Lalu Rasulullah berkata, “Aku, Abu Bakar, dan Umar mengimaninya.” Waktu itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khathab tidak ikut hadir di sana.”

Karena begitu kuatnya keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq, komitmennya dalam memegang teguh syariat Allah, kejujurannya, dan kesungguhannya, ketulusannya dan keikhlasannya kepada Islam, maka Rasulullah pun sangat mencintainya dan kecintaan beliau itu kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq mengalahkan kecintaan beliau kepada sahabat yang lain.

Diriwayatkan oleh Amr bin Al-’Ash, “Bahwasanya Rasulullah menunjuk dirinya sebagai panglima pasukan yang beliau kirim dalam misi militer pada perang Dzat As-Salasil. Amr bin Al-’Ash kembali bercerita, “Lalu aku menemui Rasulullah dan bertanya, “Siapakah orang yang paling Anda cintai?” Rasulullah menjawab, “Aisyah.” Lalu aku bertanya kembali, “Kalau dari kaum laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ayah Aisyah.” Aku kembali bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Umar bin Al-Khathab.” Lalu Amr bin Al-’Ash menyebutkan sejumlah laki-laki lain.”

Oleh sebab keimanan yang agung tersebut, komitmen yang tinggi kepada syariat Allah serta berbagai usaha dan kerja keras yang dikerahkan untuk membela agama Allah, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berhak mendapatkan berita gembira dari Rasulullah dengan masuk surga, dan bahwa dirinya dipanggil-panggil dari semua pintu-pintu Surga.

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari, “Bahwasanya ia berwudhu di rumah, kemudian pergi keluar, dan berkata dalam hati, “Sungguh hari ini aku akan senantiasa menyertai Rasulullah dan selalu bersama dengan beliau.” Abu Musa Al-Asy’ari kembali bercerita, “Lalu aku pun pergi ke masjid, dan bertanya di manakah Rasulullah? Lalu orang-orang berkata, “Beliau pergi ke arah sana.” Lalu aku pun berjalan pergi ke arah tersebut untuk mencari beliau, hingga ternyata beliau masuk ke sumur Aris. Lalu aku pun duduk di dekat pintu Aris yang waktu itu terbuat dari pelapah kurma, hingga Rasulullah menyelesaikan keperluannya, lalu beliau pun mengambil air wudhu. Lalu aku pun berdiri untuk menghampiri beliau, dan ternyata aku mendapati beliau sedang duduk di atas tembok sumur Aris dalam posisi beliau membuka kedua betis beliau dan menjuntaikannya ke dalam sumur. Lalu aku pun mengucapkan salam kepada beliau, kemudian aku pergi untuk duduk di pintu sumur Aris. Lalu aku berkata dalam hati, “Sungguh hari ini aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah.” Lalu datanglah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mendorong pintu. Lalu aku berkata, “Siapa ini?” Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Abu Bakar.” Lalu aku berkata kepadanya, “Sebentar.” Kemudian aku pergi menghampiri Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, di luar ada Abu Bakar Ash-Shiddiq minta izin masuk untuk bertemu.” Lalu beliau berkata, “Persilahkan ia masuk dan sampaikan berita gembira kepadanya bahwa ia adalah penghuni surga.” Lalu aku pun beranjak pergi untuk menghampiri Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu aku berkata kepadanya, “Silahkan masuk, dan Rasulullah memberi Anda berita gembira masuk Surga.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq pun masuk, lalu duduk di samping kanan Rasulullah di atas tembok sumur sambil menjuntaikan kedua kakinya sama seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. (Al-Hadits).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menginfakkan sepasang dari suatu jenis harta di jalan Allah, maka ia dipanggil dari pintu-pintu Surga, “Wahai hamba Allah, ini kebaikan.” Maka, barang siapa yang termasuk ahli shalat, maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barang siapa termasuk ahli jihad, maka ia dipanggil dari pintu jihad. Barang siapa yang termasuk ahli shadaqah, maka ia dipanggil dari pintu shadaqah. Barang siapa termasuk ahli puasa, maka ia dipanggil dari pintu puasa dan pintu Ar-Rayyan.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Orang yang sudah dipanggil dari salah satu pintu-pintu tersebut, maka ia sudah tidak butuh lagi dipanggil dari pintu-pintu yang lain. Apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut?” Rasulullah berkata, “Ya ada, dan aku berharap kamu adalah salah satunya wahai Abu Bakar.”

  • Keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah termasuk orang yang paling berilmu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya. Ahlussunnah bersepakat bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang paling alim dalam umat ini. Banyak orang yang menceritakan adanya Ijma’ atas hal tersebut. Sebab kenapa Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih unggul dari para sahabat yang lain dalam hal keilmuan dan keutamaan adalah, karena ia senantiasa bersama Rasulullah. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling lama dan paling banyak berkumpul dengan Rasulullah baik di waktu malam maupun siang, baik di kala bepergian maupun menetap.

Setelah shalat isya`, Abu Bakar Ash-Shiddiq berbincang-bincang dengan Rasulullah membicarakan tentang berbagai urusan kaum muslimin, dan itu hanya ia lakukan sendiri tanpa ada sahabat lain.

Jika Rasulullah meminta masukan, pendapat dan pandangan kepada para sahabat, maka orang yang pertama kali tampil berbicara mengutarakan pandangannya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Terkadang diikuti oleh sahabat lain, dan terkadang hanya Abu Bakar Ash-Shiddiq saja yang berbicara sehingga hanya pendapat dan pandangannya saja yang diambil oleh Rasulullah, dan jika ada orang lain yang memiliki pandangan berbeda dengan pandangan Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka pandangan Abu Bakar Ash-Shiddiq lah yang diambil oleh Rasulullah.

Rasulullah menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai amir haji pada haji yang pertama kali dilakukan dari Madinah dan mengajarkan manasik haji yang merupakan ritual ibadah yang paling rumit dan belum banyak diketahui. Seandainya bukan karena keluasan keilmuannya, tentu Rasulullah tidak akan menunjuknya sebagai amir haji waktu itu.

Demikian pula dengan shalat, Rasulullah menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti beliau mengimami dan memimpin shalat, dan seandainya bukan karena keilmuannya, tentu Rasulullah tidak akan menunjuknya, dan Rasulullah tidak menunjuk selain Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai wakilnya, tidak dalam haji dan tidak pula dalam shalat.

Kitab atau surat yang berisikan tentang shadaqah (baca: zakat) yang diwajibkan oleh Rasulullah didapatkan oleh Anas dari Abu Bakar Ash-Shiddiq dan surat itu adalah hadits paling shahih yang diriwayatkan menyangkut masalah zakat. Dan surat itulah yang menjadi pegangan fuqaha dan yang lainnya menyangkut dalil terdahulu yang dinasakh. Hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang paling mengetahui tentang As-Sunnah yang posisinya sebagai penasakh. Tidak diketahui ada suatu pendapat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bertentangan dengan suatu nash.

Ini menunjukkan tingkat kepakaran dan keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sungguh luar biasa. Secara garis besar, tidak diketahui ada suatu permasalahan tentang hukum syariat yang Abu Bakar Ash-Shiddiq keliru di dalamnya, sementara selain Abu Bakar Ash-Shiddiq diketahui pernah keliru dalam banyak permasalahan hukum syariat.

Dulu, Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan putusan hukum dan memberi fatwa di hadapan Rasulullah dan beliau mengkonfirmasi putusan atau fatwanya itu. Posisi dan kedudukan ini tidak dimiliki oleh selain Abu Bakar Ash-Shiddiq. Hal ini sudah pernah kami jelaskan dalam kasus harta salb (harta yang ada pada pasukan musuh yang terbunuh yang menjadi hak pasukan Islam yang membunuhnya) Abu Qatadah pada perang Hunain.

Kelebihan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam hal keilmuan dan keunggulannya atas para sahabat yang lain nampak terlihat jelas setelah meninggalnya Rasulullah. Semasa kepemimpinannya, tidak ada perselisihan dan perbedaan pendapat di antara umat menyangkut suatu permasalahan melainkan Abu Bakar Ash-Shiddiq mampu menerangkan dan menguraikannya dengan ilmu yang ia jelaskan kepada mereka dan dengan hujjah yang ia utarakan kepada mereka dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Hal itu dikarenakan kesempurnaan keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan keadilannya, wawasan, dan pemahamannya yang mendalam tentang dalil-dalil yang bisa mengeliminir dan menghilangkan perselisihan. Jika Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan perintah dan instruksi kepada mereka, maka mereka mematuhinya.

Sebagaimana pula, Abu Bakar Ash-Shiddiqlah sahabat yang menjelaskan kepada mereka tentang kematian Rasulullah dan meneguhkan mereka di atas keimanan. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq menjelaskan kepada mereka tempat di mana semestinya Rasulullah dimakamkan dan menjelaskan kepada mereka harta pusaka beliau. Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menjelaskan kepada mereka tentang langkah yang diambil untuk menumpas kelompok-kelompok yang membangkang untuk membayar zakat, ketika Umar bin Al-Khathab meragukan langkah tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menjelaskan kepada mereka bahwa kekhilafahan adalah di tangan Quraisy.

Juga, menjelaskan kepada mereka tentang penyiapan pasukan Usamah. Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menjelaskan kepada mereka, bahwa seorang hamba yang Allah memberinya pilihan antara dunia dan akhirat adalah Rasulullah. Hal-hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada tempatnya nanti insya Allah.

Rasulullah pernah mengalami suatu mimpi yang menunjukkan tentang keilmuan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Aku bermimpi seakan-akan aku diberi gelas besar yang penuh dengan susu, lalu aku meminumnya hingga kenyang, lalu aku melihat air susu itu mengalir di urat-uratku di antara kulit dan daging, lalu masih ada sisa, dan sisanya itu aku berikan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.” Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, itu adalah ilmu yang diberikan Allah kepada Anda hingga ketika Anda sudah penuh dengan ilmu itu, maka masih ada sisa, lalu sisanya itu Anda berikan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.” Rasulullah bersabda, “Kalian benar.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq bisa mendeteksi mana mimpi yang benar dan ia mahir dalam mentakbirkan mimpi. Pada waktu pagi, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Barang siapa yang mengalami mimpi yang baik, maka hendaklah ia menceritakannya kepada kami.” Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berkata, “Sungguh mimpi yang dialami oleh seorang Muslim yang menyempurnakan wudhunya lebih aku senangi daripada begini dan begini.”

Di antara mimpi yang ditakbirkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah, apa yang Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, “Bahwasanya ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah, lalu berkata, “Tadi malam, saya bermimpi melihat ada suatu teduhan yang meneteskan minyak samin dan madu, lalu aku melihat orang-orang mengambilnya dengan telapak tangan mereka, ada yang mendapat banyak dan ada yang mendapat sedikit. Lalu tiba-tiba ada tali menjulur dari langit sampai ke bumi. Lalu saya melihat Anda memegang tali itu, lalu Anda menggunakannya untuk naik. Kemudian ada laki-laki lain yang memegang tali itu, lalu ia juga naik dengan menggunakan tali tersebut. Kemudian ada laki-laki lain yang memegang tali itu dan menggunakannya untuk naik. Kemudian ada laki-laki lain yang memegang tali tersebut, lalu tali itu putus, kemudian disambung lagi, lalu ia gunakan untuk naik.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, sungguh demi Allah, biar saya yang mentakbirkan mimpi itu.” Lalu Rasulullah berkata, “Silahkan.” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Adapun teduhan, maka itu adalah Islam. Adapun minyak samin dan madu yang menetes itu, maka itu adalah Al-Qur`an, yaitu lembut dan manis. Adapun orang-orang yang bisa mengambil banyak, maka itu adalah orang yang mengambil banyak dari Al-Qur`an, sedangkan orang yang hanya bisa mengambil sedikit adalah orang yang hanya mendapatkan sedikit dari Al-Qur`an. Adapun tali yang menjulur ke langit sampai ke bumi, maka itu adalah kebenaran yang Anda teguhi. Anda memegangnya, maka Allah pun meluhurkan dan meninggikan Anda. Kemudian ada laki-laki lain setelah Anda memegangi kebenaran itu sehingga ia mendapatkan keluhuran karenanya. Kemudian ada laki-laki lain yang memeganginya, hingga ia pun mendapatkan keluhuran karenanya. Wahai Rasulullah, sungguh beritahukan kepada saya apakah takbir saya itu tepat atau keliru?” Rasulullah bersabda, “Sebagiannya tepat dan sebagian yang lain salah.” Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali berkata, “Jika begitu, maka sungguh demi Allah, tolong beritahukan kepadaku bagian mana dari takbir saya itu yang keliru. Rasulullah berkata, “Jangan bersumpah.”

Diriwayatkan oleh Aisyah, bahwasanya ia bermimpi seakan-akan ada tiga rembulan jatuh di dalam rumahnya. Lalu Aisyah menceritakan mimpinya itu kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq –dan ia adalah salah satu pakar yang ahli dalam mentakbirkan mimpi- lalu ia berkata, “Jika mimpimu itu benar, maka sungguh di dalam rumahmu akan dikuburkan tiga orang dari sebaik-baik penduduk bumi.” Kemudian ketika Rasulullah meninggal, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Wahai Aisyah, beliau adalah sebaik-baik rembulanmu tersebut.”

Sungguh, Abu Bakar Ash-Shiddiq benar-benar orang yang paling ahli dan pakar mentakbirkan mimpi dari umat ini setelah Rasulullah.

Meskipun Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat yang paling alim, namun dia adalah termasuk orang yang paling jauh dari sikap mengada-ada, berlagak, sok, dan memaksakan diri.

Diriwayatkan oleh Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq membaca ayat 31 surat ’Abasa, “wa fakihatan wa abban.” Lalu ada orang bertanya, “Apa maksud kata abb?” Lalu ada yang berkata, “Demikian dan demikian.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Sesungguhnya jawaban itu adalah jawaban yang dibuat-buat dan dipaksakan. Bumi mana yang akan menjadi pijakan dan langit mana yang akan menjadi naunganku jika aku mengatakan tentang Kitabullah apa yang tidak aku ketahui.”

  • Doa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan totalitas kekhusyu’annya kepada Allah.

Sesungguhnya doa adalah sebuah pintu yang besar, ketika pintu itu dibukakan untuk seorang hamba, maka kebaikan-kebaikan dan keberkahan-keberkahan akan mengalir deras kepadanya. Dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah dan banyak berdoa. Sebagaimana pula, doa adalah salah satu faktor kemenangan paling kuat atas para musuh. Allah berfirman yang artinya,

Dan tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.(Ghafir: 60).

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(Al-Baqarah: 186).

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah dan senantiasa bersama beliau, sehingga ia pun melihat dan menyaksikan bagaimana Rasulullah bersimpuh dan berdoa kepada Allah, memohon pertolongan kepada-Nya dan meminta bantuan kepada-Nya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq selalu berusaha untuk mempelajari ibadah yang satu ini dari Rasulullah, mempraktikkan bacaan-bacaan doa dan tasbih yang diajarkan oleh Rasulullah dan beliau senangi. Karena tidak selayaknya seorang Muslim lebih memilih bentuk-bentuk bacaan doa, tasbih, dan shalawat yang lain daripada bacaan-bacaan yang diajarkan dan diriwayatkan oleh Rasulullah, meskipun secara zhahir bacaan-bacaan yang lain itu nampak baik redaksi dan maknanya. Karena Rasulullah adalah guru kebaikan, pembimbing, dan penunjuk kepada jalan yang lurus, dan beliau adalah yang paling tahu tentang mana yang paling utama dan paling sempurna.

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan, “Bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa yang saya baca dalam shalatku.” Rasulullah bersabda, “Bacalah, “Ya Allah, sesungguhnya hamba telah menzhalimi diri hamba dengan kezhaliman yang banyak, maka ampunilah hamba dengan pengampunan dari sisi Engkau dan rahmatilah hamba, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam doa ini, seorang hamba menggambarkan dirinya dengan gambaran yang menjadikannya butuh kepada maghfirah. Pada waktu yang sama, dia juga mendeskripsikan Tuhannya dengan deskripsi bahwa tiada yang bisa memenuhi permohonan itu selain Dia. Dalam doa ini, seorang hamba menyebutkan secara eksplisit dan terus terang tentang permohonannya, serta menyebutkan suatu alasan yang menjadikan permohonannya itu diperkenankan, yaitu bahwa Tuhan adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Doa seperti ini dan doa-doa serupa adalah bentuk permohonan yang paling sempurna.

Dalam As-Sunan diriwayatkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah saya doa yang saya baca pada pagi hari dan sore hari.” Lalu Rasulullah bersabda, “Bacalah, “Ya Allah, Dzat Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang Maha mengetahui segala yang ghaib dan yang nampak, Tuhan segala sesuatu dan Pemilik segala sesuatu, hamba bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Engkau, hamba berlindung kepada Engkau dari keburukan diri hamba, dari keburukan setan dan kesyirikannya, dan dari melakukan suatu kejelekan atas diri hamba atau dari mendatangkan kejelekan kepada seorang Muslim).” Rasulullah bersabda, “Bacalah doa ini pada pagi hari, sore hari, dan ketika kamu beranjak tidur.

Abu Bakar Ash-Shiddiq belajar dari Rasulullah bahwasanya tidak boleh bagi siapa pun memiliki persangkaan dan pikiran bahwa dirinya tidak butuh untuk bertaubat kepada Allah dan beristighfar memohon ampunan. Tetapi, taubat dan beristighfar memohon ampunan adalah sesuatu yang urgen bagi setiap orang dan ia pasti selalu membutuhkannya selamanya. Allah berfirman yang artinya,

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al-Ahzab: 72-73).

Manusia adalah zhalim dan jahil, dan bertaubat adalah menjadi ujung orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan. Dalam Al-Qur’an, Allah telah menginformasikan tentang pertaubatan para hamba-Nya yang shaleh dan maghfirah-Nya kepada mereka. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan oleh Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda, “Tidak akan masuk Surga siapa pun dengan amalnya.” Para sahabat bertanya, “Tidak pula Anda wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak pula aku kecuali jika Allah meliputiku dengan rahmat-Nya.

Ini tidak bertentangan dengan ayat,


(kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.(Al-Haqqah: 24).

Karena Rasulullah dalam hadits di atas menafikan ba` al-Muqabalah dan al-Mu’adalah (maksudnya, bahwa amal-amal seorang hamba jika dibandingkan dengan nikmat masuk Surga sebenarnya adalah sama sekali tidak sebanding), sementara Al-Qur`an menetapkan ba` sebab perkataan yang menyebutkan, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka dosa-dosa tidak menimbulkan madharat baginya,” maksudnya adalah, bahwa jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memberinya ilham dan inspirasi untuk bertaubat dan beristighfar memohon ampunan, sehingga ia tidak termasuk orang yang terus menerus atau persisten pada perbuatan dosa (al-Ishrar). Barang siapa yang mengira dan memiliki asumsi bahwa dosa-dosa tidak membahayakan orang yang persisten pada dosa-dosa tersebut, maka ia adalah orang yang sesat, keliru, dan berseberangan dengan Al-Qur`an, As-Sunnah serta Ijma’ para salaf dan imam. Karena, barang siapa yang berbuat kebajikan walau sekecil biji dzarrah sekalipun, maka niscaya ia akan melihat balasannya, dan barang siapa mengerjakan amal keburukan meski sekecil dzarrah pun, maka niscaya ia akan melihat balasannya pula.

Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa berdzikir kepada Allah, begitu khusyu’ bersimpuh kepada-Nya, tidak pernah lepas dari berdoa di setiap waktu dan kesempatan. Ada sejumlah bacaan doa dan permohonan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang diriwayatkan kepada kita, yang di antaranya adalah:

“Ya Allah, hamba memohon kesempurnaan dan keutuhan nikmat pada segala sesuatu semuanya, memohon ilham bisa bersyukur kepada Engkau atas nikmat itu hingga Engkau ridha dan setelah ridha, memohon yang terbaik pada semua hasil pilihan, dengan segenap urusan-urusan yang mudah bukan dengan urusan-urusan yang sulit, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.”

“Ya Allah, hamba memohon kepada Engkau sesuatu yang itu adalah baik bagi hamba pada akhir kesudahan dan akibat kebaikan. Ya Allah, jadikanlah kebaikan terakhir yang Engkau berikan kepada hamba adalah ridha Engkau dan derajat yang tinggi dari Surga-Surga penuh kenikmatan.”

“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umur hamba adalah akhirnya, jadikanlah sebaik-baik amal hamba adalah penutupnya, dan jadikanlah sebaik-baik hari hamba adalah hari di mana hamba bertemu dengan Engkau.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika mendengar seseorang memuji dirinya, maka ia berdoa, “Ya Allah, Engkau adalah Yang lebih tahu tentang diri hamba daripada hamba sendiri, dan hamba lebih tahu tentang diri hamba daripada mereka. Ya Allah, jadikanlah hamba lebih baik dari apa yang mereka kira, dan ampunilah hamba atas apa yang mereka tidak mengetahuinya, dan janganlah Engkau menghukum hamba atas apa yang mereka katakan.”

Demikianlah pembicaraan singkat tentang beberapa sifat dan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dan kita akan melihat buah hasil tarbiyah Nabawiyyah pada diri dan pribadi Abu Bakar Ash-Shiddiq setelah Rasulullah meninggal dunia, bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq berhasil mencapai suatu posisi yang tidak bisa dicapai oleh orang lain berkata karunia dan taufiq Allah, kemudian berkat tarbiyah yang mendalam, keimanan yang besar, keilmuan yang mendalam dan berguru langsung kepada Rasulullah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq telah berhasil mendapatkan penggemblengan serta berhasil melewati babak dan tahapan-tahapannya secara baik di bawah pengasuh sang pemimpin agung Muhammad SAW. Kemudian ketika sudah menjadi khalifah umat ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq mampu memimpin dan menahkodai bahtera Islam menuju ke pantai aman dengan selamat meski di tengah jalan berbagai badai menerjang, ombak besar menerpa bertubi-tubi, berbagai fitnah, kekacauan, dan cobaan besar menghampiri.

Sumber: Buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq oleh Prof. Dr. Muhammad Ash-Shallabi.

4 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like