Categories
Allah

Ya Allah!

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
(QS. Ar-Rahman: 29)

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru: “Ya Allah!”

Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru: “Ya Allah!”

Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru: “Ya Allah!”
Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: “Ya Allah!”

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru: “Ya Allah!”
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah:”Ya Allah!”

Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita, dan wajah zaman berlumuran debu hitam. Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang, dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah.

Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-Nya.

Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke arah-Nya untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-Nya. Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi menegang, dan iman kembali berkobar-kobar. Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-Nya, keyakinan akan semakin kokoh. Karena,

“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.”
(QS. Asy-Syura: 19)

Allah: nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling indah, ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga.

“Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”
(QS. Maryam: 65)

Allah: milik-Nya semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemuliaan, kemampuan, dan hikmah.

“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.”
(QS. Ghafir: 16)

Allah: dari-Nya semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan, cinta dan kebaikan.

“Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah. (datangnya).”
(QS. An-Nahl: 53)

Allah: pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan.

Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna, akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku

Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.

Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa kantuk dari-Mu yang menentramkan. Tuangkan dalam jiwa yang bergolak ini kedamaian. Dan, ganjarlah dengan kemenangan yang nyata.

Wahai Rabb, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu. Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus. Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayah-Mu.

Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu.

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.

Kami berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera. Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Hanya kepada-Mu kami memohon, dan hanya dari-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.
———————————————————————————————————-
Dikutip dari: Al-Qarni, Aidh. (2004). La Tahzan, jangan bersedih; penerjemah, Samson Rahman; penyunting, Syamsuddin TU dan Anis Maftukhin. -Jakarta: Qisthi Press, hal. 1-3

Categories
Aqidah dan Akhlaq

Waspada akan Pornografi Terselubung

“Anak Adam tidak dapat menghindar dari perbuatan (yang mengantarkannya kepada) zina.”
(H.R Muslim)

Kalau anda sering menonton televisi sepertinya sudah sangat akrab dengan iklan rokok yang rada-rada lain dalam “penampilannya.” Yakni, kental dengan unsur “buka-bukaan” dan funky. Itulah iklan rokok Pall Mall yang sempat menjadi tren di sekitar tahun 2000-an. Dengan melihat gaya iklannya, tidak salah lagi, rokok ini membidik pasar usia muda. Malah PT BAT (British American Tobacco), produsen rokok “funky” ini bekerja sama dengan event organizer-nya membuat heboh dengan menggelar Pall Mall Light Up The Night Party dalam rangka promosi produk di beberapa kota besar di tanah air.

Slogan “Light Up the Night” dalam iklan rokok ini pasti sudah akrab di telinga anda. Sesuai dengan strategi pemasarannya, acara promosi tersebut pekat sekali dengan nuansa funky, macam Bubble Party, dan Acid Rain. Nah, melihat sukses acara-acara tersebut, kayaknya Pall Mall seperti kecanduan membuat acara serupa. Maka tidak heran, seperti banyak diberitakan media massa, Pall Mall membuat acara super heboh, yakni Light Up the Night—Pall Mall Top 40 the Party! Di Bandung, Solo, Semarang, dan Yogyakarta.
Dress You Up
Tapi, semangat promosi Pall Mall rupanya kebablasan menjadi mirip-mirip pesta striptease. Itu tuh pesta telanjang. Kejadiannya di Solo, panitia menggelar lomba yang diberi nama Dress You Up. Yakni, lomba mencopot pakaian bagi wanita. Siapa yang paling sedikit tersisa pakaian di tubuhnya itu yang menang. Hadiahnya? Uang tunai 300 ribu rupiah! Uang yang lumayan banyak pada saat itu! Ternyata ada juga para wanita yang berani ikutan, dan menang.

Kontan acara yang aneh itu diprotes banyak kalangan termasuk para praktisi hukum dan sejumlah LSM. Bahkan, mereka mengajukan gugatan untuk produsen rokok “malam” ini. Apa boleh buat, panitia terpaksa minta maaf.

Tapi sebenarnya acara Dress You Up-nya Pall Mall hanya satu bagian kecil dari acara-acara mereka yang “gila-gilaan.” Hampir setiap pesta yang mereka gelar selalu sexiest. Tari-tarian eksotis dengan busana minim, plus goyangan yang menggoda. Na’udzubillah.

Dan yang membuat banyak orang mengelus dada adalah, entah disengaja atau tidak, pengunjung pagelaran Pall Mall itu umumnya anak-anak muda. Termasuk para peserta lomba-lomba dan tari-tarian yang seronok itu juga berasal dari usia muda. Ini yang memprihatinkan.

Pornografi Berserakan
Pall Mall tidak sendirian dalam “memformat” gaya hidup nan sexiestuntuk masyarakat. Masih banyak acara atau iklan bernuansa seks yang tidak lolos sensor. Bukan hanya itu, bila anda kebetulan rajin mengamati lukisan, itu juga tidak lepas dari unsur, maaf, ketelanjangan. Sekedar tahu saja, lukisan Affandi (misalnya Telanjang tahun 1947 dan Dua Kucing tahun 1952), apa itu nggak porno? Porno, lah! Tapi, kebanyakan orang menilai karya Affandi itu sebagai karya seni.

Bagaimana dengan iklan, film, dan nyanyian? Wah, di “sektor” ini nuansa porno juga sangat kental. Sudah tidak terhitung jumlahnya iklan yang membuat piktor (pikiran kotor) kita. Malah ada juga iklan yang “maksain” untuk tampil porno, meskipun sebetulnya iklan tersebut tulalit alias kagak nyambung. Contohnya, iklan pompa air listrik dengan goyangan Lisa “ratu joged” Nathalia yang seronok itu. Untung iklan itu akhirnya sukses dihentikan. Lisa sendiri minta maaf. “Lain kali saya akan lebih hati-hati,” katanya.

Lisa Nathalia dan Joged RCTI juga satu fenomena dengan pornografi lho. Dalam lomba Joged yang digelar di tiap tayangannya itu selalu saja ada peserta yang berani tamppil seronok bin norak. Begitu pula klip-klip dangdut lainnya banyak yang kompak; seksi dan porno.

Tapi, bukan cuma klip musik dangdut, musik-musik pop atau rock juga banyak yang mengusung nuansa porno. Pencet saja channel MTV maka kita akan mendapatkan tayangan klip yang bikin jantung deg-deg plas. Ada Come on Over-nya Christina Aguilera, Toni Braxton, Lady Gaga, dan lain-lain.

Tapi anehnya, masyarakat cenderung menutup mata atau memang tidak sadar terhadap tayangan yang diam-diam menyelinap ke dalam rumahnya sendiri. Malah yang lebih parah, sebagian masyarakat masih menyelubungi pornografi dengan dalih seni. Padahal, dalam Islam juga ada aturannya sendiri. Ya, seharusnya kita juga jeli di setiap “sudut.” Jangan cuma “gerah” pada saat masalah tersebut sangat mencolok mata, seperti kasus di atas, dengan sangat berani malu Pall Mall menggelar acara yang membuat rusak akhlak. Bolehkah disebut striptease gaya Pall Mall.

Faktor Warisan
Percayakah anda kalau nenek moyang kita memang mewarisi pornografi? Tidak percaya? Bila anda menyaksikan potret tahun 1930-an di Bali, dalam foto itu tampak para gadis masih “porno.” Juga kita bisa “menyaksikan” relief-relief candi yang menggambarkan “pornografi.” Di Museum Pusat di Jakarta, disitu juga banyak dipamerkan patung-patung “primitif” etnik yang juga porno.

Belum lagi karya-karya sastra klasik Indonesia yang juga sarat dengan gambaran-gambaran erotik. Seperti Arjuna Wijaya, Arjuna Wiwaha, Bharatayudha, Sumanasantaka, Sutasoma, dan Subadra Wiwaha. Wah, konon kabarnya dalam cerita-cerita itu sarat dengan adegan-adegan erotik yang membuat “gerah.” Maklum saja bahwa mereka itu para pujangga yang amat mahir membangun imagelewat kata-kata, termasuk imageerotik. Namun, karena gambaran-gambaran itu begitu kuat melukiskan suatu corak kebudayaan, maka buku tersebut tak pernah dilarang dengan alasan penyebaran pornografi.

Tapi itu bukan cuma monopoli bangsa ini saja. Di India, Cina, atau Yunani, kisah-kisah klasik yang porno juga banyak terdapat dalam khazanah warisan budaya mereka. Itu semua menunjukkan bukti kalau pornografi memang sudah setua umur manusia.

Meski demikian, bukan berarti hal itu bisa dijadikan alasan untuk melegalisasi pornografi. Jangan karena sudah dipraktikkan dalam sejarah, lalu kita katakan kalau kebudayaan itu benar. Bisa bahaya, jangan-jangan nanti budaya Nazi Jerman yang pembunuh dan haus darah kita sahkan sebagai suatu kebudayaan.

Bukan Seni
Satu-satunya argumen “kolot” yang dikemukakan para penggemar dan praktisi pornografi adalah pertimbangan seni. Telanjang, asalkan ditata dengan indah, sesuai dengan tempatnya maka itu adalah seni. Ini jelas logika IQ jongkok para budak nafsu. Jangan-jangan nanti mereka mengatakan bahwa korupsi yang dilakukan dengan cara-cara yang indah adalah seni.

Ya, tidak semua orang setuju kalau pornografi dihujat dan diumpat. Pelantun lagu Jika, Melly Goeslaw sempat uring-uringan dan menuduh masyarakat kita kuno dan tidak bisa hidup modern. Menurutnya, masyarakat kita harus meneladani penduduk Amerika yang selalu terbuka dan “berani” hidup modern. Tambahnya lagi, doi menyebutnya sebagai karya seni, dan itu bukan porno.

Yes, kita semua prihatin kok, dengan perkembangan terakhir ini. Masyarakat ini sekarang betul-betul sedang sakit dan bahkan penyakitnya sangat parah. Berarti memang harus ada penyelesaian. Harus dicari “obat” mujarab untuk bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Khusus untuk masalah porno dan pornografi Islam punya aturan yang sangat bagus. Tentu, karena Islam adalah ideologi, yang mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan.

Rasulullah S.A.W bersabda,

“Anak Adam tidak dapat menghindar dari perbuatan (yang mengantarkannya kepada) zina, yang pasti akan menimpanya, yaitu zina mata adalah dengan melihat (aurat wanita), zina telinga adalah dengan mendengar (kata-kata porno, cinta asmara dari wanita/lelaki yang bukan suami/istri), zina lidah adalah dengan ucapan (menggoda wanita dengan rayuan dan kata-kata kotor dan porno), zina tangan adalah dengan tindakan kasar (memperkosa, menjawil bagian tertentu dari tubuh wanita), zina kaki adalah dengan berjalan (ke tempat maksiat, misalnya ke kompleks prostitusi). (Dalam hal ini), hatilah yang punya hajat dan cenderung (kepada perbuatan-perbuatan tersebut, dan farji ‘kelamin’ yang menerima dan menolaknya (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam pandangan Islam, berpartisipasi dalam pagelaran pornografi semacam itu jelas terlarang alias haram. Baik penyelenggara, pemain/peserta, maupun penontonnya. Bagi pemain/pesertanya jelas telah melanggar ketentuan Islam dalam urusan aurat. Kita akan banyak temukan adanya perintah untuk menutup aurat. Lihat Al-Qur’an surat an-Nuur ayat 31, “…Janganlah mereka menampakkan perhiasannya (anggota badannya) kecuali yang biasa tampak daripadanya…”

Ayat ini dengan jelas melarang wanita untuk menampakkan auratnya. Yang boleh terlihat hanyalah apa-apa yang biasa tampak. Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan apa-apa yang biasa tampak itu adalah wajah dan telapak tangan.

Bagi yang melihatnya bagaimana? Setali tiga uang! Hadir dan menonton acara seperti itu jelas termasuk zina kaki dan zina mata sebagaimana hadist Rasulullah S.A.W di atas. Sedangkan bagi penyelenggaranya, ia telah membuat sarana (wasilah) yang jelas-jelas untuk berbuat maksiat. Tentu jatuhnya haram juga!

Kita tentu sama-sama prihatin bahwa ternyata mental kapitalis, mencari untung dengan “menghalalkan” segala cara, sudah membudaya di negeri ini. Kasus Pall Mall tadi bisa menjadi contoh betapa ada sejumlah orang yang rela mengorbankan mental dan akhlak remaja bangsa, hanya demi sedikit keuntungan. Dan seperti biasa, andai terjadi pelanggaran susila akibat kejadian tersebut, pasti mereka akan cuci tangan sebersih-bersihya. Persis jawaban para artis dan seniman pornografi yang dengan enteng ngeles dengan mengatakan, “Kalau ada orang yang tergoda itu salah mereka sendiri, kenapa punya pikiran kotor.”

Semoga kita tidak lupa dengan sabda Rasulullah S.A.W,

“Apabila telah tampak perzinaan dan riba di suatu daerah, maka penduduk daerah itu telah menghalalkan diri mereka sendiri untuk mendapatkan azab Allah.” (H.R ath-Thabrani, al-Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hal. 132)

Nah, kalau masyarakat tidak ingin tertimpa berbagai azab dari Allah yang pastinya pedih, harus ada kesadaran dan aksi menentang pornografi. Masyarakat harus kompak dalam menilai suatu perbuatan. Jika salah, katakan salah, dan jika benar, tentu katakan benar. Masyarakat jangan cuek bebek.

Begitu pula para pengusaha, sebaiknya mencari cara yang sehat untuk menaikkan penjualan dan keuntungan mereka. Jangan mengorbankan moral anak bangsa hanya untuk mengeruk sedikit keuntungan. Lagipula daya tarik produk itu adalah pada kualitasnya sendiri, bukan sekadar promosi, apalagi dengan cara-cara asusila seperti itu.

Nah, selanjutnya kita berharap negara punya kepedulian dan keberanian untuk menjalankan aturan yang keras bagi para penjahat susila itu. Karena kalau ini terus dibiarkan, apa jadinya gambaran moral anak-anak bangsa di masa depan. Jangan-jangan semua menjadi budah nafsu rendahan. Nau’dzubillah!
———————————————————————————————————-

Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 43-51 dengan perubahan

Categories
Aqidah dan Akhlaq

Musuh Itu Bernama Narkoba

“1-2 persen orang Indonesia adalah pengguna narkoba.”
(Republika, 25/10/1999)

Genderang perang sudah ditabuh untuk melawan narkoba. Ini tidak main-main. Anda sudah menyaksikan perang “bubat” memburu musuh bersama, yaitu narkoba. Tidak tanggung-tanggung, orang nomor wahid di negeri ini pun telah menyetujui ancaman hukuman mati bagi para pengedar narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba). Ia menegaskan bahwa pemerintah akan mengeraskan sikap terhadap para pengedar narkoba , jika perlu dengan hukuman mati (Media Indonesia,7 Desember 1999).

Nah, lho bikin sport jantung, kan? Terutama bagi para pengedar dan bandar narkoba. Kelihatannya sih memang tidak main-main. Soalnya, narkoba sekarang sudah jadi musuh bersama. Hampir semua orang mengutuk barang laknat itu.

Narkoba memang telah menimbulkan kerugian moril, materiil bahkan nyawa bangsa ini. Sebagai catatan yang memprihatinkan, hingga bulan September tahun 1999 di Jakarta saja dilaporkan setiap malamnya tidak kurang tiga pecandu narkoba masuk RSCM. Jumlah ini malah mencapai sepuluh orang pada hari libur (Republika, 20/9/1999). Sementara itu, RSJ Cilendek Bogor yang kini juga menangani pasien korban narkoba malah kewalahan dan mulai menolak pasien bau karena hanya mampu menampung 40 orang.

Adapun tingkat pengguna narkoba ditaksir telah mencapai 1,5 juta orang, dan setiap bulan sekitar 4.000 pasien baru masuk ke rumah sakit ketergantungan obat (Republika, 22/09/1999). Malah menurut asumsi Letkol (Dra.) Sri K. Marhaeni, guru madya Pusdik Binmas Polri Kelapa Dua, Cimanggis, Bogor, antara 1-2 persen orang Indonesia adalah pengguna narkoba. (Republika, 25/10/1999).

Sekali Coba Binasa
Anda memang pantas takut bergaul dengan narkoba. Karena seperti kata iklan, sekali dicoba narkoba langsung disuka. Narkoba mampu membuat anda ketagihan alias sakaw dan menjadikan anda seorang junkies ‘pecandu’ yang menghamba luar dalam kepada narkoba. Sekalipun anda harus tersiksa sakaw, tapi anda tetap membutuhkannya, meski harus merogoh kocek dalam-dalam. Wah, seram!

Selain menguras uang, narkoba adalah zat yang amat beracun bagi tubuh anda. Banyak efek berbahaya yang terdapat pada narkoba, di antaranya sebagai berikut:

1. Secara umum, pengguna narkoba akan menjadi kehilangan kepercayaan diri, lemah, dan blo’on.
2. Para pengguna ekstasi dan kokain akan mengalami perubahan tingkah laku yang menjurus ke arah paranoid dan antisosial sebagai akibat dari rusaknya sel-sel saraf otak. Sehingga, mereka dapat dengan mudah melakukan tindak kriminal.

3. Penggunaan zat adiktif juga mengakibatkan gangguan konsentrasi.

4. Heroin atau putaw juga dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan narkotik dapat menekan pusat pernapasan yang terletak di batang otak (depresi pusat pernapasan), pembengkakan (edema) paru-paru secara akut atau karena terjadi reaksi yang fatal (syok-anafilaktik).

5. Selain memberikan good tripping ‘rasa menyenangkan’, ekstasi juga memberikan bad tripping. Seorang pengguna yang sedang trippingbisa mengalami halusinasi untuk membunuh orang, atau bunuh diri seperti meloncat dari gedung tingkat tinggi karena terhalusinasi ada kolam renang di bawahnya.

6. Ekstasi juga dapat meningkatkan tensi darah. Mereka yang tensinya tinggi akan dengan mudah terserang stroke karena pecahnya pembuluh darah di otak, yang lagi-lagi dapat mengantarkan kepada kematian.

7. Dan, ekstasi juga dapat menyempitkan pembuluh darah perifer vasocinsyriciperifer), membuat pengguna merasa kedinginan, dan kesemutan. Untuk itu, ia harus menggoyangkan tubuhnya (tripping). Karena vasoconstricsi tersebut, si pengguna ttidak mungkin bisa ereksi.

8. Di luar negeri tingkat kecelakaan lalu lintas akibat mengkonsumsi ekstasi ternyata telah meingkat.

Secara ekonomi, narkoba telah menguras uang milyaran rupiah untuk konsumsi maupun proses penyembuhannya. Untuk biaya pengobatan saja, setiap pasien di RSJ Bogor tahun 1999 dikenakan biaya 100 ribu rupiah per orang. Bila tidak disubsidi baya itu malah bisa mencapai 150 ribu rupiah per pasien. Angka ini terbilang wajar karena obat-obatan yang harus dikonsumsi penderita untuk melawan pengaruh obat bius terbilang mahal. Sebagai contoh, untuk menghantam pengaruh morfin di dlaam tubuh penderita, setiap pasien harus diberi obat antagonis morfin, yaitu naltrexon. Obat ini harus diminum setiap hari selama 10-12 bulan, padahal harga obat impor ini mencapai 1,5-2 juta rupiah per 50 butir.

Anda tahu tentang AIDS kan? Nah, makhluk yang satu ini ternyata akrab dengan para pecandu narkoba. Tidak percaya? Nih buktinya. Dari studi yang dilakukannya, pakar AIDS Dr. Zubairi Djoerban mengajukan beberapa bukti keterkaitan narkoba dan HIV/AIDS. Ia mengemukakan dalam beberapa bulan sampai di dengan bulan Oktober 1999, pasien baru yang didiagnosis atau dirujuk kepadanya—selaku spesialis penyakit dalam—biasanya 1-2 orang dalam satu bulan. Ia juga menambahkan bahwa dalam tinga minggu pertama bulan November 1999, ia menemukan sembilan kasus baru infeksi HIV/AIDS, dan tiga di antaranya pecandu narkoba.

Lebih menyeramkan lagi adalah penelitiannya melalui Yayasan Pelita Ilmu yang diketuainya tentang penelitian pendahuluan terhadap ABG di daerah Blok M, yang memperlihatkan adanya 7,5% di antara mereka merupakan pecandu narkoba dan 12,3% lainnya terlibat seks bebas (Media Indonesia, 30 November 1999).

Tapi kerugian yang lebih besar adalah ancaman akan hancurnya aset umat yang paling berharga, yaitu generasi Islam yang berkualitas. Mereka, para pemuda yang semestinya berada di garis terdepan perjuangan dakwah Islam, terpuruk dalam genggaman narkoba. Andaipun pulih, kelemahan tubuh mereka mungkin sulit untuk tergantikan kembali. Fungsi otak mereka yang telah teracuni narkoba relatif kalah bersaing dengan mereka yang berotak segar.

Karena itu, wajar bila muncul prasangka bahwa maraknya narkoba juga mengandung muatan politis. Ada dugaan bahwa ini adalah langkah sistematis untuk menghancurkan kekuatan kaum muslimin sejak tingkat usia muda. Meski tidak menyebut khusus korbannya adalah remaja Islam, Gubernur DKI Sutiyosi juga menyatakan tidak tertutup kemungkinan ada dimensi politis dalam hal ini (Garda, no. 34).

Barang Haram
Narkoba itu, apapun jenisnya, adalah barang haram. Sabda Rasulullah S.A.W,

“Segala yang mengacaukan akal dan memabukkan adalah haram.” (H.R Imam Abu Dawud)

Syekh Ibnu Taimiyah sebagaimana yang dikutip Sayyid Sabiq dalam Fiqhus-Sunnah, menyatakan bahwa hadist tersebut mencakup segala benda yang merusak akal tanpa membeda-bedakan jenis dan tanpa terikat cara pemakaiannya, baik dimakan, diminum, dihisap maupun disuntik. Maka, benda-benda yang merusak akal tersebut—termasuk putaw, ekstasi dan sejenisnya dari anggota narkoba—jelas terkategori haram. Sebagaimana pedoman Islam, setiap pelaku perbuatan haram akan diganjar dengan hukuman.

Bagaimana dengan para penjualnya? Dalam hal ini terdapat kaidah umum dari para ulama yang berbunyi, “Apa saja yang diharamkan, maka diharamkan pula diperjual-belikannya.” Kaidah ini berlandaskan kepada hadist Rasulullah S.A.W dan Ibnu Abi Syuaibah, “Jika Allah mengharamkan sesuatu, haram pula harganya (yang diperoleh dari benda tersebut).”

Lalu, Bagaimana?
Masalah narkoba ini memang sepertinya tidak akan habis-habis, bila tak melibatkan semua komponen masyarakat dan negara. Soalya, yang terjadi sekarang ini ibarat orang memadamkan kebakaran, tapi membuat kebakaran baru. Sebagian masyarakat semangat menjegal, sebagian masyarakat lain malah tidak peduli, bahkan semakin meningkatkan operasinya. Menurut hasil investigasi Tabloid AKSI vol. 4 no. 200 (20 November – 2 Desember 1999) didapatkan temuan bahwa peredaran narkoba di negerinya Si Komo ini telah melibatkan sindikat internasional. Kapolri pada saat itu, Jenderal Roesmanhadi, yang dikutip AKSI, menyebutkan bahwa berbagai jenis kokain dan heroin masuk ke Indonesia melalui jalur udara, laut, dan darat. Bubuk itu ada yang datang bersama penumpang (body wrapping/swallowed) maupun disembunyikan dalam barang bawaan dan kiriman. Kapolri juga menyebutkan bahwa daerah asal heroin dari the golden triangle dan kokain berasal dari Kolombia, Peru, dan Brazil.

Para penyelundup dari Guang Zhou (Cina) pun yang membawa sabu-sabu alias nethamphetainebebas melenggang. Bahkan, lebih menyedihkan lagi, ini sudah menjadi rahasia umum, banyak aparat yang lebih suka menjadi pengguna bahkan pengedar ketimbang meringkus para pengguna dan pengedar narkoba. Kalau sudah begini, rasanya dunia begitu sempit kawan. Maka, tidak ada jalan lain kecuali menyetop laju narkoba.

Seperti kesepakatan semula bahwa masalah ini tidak berdiri sendiri, maka penyelesaiannya pun tidak bisa sepotong-sepotong, tapi harus total alias menyeluruh dan melibatkan semua sektor. Pertama, anda harus melindungi diri anda dengan “baju” takwa. Bukan hanya jilbab atau baju koko. Tapi maksudnya dengan ketakwaan yang tulus kepada Allah S.W.T dan Rasul-Nya. Yakinlah, bahwa Allah akan menyelamatkan anda, jika anda sendiri berusaha untuk menyelamatkan diri anda dari kebinasaan.

Kedua, perlu adanya kontrol masyarakat yang ketat. Karena walau bagaimana pun juga individu itu bagian dari sebuah masyarakat. Bila masyarakatnya amburadul, tak mustahil individunya ikut-ikutan senewen. Soalnya, mau tidak mau pengaruhnya pasti ada, sekecil apa pun.

Dan yang terakhir, Ketiga, perlu ada kekuatan dari penguasa di negeri ini untuk membuat dan menerapkan aturan dan sanksi yang tegas. Tentu bukan hanya NATO alias No Action Talk Only tapi membuat seperangkat aturan yang baku dan terperinci. Jangan setengah-setengah, berikan saja hukuman berat—semisal hukuman mati—bagi para BD dan juga pembuat barang terkutuk itu. Jangan lupa, juga harus ada sanksi bagi para pengguna. Biar mereka kapok.

Kondisi seperti ini memang hanya akan terjadi jika ikatan kebersamaan antarindividu itu kuat. Pemikiran kita seragam, perasaan kita kompak, dan tentu saja kita sepakat bahwa pemikiran dan perasaan yang seragam itu hanya bisa tumbuh dan berkembang dalam naungan negara yang menerapkan aturan yang sama pula. Dan anda harus ingat bahwa pemikiran, perasaan, dan aturannya adalah Islam.

Nah, kondisi seperti ini yang nantinya akan melahirkan kebersamaan dalam gerak dan menentukan sikap. Kalau itu salah, anda semua sepakat membenci bahkan mengutuknya. Dan tentu saja, jika benar, anda semua dengan tulus mengatakan benar. Dengan demikian, anda bisa katakan sekarang bahwa narkoba adalah musuh bersama!

———————————————————————————————————-
Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 63-72 dengan perubahan

Categories
Hukum Islam Kajian Islam

Jangan Tertipu Gemerlap Valentine’s Day

“Bangsa yang kalah cenderung mengekor yang menang.”
(Ibnu Khaldun)

Crasss… Kepala St. Valentine dipancung oleh penguasa Roma. Inilah kisah tragis tentang seorang bishop di Terni, suatu tempat kira-kira 60 mil dari Roma. Kenapa ia dipancung? Konon kabarnya gara-gara ia memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Itu terjadi sekitar tahun 273 Masehi. Dalam perkembangannya, peristiwa tersebut lalu dikaitkan dengan gebyar Valentine’s Day.

Ajaibnya, hajatan Valentine’s Day yang digarap anak-anak muda kontemporer rada-rada nggak nyambung dengan latar belakang sejarahnya. Alih-alih memperingati “jasa-jasa” sang rahib, eh malah diisi dengan kegiatan curhat dan kasih sayang. Benar-benar nggak nyambung!

Upacara Dewa-Dewa

Tapi apa mau dikata, kegiatan rutin tahunan Valentine’s Day sudah kepalang dinobatkan sebagai hari kasih sayang di seluruh dunia. Termasuk kita jadi latah ikut heboh setiap tanggal 14 Februari. Padahal, Valentine’s Day ternyata punya latar belakang peristiwa yang bukan berasal dari Islam. Jadi, bahkan dalam versi lain, disebutkan bahwa pada awalnya orang-orang Romawi merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 Februari yang diberi nama Lupercalia. Peringatan ini adalah sebagai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) dan Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Acaranya? Pria dan wnaita berkumpul, lalu saling memilih pasangannya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya—tukar kado. Selanjutnya? Hura-hura sampai pagi!

Seiring dengan berjalannya waktu, pihak gereja—yang waktu itu agama Kristen mulai menyebar di Romawi—memindahkan upacara penghormatan terhadap berhala itu menjadi tanggal 14 Februari. Dan dibelokkan tujuannya, bukan lagi menghormati berhala, tapi menghormati seorang pendeta Kristen yang tewas dihukum mati. Nama acaranya bukan lagi Lupercalia, tapi Saint Valentine.

Waduh, anda yang ikut-ikutan dalam hajatan Valentine’s Day itu ternyata merayakan peringatan yang bukan berasal dari Islam. Tidak tahu, apa tidak mau tahu?

Jauh dari Islam
Melihat akar sejarahnya, kita tidak bisa membantah kalau acara valentinanitu tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran Islam. Malah, ibarat diamnya gunung berapi, acara ini punya potensi besar untuk menyeret orang-orang ke dalam pergaulan yang negatif.

Yang sudah nyata, adalah tanpa sadar kita jadi latah ikutan acara ini. Padahal, budaya itu tidak sama denga way of life­-nya Islam.

Terlebih, Al-Qur’an sangat “cerewet” menyikapi masalah ini. Allah S.W.T berfirman,

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Israa’:36)

Budaya Valentine’s Day itu memang berasal dari way of life-nya akidah lain, yakni budaya orang Barat yang berakidah sekuler. Firman Allah S.W.T,

“…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu (keterangan-keterangan), sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk golongan orang-orang zalim.” (al-Baqarah:145)

Maka, disinilah wajib bagi anda untuk mengetahui juga soal hukum-hukum Islam. Termasuk dalam hal ni adalah ketika akan melakukan suatu perbuatan. Ada keharusan untuk tahu hukumnya dulu sebelum melakukan. Sebagaimana suau kaidah syar’iyahyang berbunyi, “Asal (pokok/dasar) perbuatan adalh terkait (terikat) dengan hukum-hukum Islam.” Termasuk dalam “berkasih sayang” bersi Valentine’s Dayini, wajib tahu hukumnya agar anda tidak jeblok alias menyesal seumur hidup anda.

Rasulullah S.A.W, orang yang paling mulia dan kita teladani, dengan tegas memperingatkan kita agar jangan mengikuti pola hidup (budaya) kaum/bangsa lain. Dalam hadist riwayat Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah S.A.W bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku menerima (mengikuti) apa-apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta.” Di antara sahabat ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud (di sini) seperti bangsa Persia dan Romawi?”Rasulullah S.A.W menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka).”

Rasulullah S.A.W pun melarang kita untuk menyerupai (tasyabbuh) ajaran suatu kaum. “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk ke dalamnya,” sabda baginda Nabi S.A.W. Nah, termasuk yang dijadikan bahasan hadist itu adalah ikut merayakan hari raya orang-orang di luar Islam, di antaranya Valentine’s Day itu.

Lebih jelas lagi adalah apa yang disebut dalam surah al-Furqaan ayat 72 tatkala menjelaskan ciri-ciri orang beriman. Allah Ta’ala menyebutkan satu di antaranya adalah mereka yang tidak menyaksikan kepalsuan. Firman-Nya, “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (adz-dzur)…”

Menurut para ahli tafsir Al-Qur’an seperti Ibnu Abbas, lafal adz-dzuritu artinya adalah ‘ayyadul musyrikin‘hari raya orang-orang musyrik.’ Masih menurut mereka, haram hukumnya bagi kaum muslimin untuk hadir apalagi merayakan hari raya di luar Islam.

Dan bicara soal Hari Raya, bukankah Islam sudah memberikan alternatif Hari Raya yang jauh lebih baik dari Hari Raya manapun? Nabi kita bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti Hari Raya dengan dua Hari Raya yang lebih baik bagi kalian; Idul Fitri dan Idul Adha.”

Mengambil Sikap
Jadi, apa jawaban anda ketika ditanya kenapa ikut dalam pesta Valentine’s Day? Karena acara itu adalah perayaan kasih sayang? Bisa jadi sebagian besar jawabannya demikian. Tapi anda harus tahu bahwa “kasih sayang” versi bangsa yang melahirkan acara ini tidak lebih dari mengumbar hawa nafsu. Untuk orang-orang sekuler dan liberal seperti di Barat sana, biasa mengucapkan kata-kata cinta dan kasih sayang dengan ucapan; make love. Nah, tentu saja itu artinya “bermain cinta” yang ujung-ujungnya adalah zina. Wah, bahaya!

Cukuplah kita semua melihat apa yang ditayangkan di film-film televisi bahwa cinta dan pacaran itu sudah lekat dengan pergaulan bebas bak coklat menempel di gigi. Ada pegangan tangan, pelukan, ciuman, dan na’udzubillahsampai hubungan badan. Istilah lainnya gaul ala KNPI—Kissing, Necking, Petting, dan Intercourse. Yang jelas, anda tidak akan mau melakukan hal seperti itu, kan?

Dan, anda juga harus sadar, bahwa banyaknya orang-orang yang ikut merayakan Valentine’s Day bukan berarti acara tersebut sah dan legal. Soalnya, sah atau legal acara tersebut bukan bergantung dari banyaknya orang melakukan perbuatan itu. Tidak juga bergantung dari selera anda sebagai manusia yang memandang persoalan hanya dari ukuran perasaan dan pikiran anda semata. Tapi, seluruhnya disandarkan kepada ajaran-ajaran Islam. Islam sebagai patokan.

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu saja kita tidak layak mengikuti budaya yang tak jelas juntrungannya. Terlebih Valentine’s Day ini adalah produk peradaban Barat yang sekuler yang memisahkan antara agama dengan kehidupan.

Valentine’s Day hanya sebuah sarana dari sekian banyak sarana peradaban Barat yang notabene terbilang maju dan “hobi” menghancurkan Islam. Bisa jadi Valentine’s Day adalah sebagai alat penjajahan Barat. Paling tidak dari sisi budaya dan gaya hidup. Ada baiknya kita merenungkan pernyataan sosiolog muslim yang terkenal, Ibnu Khaldun. Apa yang dikemukakannya? Ibnu Khaldun berkata, “Yang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, dan bentuk senjata yang dipakai. Malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat-istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik maupun di rumah.”

———————————————————————————————————-

Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 3-9 dengan perubahan

Categories
Aqidah dan Akhlaq

Tawuran Melahirkan Generasi Preman

“Perang hanya akan melahirkan ribuan pemakaman.”
(Salah satu dialog dalam film Heaven on Earth)

Aroma “perang” kini merambah sampai ke tanah air. Sekarang, kita sering menyaksikan perang “lain” yang tidak kalah brutal. Memang tak ada desingan peluru, juga tak ada dentuman bom. Namun, “perang” ini tetap mengerikan.

Perang itu bernama tawuran. Ya, tawuran pelajar masih menyimpan misteri. Bagaimana tidak misterius, terjadinya saja fluktuatif. Meski saat ini tidak begitu heboh beritanya, tapi siapa tahu “diamnya” itu adalah diamnya gunung berapi. Sekalinya meledak membawa petaka.

Para pelajar yang sok jagoan itu telah mengganti aksesoris sekolah mereka dengan aksesoris gangster alias bandit. Anda bisa lihat sendiri, pulpen berganti obeng, penggaris dipermak jadi pedang, dan ikat pinggang ditambah gerigi roda jadi “sapu jagad.” Bersekolah bukan lagi menjadi kegiatan yang menyenangkan, tapi telah menjadi “horor” baru. Setiap remaja was-was kalau-kalau mereka menjadi sasaran amuk massa pelajar. Kalau begitu, untuk apa lagi bersekolah?
Bukan Kenakalan
Tawuran pelajar yang terjadi hingga saat ini, ibarat sebuah film actionberseri. Kejadiannya berulang-ulang. Selesai satu episode, berlanjut episode berikutnya. Kesal dan jengkel memang. Tapi itulah barangkali “benih-benih generasi preman.”

Melihat korbannya, orang yang masih sehat akalnya pasti setuju kalau tawuran bukanlah deliquency ‘kenakalan’, tapi tindak kriminal. Bagaimana tidak? Badi, obeng, batu, bahkan samurai telah jadi senjata pamungkas dalam menyelesaikan persoalan. Menggantikan kepalan tangan dalam berkelahi atau tendangan khas berantemnya pelajar zaman si Doel Anak Sekolahan. Ah, ganas nian!

Kawan, tiap dua bulan nyawa pelajar melayang sia-sia. Angka ini berdasarkan jumlah korban tawuran antarpelajar di DKI Jakarta sejak Januari – Juli 1999, yang dikeluarkan Pusat Pengendalian Gangguan Sosial (Pusdalgangsos) Pemda DKI. Menurut kepala BIdang Pengumpulan dan Pengelolaan Data (Kabid Pulahta) Pusdalgangsos DKI, Raya Siahaan, sebanyak 13 orang tewas, 105 menderita luka-luka, dan 117 ditangkap petugas, selama Januari-Juli 1999 (Media Indonesia, 4 Agustus 1999).

Kemudian yang bisa menggiring kita kepada kesimpulan bahwa tawuran bukan lagi kenakalan, adalah unsur perencanaan dalam setiap kejadian. Para aktivis tawuran tidak lagi mengadakannya secara spontan, melainkan melalui perencanaan yang matang. Mencegat bus-bus lalu menganiaya korban beramai-ramai, atau menyerang sekolah lawan dengan serangan cepat.

Yang lebih memprihatinkan, banyak pelajar yang sengaja ngedrugs sebelum beraksi, dengan maksud menambah keberanian dan kekuatan saat tawuran. Akibatnya, arena tawuran menjadi kian ganas tak terkendali. Karena siapa yang masih punya pikiran sehat kalau akal sudah dicengkram pengaruh obat.

Dan seperti yang sering anda baca, lihat, atau dengar bahwa aksi tawuran tidak pandang bulu. Terlibat atau tidak, asalkan dari sekolah yang sama maka harus dilibas. Maka, acapkali tawuran menelan korban pelajar-pelajar yang “tak berdosa.” Sehingga, berlakulah prinsip zaman wild wild west dulu, kill or be killed, membunuh atau dibunuh. Ah, apa bedanya rimba Vietnam dengan sekolah?

Salahkah Sekolah?
Ada asap pastilah ada api. Ya, dalam kasus ini semestinya pihak-pihak terkait merenung dalam-dalam. Terutama dunia pendidikan. Sudahkah dunia pendidikan menjalankan fungsi sebagai institusi pendidikan yang baik dan benar? “Selama orde baru, pendidikan lebih banyak dititikberatkan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Pendidikan moral dan agama kurang. Beban kurikulum terlalu berat, serta banyak diproyekkan’ untuk mencari keuntungan, sehingga setiap ganti kurikulum ganti buku pelajaran,” ujar Prof. Dadang Hawari, yang dikutip Media Indonesia, 2 Agustus 1999.

Pedas memang komentar pemerhati masalah sosial ini. Tapi harus jujur kan. Sekarang bukan saatnya lagi menutup-nutupi kekurangan kita semua. Apalagi ini menyangkut nyawa dan situasi sosial bersama.

Ibarat cerita wayang, sekolah harusnya menjadi kawah “Candradimuka” bagi pelajar. Yang dalam cerita wayang kawah itu mampu melahirkan Jabang Tetuko alias Gatotkaca, ksatria sakti nan baik hati. Nah, tidak salah kan kalau remaja berharap sekolah bisa berperan seperti itu. Menjadi arena pendidikan akal dan hati nurani. Bukan institusi pendidikan sekuler yang cuma berorientasi mengejar nilai. Dimana segala kemajuan diukur dengan nilai atau prestasi fisik, bukan akal dan hati nurani. Maka, jangan heran kalau mendiang Romo Mangunwijaya pernah berkomentar “sadis” dengan menyebut sekolah sebagai arena pelatihan ala sirkus yang hanya akna melahirkan neo-fasisme.

Moga-moga Romo Mangun salah, tapi kenyataan memang menunjukkan sekolah hanya berperan sebatas sarana transfer ilmu belaka, sedangkan pembentukan kepribadian diserahkan kepada diri sendiri kepada siswa-siswi. Tidak heran bila muncul “fasis-fasis” kecil. Preman atau jagoan tawuran, atau melahirkan borjuis-borjuis kelas pemula yang bergaya hedonis dan pamer harta tanpa peduli pada keadaan sekitar.

Krisis Identitas
Tapi “dosa” tawuran tidak hanya ditanggung pihak sekolah. Pakar pendidikan dan juga presenter acara Hikmah Fajar di RCTI Dr. Arief Rachman, menyebut empat penyebab utama pemicu tawuran. Pertama, berkarakter labil. Sikap pelajar tersebut cepat marah dan reaktif. Bahkan, emosinya tidak seimbang dengan penggunaan nalarnya, dan imannya sangat rendah.

Kedua, keluarga pelajar tersebut bermasalah. Boleh dibilang tidak cocok untuk perkembangan kepribadian anak. Seringkali orangtua menerapkan pola asuh yang represif alias melakukan penekanan terus-menerus.

Ketiga, ini menyangkut masalah manajemen sekolah. Keempat, tayangan televisi yang cenderung menyajikan sadisme, vulgarisme, dan hedonisme. Jelas dakmpaknya tak mendorong penonton untuk menyelesaikan konflik (diringkas dari Media Indonesia, 11 Juli 1999).

Pak Arief benar, remaja umumnya memang berada di persimpangan jalan, alias berkarakter labil. Dengan begitu, mudah saja ia terpengaruh teman-teman dan lingkungan. Sehingga, punya pengalaman terjun di medan “pertempuran” bisa jadi merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka yang hobi tawuran. Ibarat jagoan yang sedang berlaga menghadapi lawan, ia akan menjadi pusat perhatian banyak orang. Melalui penampilan itulah ia jadi dikenal, diperhatikan, dan diakui eksistensi dirinya.

Memang, keinginan untuk dikenal, diperhatikan, dan diakui oleh orang lain, merupakan sesuatu yang alami dalam diri manusia. Sebab, dalam diri manusia terdapat apa yang disebut “naluri mempertahankan diri” (gharizah al-baqa’). Naluri ini muncul dalam bentuk keinginan seseorang untuk dikenal, diperhatikan, dan diakui eksistensinya. Termasuk pula keinginan untuk berkuasa, memiliki harta, dan mempertahankan diri atau membela diri jika ada serangan/ancaman dari pihak lain.

Nah, remaja yang hobi tawuran merasakan hal seperti itu. Di saat mereka tidak mendapat perhatian dari keluarga atau lingkungannya, dan di saat mereka tidak mampu menampilkan citra diri secara positif, mereka bertindak apa saja supaya orang lain memberi perhatian. Jadi tawuran tak lain adalah sarana mengekspresikan diri. Seperti kata pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Tak bisa jadi ilmuwan, jadi aktivis tawuran pun tak apa-apa.

Kalau bicara kepribadian, maka mau tidak mau berpulang pada orangtua sebagai pendidik awal anak-anak. Sejauh mana sih orangtua kita perhatian pada diri kita, apakah sebatas memberi materi ataukah juga dengan kasih sayang? Memang, banyak orangtua yang sanggup memberi materi tapi tidak mampu memberi kasih sayang. Karena alasan kesibukan kerjalah atau memang karena tak punya perhatian lagi kepada anak-anaknya.

Yang memprihatinkan, banyak orangtua yang keliru dalam memberikan kasih sayang, yaitu memberikannya tanpa landsasan agama. Hanya lebih buruk lagi orangtua yang sudah tak mampu memberi harta, juga tidak mau memberikan kasih sayang. Mereka membiarkan anak-anaknya dididik oleh jalanan, sehingga tumbuh menjadi generasi preman. Dan, jumlah mereka tidak sedikit.

Solusi Komplit
Seperti kata Pak Arief Rachman, salah satu pemicu tindak kekerasan remaja adalah tayangan yang vulgar dan sadis. Nah, rasanya para pengusaha televisi swasta tidak punya kepedulian terhadap masalah yang satu ini. Rasanya, sudah puluhan kali protes ditayangkan ihwal adegan-adegan yang tak santun itu, tapi kok seperti dianggap angin lalu. Terbukti tayangan televisi yang mengekspos kebrutalan telah banyak berpengaruh bagi perkembangan penontonnya.

Ada cerita dari zaman baheula, film Taxi Driver yang dibintangi Jodie Foster pada tahun 1976, yang mengisahkan tentang sopir taksi yang gila, diduga kuat memicu John Hickley menembak Presiden Ronald Reagen. Belum lagi film-film bertemakan kekerasan lainnya yang tak mustahil memicu remaja berfantasi yang aneh-aneh. Film-film tentang peperangan antargeng seperti Crows Zero misalnya, bisa jadi memberikan inspirasi bagi remaja dan juga masyarakat luas untuk bertindak serupa. Nah, apakah para pengelola televisi swasta dan bioskop masih mau tidak peduli?

Tapi, untuk menghentikan aksi tawuran jelas butuh penanganan yang lebih komplit. Tidak bisa sekadar menghentikan film-film action di televisi atau bioskop, butuh lebih dari itu. Sebut saja, remaja memerlukan institusi pendidikan yang memadai. Lengkap fasilitas juga kurikulum yang lebih “manusiawi.” Tidak menganggap pelajar sebagai komputer yang tinggal diisi program lalu bisa beroperasi sendiri. Pelajar adalah manusia, perlu sentuhan agama dan kasih sayang.

Tindak tawuran juga tidak akan berhenti tanpa adanya tindakan tegas dari negara. Sudah terlihat jelas bahwa tawuran itu adalah tindak kejahatan, bukan lagi kenakalan. Apakah merusak sarana umum, melukai orang apalagi membunuhnya adalah suatu kenakalan? Rasa-rasanya semua orang sepakat kalau itu adalah suatu kejahatan. Lagipula secara fisik remaja sudah termasuk ke dalam kategori akil baligh, yang dalam pengertian syariat sudah terkena ganjaran pahala dan dosa. Jadi, perlakukan saja para pelaku tawuran itu seperti para penjahat kambuhan lainnya.

Nah, kalau ada pelajar yang tega membacok kepala atau menggorok leher pelajar lain hingga tewas dalam tawuran, maka dalam pandangan Islam pelajar tersebut layak dikenakan qishash.

Kejamkah ini? Sesungguhnya tidak, ini adalah hukuman yang adil dan tegas, nyawa dibalas nyawa. Lagipula, dengan memberikan sanksi semisal qishash, maka akan segera memadamkan api kemarahan dan dendam. Keluarga korban dan teman-temannya merasa lega, sementara orang lain tidak akan berani mengulangi perbuatan serupa. Sebab, hukum Islam itu bersifat jawazir dan jawabir. Jawazir artinya hukum Islam bersifat preventif, mencegah terjadinya peluang-peluang kemaksiatan dan kejahatan. Kemudian hukum Islam juga bersifat jawabir. Artinya, hukum Islam kalau diterapkan di dunia akan menghapus azab Allah di akhirat kelak.

Jadi meski berat vonis hukuman yang dijatuhkan, Insya Allah pelaku tindak kejahatan akan terlepas dari azab Allah di akhirat kelak, yang jauh lebih dahsyat. Adil kan?

Tapi seperti kata pepatah bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Daripada menangkapi para pelajar dan mengganjar mereka dengan vonis yang berat, seperti qishash, tentunya akan jauh lebih baik bila segera dilakukan perbaikan terhadap dunia pendidikan dan lingkungan sosial. Dengan apa? Apalagi kalau bukan dengan Islam.

Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 73-81 dengan perubahan

Categories
Aqidah dan Akhlaq

Remaja Putri dan Prostitusi

“Moralitas adalah kemewahan pribadi yang sangat mahal.”
(Henry Brooks Adam)

Busana sackdress merah menyala dan ketat membungkus gadis bernama Susi malam itu. Belahan samping busananya memanjang hingga ke pangkal paha, sedangkan bagian atas busananya rendah dan terbuka. Susi bukan peserta kontes kecantikan atau sedang mengikuti lomba gadis sampul. Tapi seperti yang dilaporkan harian Pikiran Rakyat(15/02/2000), dia sedang menjalankan profesinya sebagai gadis penghibur.

Di tempat lain, remaja-remaja putri lainnya juga tengah menjalani profesi serupa. Berbekal rokok putih, minyak wangi, alat rias serta dandanan seksi macam tangtop, jaminan memikat pria hidung belang yang memang kurang iman. Jadi, mereka memang sengaja tampil hot.
Separah itukah pergaulan remaja putri kita? Setidaknya, kasus yang menimpa remaja putri bernama Susi tadi mewakili “Susi-Susi” yang lain. Mengerikan sekaligus menyedihkan.

Usia muda tak membuat sebagian teman-teman ABG putri grogi untuk tampil beda sebagai “penghibur-penghibur” muda. Untuk mengelabui usia, Santi—sebut saja begitu namanya—yang mengaku kegadisannya direnggut sang pacar tiga bulan silam, mengenakan sepatu dengan hak super tinggi sekitar 12 cm. Ia bersama belasan rekannya berada di tempat karaoke berupa ruko berlantai tiga, beberapa di antaranya baru berusia 17 tahun. Mereka terkadang menginap di sebuah ruangan yang berada di lantai paling atas.Ruangan tersebut selain untuk menyimpan berbagai “perlengkapan kerja”, juga digunakan sebagai tempat ganti pakaian atau menunggu tamu yang akan mem-booking jasa mereka (Pikiran Rakyat, 15 Februari 2000).

Dua Sisi Kehidupan
Pelacuran remaja dan anak-anak memang sedang marak-maraknya. Di Thailand, sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Chulalongkorn, Thailand pada April 1997 mengumumkan, praktik-praktik ilegal, termasuk pelacuran anak-anak makin berkembang di Asia, termasuk di Thailand. Di negeri gajah ini jumlah pelacur anak-anak tercatat 800.000 anak. Entah berapa jumlah remaja yang berperilaku seperti itu di Indonesia.

Tapi jangan juga menyangka bahwa remaja putri yang terjerembab dalam lembah hitam itu, adalah mereka yang tidak berpendidikan dan tidak kenal agama. Dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun radio swasta di Jakarta beberapa tahun silam, seorang narasumber yang berprofesi sebagai wartawan menuturkan bahwa di Yogyakarta ditemukan seorang ABG yang biasa mangkal di sekitar Malioboro sebagai kupu-kupu malam. Yang mencengangkan siang harinya gadis itu rajin bersekolah, malah rajin pula shalat dan puasanya. Ketika diajukan pertanyaan kepadanya tentang sisi kehidupannya yang kontras itu, ia menjawab, “Kalau shalat dan puasa adalah perintah dalam agama saya, sedangkan jadi kupu-kupu malam adalah profesi saya!” Astaghfirullah!

Apakah ini bukti bahwa remaja-remaja kita sudah mengalami penyimpangan moral hingga titik nadir? Bisa jadi. Di alam sekularisme, agama memang hanya menjadi simbol-simbol kehidupan, bukan sebagai aturan. Pengakuan ABG Yogya tadi mengisyaratkan hal demikian. Jadi tidak usah terlalu terkejut banyak anak-anak Islam yang khusyu beribadah, tapi tekun juga berpacaran dan berperilaku bebas.  Urusan moral atau akhlak nomor kesekian, yang penting fun, fun, fun.

Alasan Klise
Dari sekian kasus pelacuran di tingkat remaja, masalah ekonomi sering dijadikan alasan. Karena butuh sesuap nasi, dibantinglah harga diri. Tapi kenyataannya hal ini tidak bisa dipukul rata untuk seluruh kasus. Untuk beberapa daerah yang pendapatan per kapitanya rendah, alasan itu bisa jadi benar adanya.

Sejumlah daerah di kawasan Pantura (Pantai Utara Jawa) yang memang tingkat pendapatan warganya rendah, acapkali “memaksa” banyak kaum wanita menjalani profesi haram itu. Selain juga sistem sosial yang menunjang bermunculannya “kembang-kembang” jalanan. Di daerah-daerah tersebut banyak ditemukan wanita-wanita berusia belasan tahun yang telah menjanda. Malah ada yang lebih dari sekali menyandang status janda.

Tapi, kini yang kian marak adalah mereka yang menjadi wanita malam dengan alasan just for fun alias cuma untuk hiburan dan kesenangan. Berbagai liputan media massa menguatkan realitas ini. Banyak remaja putri dari kalangan berada alias terbilang mampu, yang menjalani jalur kelam ini. Pastinya, mereka tidak kekurangan makan atau uang untuk jajan. Untuk kelompok yang seperti ini, menjadi wanita malam bukanlah profesi, tapi gaya hidup. Berbeda dengan wanita malam papan bawah, mereka tidak tampil norak, dan bahkan tidak pasang tarif khusus. Kalau pasangan kencannya cocok, kencan gratis pun mereka jalankan.

Di Bandung, umumnya para ABG yang jadi pekerja seks ini malah tidak mau disebut pelacur. “Kan kita nggak dibayar dan kalau pun saya mau ngelakuin begituan, bukan karena bayarannya tapi karena saya suka,” jelas Yuni yang mengungkapkan dirinya dan umumnya teman-teman nongkrongnya, berasal dari keluarga yang kurang harmonis (Media Indonesia dalam Menelusuri Pelacuran ABG di Sejumlah Kota(19), 23 Agustus 1999).

Masih dalam laporan yang diungkap Media Indonesia. Nola, sebut saja begitu. Mojang Priangan ini memang tak memasang tarif untuk kencan, bahkan bisa gratis. “Yang penting mau traktir di restoran yang kelasnya oke, terus mau beliin baju dan yang pasti punya mobil yang asyik buat jalan-jalan,” kata Nola yang ceplas-ceplos ini.

Jadi, sebetulnya tidak semua yang menjalani profesi sebagai aktivis prostitusi ini karena kepepet untuk menyambung hidup. Lebih banyak yang melakukannya karena suka sama suka.

Zina Itu Haram
Jangan salah menilai, mentang-mentang yang melakukan pergaulan bebas itu banyak, lalu kita berpikir bahwa aktivitas tersebut adalah legal, baik secara moral ataupun hukum. Suara terbanyak itu belum tentu mewakili kebenaran. Begitu pula meski prostitusi itu mendapat restu dari Pemda, tapi bukan berarti Allah juga merestui. Dalam pandangan Islam aktivitas tersebut jelas “dikutuk.” Allah berfirman,

“Dan jagnanlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’:32)

Ungkapan dalam Al-Qur’an bahwa zina adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk, merupakan peringatan dan penjelasan bahwa perbuatan tersebut adalah haram.

Wahai pembaca, kita semua yakin kalau seluruh manusia ini taat kepada Allah dan tunduk kepada aturan yang dibuat-Nya, pasti segalanya aman. al-Ustadz Husein Abdullah dalam kitab Dirasat fil Fikril Islamiy-nya menuliskan bahwa salah satu tujuan didatangkannya syariat Islam ke permukaan bumi adalah untuk menjaga kesucian manusia dan masyarakat, serta menjaga kebersihan garis keturunan keluarga (nasab). Praktik perzinaan jelas-jelas menodai kesucian umat manusia dan merusak nasab, meskipun manusia melakukannya atas dasar suka sama suka.

Wahai pembaca, manusia adalah makhluk yang mulia, selama mereka taat kepada Allah S.W.T. Manusia yang bisa mengekang hawa nafsunya dengan mengikuti petunjuk agama, akan mendapatkan kemuliaan hidup. Bukan saja kemuliaan, tapi juga kebahagiaan, dunia dan akhirat. Dalam pandangan Islam, makna kebahagiaan yang benar bukanlah semata memperoleh kepuasan materi atau jasmani. Kebahagiaan tidak akan ditemukan dalam arena gaul bebas atau zina. Malah bukan kebahagiaan yang akan datang, tapi kesengsaraan. Sudah merusak harga diri, risiko tertular PMS (Penyakit Menular Seksual) menjadi kian tinggi.

Menurut catatan, mereka yang berisiko tertular virus HIV yang mematikan adalah para anak-anak muda. Kini frekuensi penularannya sudah semakin kencang, dari satu orang per lima menit menjadi satu orang per tiga menit. Itu baru kesengsaraan di dunia, belum lagi dosa-dosa yang harus ditanggung kelak di akhirat.

Melihat bahayanya, wajarlah bila agama kita menempatkan perilaku amoral ini sebagai satu di antara tujuh dosa-dosa besar. Sabda Nabi S.A.W, “Jauhilah tujuh perkara yang merusak… mempersekutukan Allah, sihir, berzina, memakan riba,…” Tentu, aksi pencegahan terhadap aktivitas terkutuk ini juga harus dilakukan. Allah S.W.T menetapkan sanksi yang berat bagi para pelaku kejahatan tersebut,

“Wanita yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap seorang dari keduanya seratus kali cambukan. Janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (an-Nuur:2)

Nah, hukum cambuk merupakan sanksi bagi para pelaku perzinaan yang masih lajang. Bagi mereka yang sudah menikah, hukumannya jauh lebih berat, dirajam hingga menemui ajal.

Tobatlah
Para remaja yang terjerembab dalam dunia kelam ini sebenarnya sedang lapar dan dahaga akan kebahagiaan. Sayangnya, menurut hati mereka bahagia itu adalah terpenuhinya keinginan materi dan jasmani. Bahagia itu adalah uang, makan di restoran yang mewah, baju-baju mahal, sampai gaul bebas. Padahal, yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan semu dan sesaat. Kita percaya dalam batin mereka banyak terdapat penyesalan dan tetesan air mata. Andai kebahagiaan yang kita cari, lalu mengapa harus menyengsarakan diri?

Banyak orang yang secara materi dan jasmani berkecukupan tapi kenyataannya menderita. Marlyn Monroe, bintang sensual tahun 60-an, jelas terkenal tapi itu tidak membuatnya bahagia. Ketenaran dan kekayaan yang diperoleh malah menyiksa batinnya. Demikian pula sensualitas wajah dan fisik yang dimilikinya malah membuatnya sulit mendapatkan cinta yang hakiki. Entah sudah berapa pria yang hadir dalam hidupnya tapi tidak satu pun yang membahagiakannya. Meski pria itu adalah Presiden AS John F. Kennedy yang muda dan tampan.

Ada pula yang meniti jalan kelam itu dengan falsafah “sudah kepalang basah.” Ternoda oleh pacar, sekalian saja menceburkan diri menjadi penghibur profesional. Kawan, itulah yang dinamakan putus asa. Seorang muslim pantang berputus asa, apalagi dari ampunan dan rahmat Allah. Manusia saja ada yang begitu pengampun, apalagi Tuhannya manusia. Sebesar apapun dosa yang kita lakukan, maghfirahdari Allah mendahului murka-Nya. Dosa perzinaan yang pernah dilakukan, bukanlah dosa yang tak berampun.

Lalu bagaimana soal ‘kesucian’ yang sudah hilang? Kawan, dengan tobat yang kita lakukan insya Allah Dia akan memberikan jalan yang terbaik bagi kita. Bahkan pasangan hidup yang baik. Yakinlah.

———————————————————————————————————-
Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 82-89 dengan perubahan

Categories
Aqidah dan Akhlaq

Gaya Hidup Konsumtif? Jangan Lah Yauw…

“Rela dan puas adalah kekayaan yang tidak pernah akan habis.”
(Peribahasa)

Kalau anda termasuk tipe orang yang senang beli barang-barang yang sebetulnya sudah anda punya, nah itu namanya konsumtif, saudara-saudara. Coba saja bayangkan, anda sudah punya kemeja bagus, tapi begitu ada barang lain yang beda merek, anda masih bernafsu untuk memilikinya, meski bandrol baju itu menyentuh angka “selangit.”

Kalau anda juga termasuk “rewel” untuk urusan makan, maka makan ayam goreng tidak cukup yang biasa, harus yang buatannya Paman Sanders. Atau, ketagihan sajian Crepes yang nyam-nyam di lidah, atau banana split yang coklatnya meleleh kemana-mana, padahal harganya wow bisa untuk jajan seminggu. Itu juga namanya konsumtif.
Wah, kalau ini diteruskan bisa bahaya, nih! Lalu, darimana sih asalnya “penyakit” ini?

Provokasi

Konsumtif, menurut kamus adalah gejala kejiwaan berupa rasa tidak puas dalam konsumsi. Level lain dari konsumtif adalah gila belanja alias snobis. Kelihatannya “penyakit” yang satu ini sudah menjadi satu bagian yang lekat dengan masyarakat. Bukan saja menjangkiti pikiran orang-orang yang banyak uang. Yang uangnya cekak sekalipun, juga ikut kebawa-bawa. Tidak sedikit teman-teman kita yang bela-belain menabung berhari-hari hanya untuk beli sebotol produk pemutih wajah, misalkan, atau pin up, handycam yang punya fitur canggih, DVD film original, baju bermerek terkenal, atau barang-barang lainnya. Padahal, barang-barang itu sebenarnya terkategori useless, alias kita tidak perlu-perlu amat.

Tapi kenapa kita bisa begitu “kepepet” untuk beli? Menurut Ustadz Muhammad Muhammad Ismail, dalam kitab Fikrul Islam, pada diri manusia ada naluri untuk mempertahankan diri atau gharizatul baqa’. Nah, salah satu madzahiratau penampakannya adalah hubbut tamallukalias cinta kepemilikan. Dan lazimnya naluri, dia akan bereaksi saat ada rangsangan dari luar atau ada yang manas-manasin. Iklan misalkan, merupakan sarana yang ampuh untuk merangsang nafsu belanja konsumen. Setiap hari, mata dan telinga kita “digempur” tayangan iklan lewat televisi, radio, atau koran dan majalah, lama-lama luluh juga deh benteng pertahanan kita.

Apalagi yang namanya produsen dan pihak periklanan makin lama makin canggih merayu kita-kita. Iming-iming jaminan mutu-lah, nomor satu-lah, atau renyahnya nomor satu-lah bisa bikin kita jadi sangat penasaran. Apalagi kalau kemudian dipasang model iklan yang keren, wow, jadi semakin kebelet kita ingin mencoba. Iklan shampo misalkan, model yang dipasang pastinya sudah hasil seleksi. Hanya mereka yang berambut bagus, bebas ketombe, dan punya paras cantik yang akan dijadikan model iklan. Wajar saja kelihatan bagus di layar kaca. Padahal, kalau kita yang pakai belum tentu hasilnya seperti itu.

Iklan juga menawarkan berbagai pilihan yang membuat kita ingin mencoba lagi dan lagi. Dulu, setiap pagi kita cukup menyantap nasi goreng buatan istri, tapi sekarang ada nasi goreng instan. Pizza saja tidak bisa yang “biasa-biasa”, harus yang lebih wah juga, ada pilihan Stuffed Crust Pizza atau Cheesy Bite yang djamin membuat kita ketagihan. Dan seabreg-abreg barang lainya yang membuat kita ingin mencicipinya. Nah, kalau anda tidak tahan godaan iklan dan barang-barang baru, dijamin nafsu belanja anda akan melonjak gila-gilaan.

Selain itu, jangan lupa kalau pergaulan juga bisa membuat anda jadi konsumtif. Sadar atau tidak, bisikan orang-orang di sekitar kita juga sering membuat kita “panas” untuk belanja. Sepatu, tas, jam, sampai sendal yang dipakai teman-teman bisa membuat hati serasa seperti kompor meledug. Ujung-ujungnya ingin belanja.

Gaya hidup konsumtif dan snobis ini tidak hanya menguras kantong kita, tapi juga bisa merusak mental pergaulan kita. Orang yang sudah kecanduan belanja, tapi kantongnya tipis, bisa saja berbuat yang bukan-bukan untuk menjaga hobi dan gengsinya itu. Bisa dengan korupsi, atau nekat mencuri, dagang narkoba sampai jual diri. Ini sudah banyak terjadi, lho!

Stop Konsumtif
Jangan sampai gaya hidup konsumtif merasuk ke dalam kehidupan anda. Karena sebenarnya, anda sendiri yang akan rugi. Meski pada saat belanja kita enjoy-enjoy saja, tapi kalau anda pikir dengan akal sehat pastinya anda akan menyesal. Banyak sekali barang yang tidak bermanfaat. Belum lagi rugi uang yang sebetulnya bisa dipakai untuk keperluan lain yang lebih berguna.

Disinilah perlunya pikiran yang bijaksana dalam belanja dan gaya hidup. Rasulullah S.A.W bersabda “Sebaik-baik keislaman seorang muslim adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” Hadist ini mengingatkan kita untuk menjauhkan diri dari perilaku-perilaku yang tidak bermanfaat. Termasuk memberikan peringatan kepada kita untuk menghemat dan tepat guna dalam mempergunakan uang. Dan perlu dicatat, kalau perlu pakai tinta merah, setiap amal dan harta yang kita pergunakan itu akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Jadi, gaya hidup konsumtif sudah harus dibuang jauh-jauh ke laut.

Juga jangan berpikir soal gengsi di hadapan teman-teman. Makhluk yang bernama gengsi itu bila dituruti maunya, ibarat kanker ganas yang bercokol dalam tubuh yang terus-menerus menggerogoti hidup kita. Tidak ada matinya! Begitulah gengsi, tidak pernah ada kata berhenti, kecuali kita sendiri yang mau melakukannya.

Lagipula, sebenarnya orang lain akan menghargai kepribadian kita pada tingkah laku dan cara berpikir, bukan pada penampilan. Memang lazimnya manusia, pertama kali akan mengukur pribadi orang dari penampilan. Tapi, percayalah kalau kemudian orang akan terpesona pada cara bersikap dan cara berpikir anda.

Gaya Hidup Mewah, Buat Apa?
Tahukah anda bahwa mantan Menteri Pangan RI, Pak A.M. Saefuddin, sewaktu sekolah di SR (Sekolah Rakyat)—setingkat SD—hanya berbekal dua setel baju? Untuk mencapai sekolah pun  ia harus berjalan kaki 5 km yang ditempuhnya dalam waktu 1 jam.

Tidak terbayangkan betapa sederhananya dia. Pun hingga jabatan Menpangan ada dalam genggamannya, dia tetap sederhana. Dia menolak naik kendaraan dinas menteri dan lebih memilih naik Kijang lama miliknya setiap pergi ke kantor.

Sekarang, kita biasa terbuai dengan kemewahan. Sikap The Exhibit of Luxury alias gaya hidup yang serba mewah dan konsumtif sudah merambah ke dunia kita. Makanan tidak lagi diukur dari soal bergizi dan mengenyangkan, tapi gengsi. Baju tidak lagi dipertimbangkan dari fungsi, menutup aurat dan rapi, tapi sudah soal merek dan tren.

Anda harus tahu banyak soal kehidupan jangan hanya menganggap bahwa hidup itu hanya tumbuh, lalu berkembang dan mati. Hidup bukan cuma itu. Banyak sekali yang harus anda tahu soal kehidupan dan dinamikanya. Jangan merasa bahwa anda masih muda, lalu menganggap sah-sah saja dengan apa yang anda lakukan selama ini. Anda tidak peduli dengan apakah itu adalah perbuatan salah atau benar. Apakah itu menguntungkan atau merugikan anda di masa depan. Seharusnya anda berpikir jauh ke depan bahwa setiap yang kita lakukan akan ada hubungannya dengan masa yang akan datang. Iya, kan? Hari ini adalah bagian dari hari kemarin, dan hari esok sangat bergantung pada “sepak terjang” kita hari ini.

Lagipula apa pantas kita bermewah-mewahan, sementara di kanan-kiri, bahkan mungkin depan-belakang kita, orang menjerit-jerit kelaparan. Apa iya anda tega?
———————————————————————————————————-

Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 135-140 dengan perubahan.

Categories
Aqidah dan Akhlaq

Pacaran Islami: Memangnya Ada?

Omnia vincit Amor: et nos cedamus Amori—Cinta menaklukkan segalanya: dan kita takluk demi cinta.

Bagi remaja, bila istilah itu disebut-sebut bisa membuat jantung berdetak lebih kencang. Siapa sih yang nggak semangat bila bercerita seputar pacaran? Semua orang yang normal pasti senang.

Yang cowok berkhayal punya tampang sekeren personelnya “Westlife” supaya dikejar-kejar kaum Hawa, baik yang mengejar ingin dikencani maupun yang ingin nagih utang (hi..hi..hi..). Coba aja bayangin, wanita mana, sih, yang nggak deg-degan kalo lihat tampang se-cute Mark atawa Kian? Wuih, histeris, Brur! Maklum, cowok ABG yang tergabung dalam kelompok Westlife ini cool banget. Jadi, nggak heran, ‘kan, kalo anak cewek merasa nyaman sekaligus bangga dapat gacoan model begitu?
Bicara soal rasa cinta memang diakui mampu membangkitkan semangat hidup. Suer, nggak bohong! Termasudk anak masjid, yang katanya ‘dicurigai’ tak kenal cinta. Sama saja, anak masjid juga manusia, yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Pasti dong, mereka juga butuh cinta dan dicintai. Soalnya, perasaan seperti itu wajar dan alami. Malah aneh bila ada orang yang nggak kenal cinta, jangan-jangan bukan orang. Nah, biasanya bagi remaja yang sedang kasmaran, mereka mewujudkan cinta dan kasih sayangnya lewat aktivitas pacaran. Kayak gimana, sih? Deuuh, pura-pura nggak tahu. Itu tuh, cowok dan cewek yang saling tertarik, lalu mengikat janji, dan akhirnya ada yang sampai hidup bersama layaknya suami-istri.

Omong-omong soal pacaran, ternyata sekarang ada gosip baru tentang pacaran islami. Ini kabar bener apa cuma upaya melegalkan aktivitas baku syahwat itu? Malah disinyalir, katanya banyak pula yang melakukannya adalah anak masjid. Artinya mereka itu pengen Islam, tapi pengen pacara juga. Ah, ada-ada saja!

Nggak Ada Pacaran Islami!
Memang betul, kalo dikatakan bahwa ada anak masjid yang meneladani tingkah James Van Der Beek dalam serial Dawson’s Creek, tapi bukan berarti kemudian dikatakan ada pacaran Islami. Itu nggak benar. Siapa pun yang berbuat maksiat, tetap saja berdosa. Jangan karena yang melakukan adalah anak masjid lalu ada istilah pacaran Islami. Nggak bisa, jangan-jangan nanti kalo anak masjid kebetulan lagi nongkrongin judi togel, disebut judi islami? Wah gawat bin bahaya, bro!

Tentu lucu bin menggelikan dong bila suatu saat nanti teman-teman remaja yang berstatus anak masjid atau aktivis dakwah terkena “virus” cinta kemudian mengekspresikannya lewat pacaran. Itu nggak bisa disebut pacaran islami karena memang nggak ada istilah itu. Jangan salah sangka, mentang-mentang pacarannya pakai jilbab, baju koko, dan berjenggot, lalu mojoknya di masjid kita sebut aktivitas pacaran islami. Wah, salah besar itu.

Suer, kita juga nggak pernah dengar istilah daging babi islami, hanya gara-gara disembelihnya dengan menyebut nama Allah, misalkan. Ya nggak? Begitulah, tak ada istilah pacaran islami seperti halnya tak aa istilah daging babi islami. Jangan sampai kita nekat membungkus kemaksiatan dengan embel-embel Islam. Catet itu, Brur!

Lalu, bagaimana dengan sepak terjang teman-teman remaja yang terlanjur menganggap aktivitas baku syahwatnya sebagai pacaran Islami? Sekali lagi dosa! Iya dong. Soalnya, siapapun yang melakukan kemaksiatan jeals dosa sebagai ganjarannya. Apalagi anak masjid. Malu-maluin aja.

Jadi memang pacaran islami itu nggak ada. Tapi, kenapa istilah itu bisa muncul? Boleh jadi karena teman-teman remaja hanya punya semangat keislaman tapi minus tsaqafah pengetahuan islamnya.

Mengendalikan Cinta
Siapa bilang cinta tak bisa dikendalikan? Bisa, brur! Malah kalo tahu aturan mainnya, enjoy saja, tuh. Barangkali yang merasa sulit mengendalikan cinta karena memang terlalu memanjakan hawa nafsunya. Bila yang terjadi demikian, berarti memang rada-rada sulit untuk bisa mengendalikan. Ibarat kamu lagi sakit, tapi tak berusaha untuk menyembuhkannya.

Disinilah perlunya ilmu untuk mengendalikan cinta supaya nggak liar tak karuan. Kalo liar, bisa gawat. Apalagi menimpa anak masjid atawa aktivis dakwah di sekolah. Malu dong kalo sampe aktivis dakwah pacaran. Bukan hanya memalukan, tapi juga dosa.

Setiap orang boleh mencintai dan dicintai. Itu haknya, termasuk remaja seusia kamu. Tapi, bukan berarti kemudian menghalalkan segala cara, seperti pacaran. Brur, aktivitas itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kamu ‘kan seorang muslim, masak mau melakukan tradisi yang bukan berasal dari Islam. Suer, budaya pacaran itu tak dikenal dalam kamus ajaran Islam. Nggak ada itu. Catet, ya!

Yakin deh, cinta itu bisa dikendalikan. Yang nggak bisa itu adalah dimatikan. Ini memang urusan hati. Jadi, sejauh mana hati kita bisa menahan hawa nafsu yang bergejolak dalam gairah jiwa muda kita. Kamu tetap harus tahu aturan main dalam Islam. Wajib kamu ketahui bahwa Islam tak pernah mengekang umatnya. Kalaupun anda aturan yang menurut kamu mengekang aktivitas kamu, itu adalah upaya Islam untuk menyelamatkan umatnya. Ya, itulah risiko kamu milih Islam, yang tentu saja itu adalah pilihan terbaik buat kamu.

Sobat, hal yang paling mendasar sebagai seorang muslim adalah beriman kepada Allah S.W.T. Iman kepada Allah itu bukan cuma mengimani keberadaan-Nya saja, yakni hubungan penciptaan (shilatul khalqi), tapi sekaligus harus ada hubungan perintah-perintah (shilatul awaamir). Nah, dengan kata lain, wajib taat terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah S.W.T,

“Dan, tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab:36)

Ketaatan yang kamu bangun itu akan menciptakan dinding yang tebal agar kamu tak tergoda untuk melihat atau melakukan aktivitas yang “nggak-nggak.” Terus kamu juga harus memahami bahwa perasaan cinta itu muncul juka ada rangsangan dari luar. Maka, langkah bijak dan logis adalah menutup seluruh peluang yang bisa membuat kamu tergoda untuk melakukannya. Hindari aktivitas yang menjurus kepada pikiran-pikiran yang liar, yang membuat kamu merasa gatal bila tak menempuh jalur pacaran untuk mengekspresikan cinta kamu. Sebaliknya, kamu harus menyibukkan diri dalam aktivitas yang tidak bersentuhan dengan perasaan-perasaan cinta terhadap lawan jenis kamu. Olahraga atau full ngurus pengajian dan rajin puasa, insya Allah cara itu bisa mengusir keinginan kamu untuk melakukan pacaran.

Zina? No Way!
Idih, ngeri bin serem! Ketimbang zina, menikah lebih aman dan berpahala. Iya, nggak? Tapi sebentar, kita kan masih sekolah, masak mau nekat nikah, sih? Ya, itu persoalannya.

Sekarang, tak ada jalan lain bila kamu tetap ngotot ingin menyalurkan “aspirasi” kamu kepada lawan jenis kecuali nikah. Nikah adalah sarana legal dan aman secara syar’i untuk menumpahkan kasih sayang kita seutuhnya kepada lawan jenis. Firman Allah S.W.T,

Bahkan, Al-Qur’an juga menyisipkan larangan untuk berbuat zina. Allah S.W.T berfirman,

“Dan, janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya, zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa’:32)

Inilah Al-Qur’an pedoman yang paripurna yang bakal menyelamatkan kita.

Kembali ke urusan cinta. Memang bila kamu tetap ngotot ingin berkasih sayang dengan putri pujaan kamu, atau untuk yang putri dengan “Arjuna” pilihannya, ya sudah, nikah saja. Habis perkara. Iya, nggak? Kalo ternyata masih pikir-pikir karena masih sekolah, mendingan keinginan itu “dikubur” dulu untuk sementara. Kamu fokuskan untuk belajar. Tapi ingat, jangan coba-coba nekat untuk “mendekati” kekasihmu dengan cara pacaran.

Soalnya, Non, pacaran itu adalah pintu gerbang menuju perzinaan. Makanya, kita wanti-wanti banget jangan sampai kamu ngotot melakukan aktivitas baku syahwat yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jadi, sekali lagi, pacaran islami itu nggak ada dalam kamus ajaran Islam. Kalaupun boleh mengatakan, ada sih “pacaran” islami, yakni nikah dulu!
———————————————————————————————————-

Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 118-125 dengan perubahan

Categories
Aqidah dan Akhlaq

Menjadi Pemuda Idaman

Oleh Kang Hari Moekti

Generasi muda mempunyai posisi yang penting dalam proses regenerasi suatu masyarakat atau bangsa. Generasi mudalah yang akan menyambut tongkat estafet kepemimpinan suatu negeri. Keberhasilan perjuangan suatu bangsa akan tercermin dari keberhasilannya melahirkan generasi penerus yang berkualitas sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsanya sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Sebaliknya jika generasi penerus yang dihasilkan lemah, tidak bermoral, tidak mampu memikul tanggung jawab kebangkitan, maka perjuangan generasi sebelumnya akan tidak berarti. Karena generasi muda hanya akan menjadi generasi pemalas yang bangga dengan masa lalu bangsanya, tetapi rapuh pada zamannya.

Masa muda adalah lambang kekuatan, keuasaan, vitalitas, dan energi. Secara umum merupakan masa ketika potensi dan kemampuan fisik, mental, dan intelektual serta moral seseorang berada dalam tingkat perkembangan dan daya guna yang optimal. Masa muda merupakan saat ketika pikiran dan daya kreasi menunjukkan kemampuan untuk menemukan dan menciptakan sesuatu dalam bentuk yang terbaik.
Sesuai dengan pengertian akhil balig, masa muda adalah saat seseorang mencapai posisi kematangan yang utuh, telah siap memikul serta menerima tugas dan tanggung jawab yang paling berat sekalipun. Sehingga pemuda dibebani pelaksanaan hukum dan dituntut untuk mempunyai sifat dasar pemuda yang senantiasa agresif, dinamis, inovatif, dan progresif.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa tidak ada kebangkitan suatu bangsa tanpa kiprah kaum muda di dalamnya. Jiwa kepahlawanan, rasa ingin berkuasa, kemauan untuk bebas dari cengkraman belenggu penjajahan senantiasa tumbuh subur dalam aliran darah muda. Hal ini dapat dikaji dalam dokumen-dokumen kepahlawanan dan perjuangan dari berbagai negeri. Pemudalah yang berkiprah dalam perjuangan suatu bangsa, kobaran semangat mereka mendorong pergerakan roda-roda kehidupan masyarakat.

Generasi muda juga mempunyai potensi yang sangat dahsyat yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan kepentingan. Dengan demikian, gejolak jiwa kepemudaannya perlu dipersiapkan dan pemuda perlu mempersiapkan diri untuk menjadi individu-individu yang mempunyai keunggulan dan mengetahui siapa dirinya sehingga siap mengambil peranan, berjuang demi kemajuan umat manusia.

Akan tetapi, kenyataan yang ada sekarang pemuda yang pentuh potensi itu tengah dirundung permasalahan yang serius akibat sistem kehidupan masyarakat yang berideologi kapitalis. Sistem kehidupan yang jauh dari tuntutan Ilahi akan menciptakan kondisi masyarakat yang frustasi, mengejar kesenangan semu. Dalam masyarakat berideologi kapitalis akan menampakkan ciri liberal dan individualis sehingga masing-masing individu tidak saling mengingatkan apabila beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kaum muda mengalami dekadensi moral, mereka sudah terpola menjadi generasi yang individualis, liberal, akrab dengan holiganisme dan vandalisme. Mereka pun tanpa perasaan berdosa mengabaikan nilai-nilai syar’i sehingga hidupnya bebas tanpa aturan. Anak-anak muda sudah terbiasa untuk melakukan hubungan seksual di luar pernikahan. Kasus-kasus kriminal berupa pemerkosaan dan perampokan sering dilakukan remaja. Ataupun kekerasan berupa tawuran antarpelajar menunjukkan sebagian permasalahan sosial ini. Semua tindakan tak bermoral tersebut dilakukan oleh anak-anak muda. Hal ini diperkeruh oleh kehadiran diskotik-diskotik dan night club yang sudah menjadi institusi yang melahirkan generasi-generasi koplo yang sulit lepas dari minuman keras, bahkan obat terlarang dari BK sampai kelas pink XTC, sadar atau tidak telah menunjukkan jati diri yang jauh dari norma-norma agama.

Dengan dukungan media massa yang penuh dengan informasi gaya hidup kapitalis yang akhir-akhir ini menjadi santapan kaum muda, segala ruh ideologi terebut merasuk ke seluruh organ, menerpa kepribadian pemuda yang menjadikan mereka konsumtif dan hedonis, mereka menjadi sasaran empuk para produsen. Belum lagi daya tarik mal dan plaza yang mendidik pemuda hidup penuh sensasi, ngeceng. Anak-anak muda dengan gaya hidup mewah seperti itu, dan pada sisi lain (menganggap, seolah-olah) daya dukung ekonomi yang terbatas menjadikan kaum muda menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (ekonominya). Konsekuensi dari sistem kehidupan semacam ini adalah wajar jika anak-anak muda terlibat dalam penjambretan, pencurian, dan perampokan, atau mereka berprofesi yang tidak manusiawi menjadi pemuas nafsu para hidung belang om genit atau tante girang.

Generasi muda juga terombang-ambing secara ideologis akibat banyaknya arus pemikiran yang mempengaruhi permasalahan mereka. Akidah Islamnya yang dianut sebagian besar anak muda mengharuskan ketierikatan dengan hukum Syara’ pada setiap aspek kehidupan, tetapi pada saat yang sama, mereka hidup dalam masyarakat berakidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama dan ideologi kapitalis hanyalah hubungan antara individu dan Penciptanya. Sedangkan akidah sosialis menganggap agama sebagai candu yang meracuni masyarakat dan menghambat pekerjaan. Islam memerintahkan manusia hidup dalam aturan Penciptanya, tetapi masyarakat sekarang hidup di bawah aturan buatannya sendiri.

Dan pemuda juga salah paham terhadap politik, mereka menganggap kesadaran politik adalah kesadaran akan situasi politik, perkembangan internasional, maupun manuver-manuver politik. Pembakaran dan pengrusakan pada insiden 27 Juli 1996, dianggap aktivitas politik. Tidak sedikit pemuda yang menganggap politik itu kotor, sehingga mereka tidak peduli akan hal itu. Bahkan mereka menjadi ajang rebutan organisasi-organisasi politik atau sebaliknya yang berusaha meraih kekuasaan dengan mengincar kedudukan tertentu dalam kancah politik praktis. Padahal yang dimaksud kesadaran politik (political awareness. Wa’yus siyassii) adalah suatu pandangan universal (global) berdasarkan pemahaman yang khas kapitalis, sosialis atau Islam terhadap upaya manusia untuk memelihara urusannya.

Akan tetapi, permasalahan-permasalahan di sekitar pemuda bukanlah permasalahan pokok, melainkan permasalahan cabang yang timbul akibat sistem kehidupan masyarakat yang berideologi kapitalis. Dari keluarga yang berantakan akan melahirkan generasi yang berantakan pula. Rumah bagi pemuda dan keluarganya bukan lagi menjadi baitijannatii, tapi hanyalah tempat untuk alamat dan menumpuk harta belaka. Itu sebabnya, pemuda tidak lagi mempunyai idealisme yang luhur dalam jiwanya karena sebelum keluar rumah mereka terhempas dari kebenaran ke jurang kemaksiatan.

Sekolah sebagai tempat menuntut ilmu bagi pemuda kini dapat diharapkan mampu membentuk idealisme. Sekolah berubah menjadi ajang pamer dengan penilaian untung rugi. Bahkan sekolah sudah setara dengan hotel berbintang dengan tarif yang tak terjangkau oleh rakyat banyak yang memang membutuhkan pendidikan berkualitas. Sistem pendidikan yang ada kini memang perlu dikaji ulang, jika tidak, sulit diharapkan akan pemimpin yang andal pada masa depan dari generasi ini.

Masyarakat umum sebagai lingkungan makro bagi pembinaan dan pengawasan terhadap perkembangan pemuda, kini tak lagi berfungsi layaknya penuntun dan pengontrol. Tetapi, masyarakat yang serba permissive akan segala budaya yang merusak akhlaq generasi muda, bahkan menjadi contoh yang sempurna akan kerusakan pribadinya. Media massa pun senantiasa menyajikan seks, kekerasan, kebebasan individual, konsumtif, dan gaya hidup hedonis. Wajar jika kemudain merajalela kasus-kasus kriminal, vandalisme, holiganisme dalam bentuk tawuran, seks dan pergaulan bebas, aborsi, kehancuran keluarga, dan sebagainya.

Kendati sebagian besar pemuda tengah dilanda permasalahan yang serius, namun masih banyak pula pemuda-pemuda yang berpegang teguh pada idealisme agamanya. Mereka adalah pemuda-pemuda Islam yang senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah Allah yang menciptakannya di tengah arus dampak buruk globalisasi. Pemuda Islam itu berupaya menjadi pemuda muslim kaaffah menurut pandangan Islam. Mereka memiliki keimanan yang kokoh, selalu mendasarkan perbuatannya pada niat yang ikhlas serta berusaha sekuat tenaga untuk terikat dan mengikatkan diri dengan ajaran Islam.

Manusia hidup tidak mungkin tanpa salah dan dosa, tetapi pemuda muslim akan senantiasa berupaya untuk tidak berbuat dosa. Kalaupun tanpa sengaja melakukan maksiat, mereka segera bertobat. Pemuda Islam pun kadangkala mendengarkan musik, shopping, dan menikmati keindahan dunia lainnya yang serba semu ini selama tidak bercampur dengan perkara maksiat. Bukan untuk “sok suci”, melainkan karena takut kepada Allah S.W.T Yang Maha Tahu. Mereka rindu untuk bertemu dengan-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai oleh-Nya.

Pemuda Islam juga mempunyai idola yang ditiru tingkah lakunya. Idolanya bukanlah seorang penyanyi ternama, bintang film terkenal, olahragawan atau kepala negara serta ilmuwan, akan tetapi idolanya adalah Rasulullah Muhammad S.A.W dan sahabat-sahabatnya, karena ia berpedoman pada firman Allah,

“Sesungguhnya telah ada pula dalam (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak berdzikir kepada Allah.” (al-Ahzab:21)

Selain itu, bila hidup hanya sekadar menuruti hawa nafsu, apa yang akan diperoleh, selain kesenangan semu, bersifat sementara, dan jumlahnya sedikit? Tidak ada lagi! Bahkan tidak jarang pemuda yang memperturutkan hawa nafsu seperti ini dengan kegelisahan, kegundah-gulanaan dan stres, frustasi di tengah hiruk pikuknya kehidupan akibat tidak punya tujuan dan pegangan hidup yang benar. Ketentraman hanyalah sebuah impian tanpa kenyataan baginya. Semua ini dipahami betul oleh pemuda Islam.

Di samping meyakini secara aqli dengan kemampuan berpikirnya secara naqli pemuda Islam pun sangat memahami beberapa ayat Allah S.W.T tentang wajibnya terikat dengan aturan Allah S.W.T, di antaranya,

“Dan apa-apa yang diperintahkan rasul, ambillah dan apa-apa yang dilarang rasul, jauhilah.” (al-Hasyr:7)

“Demi Rabbmu, tidaklah mereka disebut beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim (penentu aturan) dalam perkara yang mereka perselisihkan. Mereka tidak keberatan dalam diri mereka terhadap apa yang engkau putuskan, bahkan mereka menerima bulat-bulat.” (an-Nisaa:65)

Pembahasan tentang pemuda sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat secara umum. Karena pemuda merupakan bagian integral dari masyarakatnya, pemuda bermasalah menunjukkan masyarakat yang bersalah. Sebutan pemuda (kaum muda) adalah untuk mewakili sebutan masyarakat keseluruhan. Oleh karena itu, untuk melahirkan Islam dari pemuda, tidak dapat dilaksanakan sendiri-sendiri, secara kasuistis, tetapi perlu adanya usaha menyeluruh berupa rehabilitasi bahkan perombakan total dalam segala sendi kehidupan dari beragai pihak, yaitu sebagai berikut

1. Pemuda Itu Sendiri
Pemuda sendiri harus mempunyai niat yang ikhlas dan kuat untuk menjadi yang saleh dan berkualitas. Mereka mempunyai keinginan tulus untuk berkepribadian Islam, yang memahami ajaran Islam, mendalami, memahami dan mengamalkan sekuat tenaga dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berusaha mencari hidayah, karena yakin bahwa Allah S.W.T tidak akan memberikan hidayah kepada orang yang tidak mencarinya. Tanpa adanya kesadaran dan kemauan serta usaha dari dalam diri pemuda itu sendiri, usaha untuk membentuk pemuda Islam yang saleh akan sulit terwujud.

Siapapun yang merasa pemuda, sudah selayaknya mempunyai keinginan kuat dalam dirinya untuk menjadi pemuda saleh lalu berusaha mencapainya. Hal ini harus dimulai dari sekarang, mumpung waktu masih luang, tenaga masih kuat, umur masih muda, harta ada dan yang mau mengajari pun cukup banyak! Kecuali pemuda yang hilang kesadarannya. Allah S.W.T berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah keadaan mereka sendiri.” (ar-Ra’d:1)

2. Masyarakat
Dalam mencari jatidirinya, pemuda pasti memerlukan pedoman yang menjadi acuan dalam melangkah, penuntunnya akan membantu mengarahkan, mengingatkan dan meluruskan setiap langkah-langkah pemuda. Dalam setiap generasi, pedoman dan penuntunnya senantiasa ada dan terbentuk secara alami dalam realitas kehidupan. Kehidupan pemuda tidak lepas dari lingkungan masyarakatnya. Masyarakat disini mencakup keluarga, tetangga, sekolah/kampus atau masyarakat pada umumnya. Walaupun sebuah keluarga telah menerapkan pendidikan Islami dalam keluarganya, ketika si anak bergaul dengan teman dan masyarakat, belajar di sekolah yang tidak Islami, ia akan berada dalam kondisi yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Dari sinilah terwujud pedoman dan penuntun kehidupan seorang pemuda, masyarakat akan memberikan tuntunan sesuai dengan ideologi yang dianutnya, antaranggota keluarga saling mengingatkan, antaranggota masyarakat saling menegur apabila terdapat hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan saling mengajak untuk berbuat kebaikan. Bila hal ini berjalan maka seseorang tidak dapat akan berbuat seenaknya. Individualis tidak dikenal dalam masyarakat Islam bila hal itu berhubngan dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar.

3. Penguasa
Tidak sedikit sumber kebobrokan akan hilang bila penguasa melarang beredarnya sumber kebobrokan itu dan memberangusnya. Bisa dibayangkan, bila penguasa mengeluarkan aturan yang melarang memproduksi minuman keras, obat-obatan terlarang, film porno, buku porno, riba, judi, dan yang lainnya, niscaya semua itu akan hilang dari peredaran, tidak lagi mempengaruhi kaum muda. Sebaliknya, aturan buatan penguasa manapun yang longgar dapat saja memicu kemaksiatan dan menghalangi kebaikan bila keliru menetapkannya.

Oleh karena itu, perlu keinginan politis untuk menciptakan masyarakat yang muslim idaman—kaffah, masyarakat yang peduli terhadap perkembangan warganya, memiliki kesamaan rasa, kesamaan pikiran dalam kesatuan arah yang utuh. Individu dalam masyarakat muslim kaffah ini akan cepat tanggap terhadap maslaah yang timbul dalam lingkungannya, pemerintah yang mempunyai kekuasaan akan melakukan tindakan penyelesaian dengan segera, bahkan jauh sebelumnya telah dilakukan tindakan preventif. Mereka semua merasa bertanggung jawab atas kejadian yang buruk itu. Mereka satu pemikiran yang kemudian akan membantu menyelesaikan masalah yang sedang terjadi, tidak tinggal diam atau sekadar mengutuk, saling menyalahkan tanpa penyelesaian. Masyarakat seperti inilah yang diajarkan Islam.

Bila hal ini terwujud dan berfungsi dengan baik, insya Allah akan lahir generasi-generasi harapan umat yang beridealisme tinggi dan luhur. Mereka mempunyai cita-cita hidup di dunia ini dan berusaha meraihnya untuk menikmatinya dengan penuh semangat, tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan utamanya.

Oleh karena itu, untuk membina individu-individu dalam keluarga muslim menjadi generasi berkualitas pada masa mendatang adalah bukan hanya bergantung pada keluarga itu sendiri, atau kepada pribadi-pribadi muslim, akan tetapi, bergantung pula kepada masyarakat secara umum dan pemerintah. Dengan tercapainya ketiga hal di atas menjadi Islami, yaitu berjalan sesuai dengan aturan Islam, tentu membentuk pemuda Islam yang saleh sangatlah mudah. Bahkan masyarakat pun akan menjadi masyarakat yang saleh dan negara menjadi aman, damai, dan sejahtera. Wallahu a’lam bish-shawab.

———————————————————————————————————-

Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. vii-xviii

Categories
Aqidah dan Akhlaq

Generasi Muda Mengintip Pornografi

“Bukankah berbagi keindahan adalah ibadah.”
(Jawaban Krisdayanti di Majalah Popular No. 114, Juli 1997)

Untuk urusan membaca, pemerintah Indonesia harusnya merasa malu. Pasalnya, rakyat negeri ini termasuk yang paling rendah kebiasaan membacanya dibandingkan negara-negara lainnya di dunia, bahkan dengan negara tetangga sekalipun. Memprihatinkan memang. Kalau pun kabar terakhir masyarakat gemar membaca, ternyata kabar ini pun harus kembali membuat pemerintah dan juga sebagian masyarakat uring-uringan dibuatnya. Apa pasal? Jangan deg-degan dulu. Masyarakat sekarang memang doyan membaca media, termasuk membaca media yang lherr alias bertaburan esek-esek.

Seiring dengan dibukanya keran kebebasan pers selama era reformasi, bagai jamur di musim hujan, berbagai tabloid dan koran serta majalah tidak ketinggalan untuk muncul dan berlomba menggaet pembaca demi mendongkrak oplah. Tentu saja, di satu sisi iklim tersebut menumbuhkan suasana kondusif untuk membudayakan kegemaran membaca dan mendidik masyarakat menjadi lebih pintar. Tapi, sisi yang lainnya justru menikam akal sehat masyarakat pembacanya. Termasuk kita. Yakni, dengan maraknya sejumlah penerbitan yang mengumbar pornografi yang berkibar bahkan menjadibacaan paling gress. Tercatat beberapa media lherr seperti Liberty, Map, Pop, Popular, X-Files, dan kawan-kawan sejenisnya. Belum lagi dari novel-novel kacangan yang sudah pasti bertaburan kata-kata tak senonoh.

Yang memprihatinkan, para pembaca media itu kebanyakan adalah para remaja yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Di Jakarta, menurut beberapa laporan yang dilansir harian ibukota, ternyata pembaca paling banyak adalah remaja. Tidak peduli, apakah remaja pria atau wanita. Mereka semua menikmati media yang dipenuhi artikel dan gambar-gambar “panas” (bukan gambar kompor lagi nyala, lho!)

Kalau dulu remaja sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan dan membaca majalah atau buku-buku seperti itu, sekarang malah tidak lagi. Selain itu, dengan harganya yang hanya semangkuk bakso, bocah ingusan bisa membelinya dimana saja. Memang sih, ada tulisan “Dijual hanya untuk pembaca berusia 17 tahun ke atas”, tapi itu kan teori. Kenyataannya para agen koran atau lopernya tidak pernah peduli. Apalagi para penerbit dan artisnya.

Maka, tidak terlalu aneh kalau media seperti itu mampu menyalip tiras media yang lebih dulu ada. Tentu saja, karena yang diemban adalah kebebasan yang kelewat batas dalam menampilkan isi dari majalah atau tabloid tersebut. Tentu, bacaan dan gambar-gambar “polosnya” yang hot.

Jago Ngeles
Memberantas media porno itu sulit. Karena para pelakunya pandai berkelit. Ibarat pendekar kungfu, mereka jago ngeles. Selain itu, masyarakat sendiri memperlihatkan kalau mereka “doyan.” Ketika Sophia Latjuba dan majalan Popular “bekerja sama” membuat foto-foto cabul, tiras majalah tersebut kontan melangit. Bahkan, di beberapa tempat para loper merasa sangat senang. Karena tak perlu bersusah payah menjajakan, toh majalah tersebut memang diburu orang. Ternyata menjual gambar ketelanjangan  wanita mampu mendongrak tiras majalah. Tentu saja hal ini menjadi tambang uang yang menggiurkan.

Meski kemudian sebagian masyarakat protes, Sophia dan Popularmengeluarkan jurus pamungkas dengan berdalih, “Itu kan trik kamera.” Percaya? Tentu saja alasan tersebut adalah lagu lama yang jadi andalan selebriti untuk berkelit dari tuduhan bobrok! Tuntutan skenario, trik kamera, ekspresi seni, dan sebagainya. Pokokya alasan-alasan klise.

Malah, dengan tidak bertanggung jawabnya para model yang berani malu ini sering balik menuduh masyarakat dengan cap “munafik.” Lho, apa nggak kebalik?

Selain itu yang cukup membuat sulit menjerat aktivitas pornografi adalah kriteria tentang porno itu sendiri. Kalau ditanyakan apa sih batasan pornografi? Wah, jawabannya bisa macam-macam. Ini kan lucu. Bukankah rakyat Indonesia mayoritas umat Islam, kenapa tidak dikembalikan saja batasannya kepada ajaran Islam. Jadi, porno itu adalah aksi pamer aurat laki-laki atau wanita. Gitu aja kok repot.

Efek Lain
Bacaan yang berkembang saat ini terbukti dalam beberapa kasus juga memicu masalah lain. Sejumlah media porno sering menurunkan tulisan tentang “pusat-pusat” pelacuran di berbagai daerah. Muncul kesan kalau redaksinya ingin memberitahu pembaca, dimana mereka bisa mendapatkan wanita-wanita penghibur. Selain itu, para model yang biasa tampil juga dilengkapi dengan nomor telepon atau HP mereka, ada dugaan mereka bisa “diapa-apakan.” Ih, na’udzubillah!

Dampak burk lain akibat menjamurnya media seperti ini, adalah naiknya minat remaja yang bercita-cita menjadi model. Dengan bermodalkan tampang dan penampilan di atas rata-rata, plus sedikit keberanian buka-bukaan, mereka bisa segera mengisi sejumlah halaman ekslusif tabloid atau majalah “begituan.” Para model di media-media itu rata-rata adalah para new comers yang ingin melejit dengan mendapatkan jalan pintas. Ya, selain populer juga dapat uang banyak tanpa harus berpikir keras.

Jadi, bacaan dan gambar yang dimuat dalam majalah seperti itu dengan segera mengisi kepribadian remaja yang masih mencari jati diri dan miskin idealisme. Malah tak mustahil, bacaan semacam itu mampu menjadi self confidence builder alias pembangun rasa kepercayaan diri. Tidak percaya? Jangan dicoba.

Perlu Pembenahan
Semua orang sepakat bahwa kebebasan pers yang tidak bertanggung jawab ini hanya akan menciptakan masyarakat pembaca kelas rendahan. Bahkan, bukan tak mungkin bila kemudian mereka menjadi the dreamer societyalias masyarakat pemimpi. Persis sinetron-sinetron kita yang tak “membumi” alias melulu menampilkan kehidupan kelas atas. Padahal, masyarakat ktia ‘kan justru banyak yang kere.

Menghadapi era globalisasi kebodohan ini tentu saja kita tak bisa hanya diam berpangku tangan. Sebagai seorang muslim, kita harus mampu menyikapi masalah ini, dengan bijak tentunya. Kata orang bija, lebih baik menyalakan sebatang lilin ketimbang terus-menerus mengutuki kegelapan. Artinya, kita tak bisa hanya cukup mengutuk media yang memang menjual gambar ketelanjangan wanita, tapi kita juga harus berusaha untuk menyelamatkan diri kita dan juga teman-teman yang lain. Tentu saja dengan mencari solusi yang jitu untuk “mematikan” media yang seperti itu.

Kita barangkali merasa bahwa bacaan yang bertebaran saat ini tak menjamin pemikiran kita bersih dari “virus” berbahaya yang sengaja disebar pihak-pihak yang tak menyayangi masyarakat alias tak bertanggung jawab terhadap masa depan kita.

Dengan perkembangan seperti ini, sepertinya masyarakat telah kehilangan bacaan yang menghibur dan mampu memberikan gambaran yang baik dalam aktivitas hidup kesehariannya. Tentu karena bacaan yang baik itu bukan hanya menghibur tetapi membawa muatan yang benar dan baik bagi pembacanya. Ironisnya, kini begitu sesak dengan media yang menjadikan seks, klenik, dan ide-ide kebebasan sebagai komoditas.

Dulu, di tahun 80-an, kita masih menemukan novel-novel yang “bersih” dari keliaran seks seperti sekarang. Sebut saja misalnya ada novel remaja yang mengisahkan tentang pembauran antara etnis Cina dan pribumi seperti pada kisah Cinta Bersemi di Seberang Tembok karya Bagin. Atau, novel serupa karya Wahyu Dewanto dalam kisah Senandung Puncak Gunung. Dan, tak ketinggalan novel remaja karya Andy Wasis yang mengisahkan Hen Nio gadis Cina yang sudah merasa 100 persen orang Indonesia dalam kisah Setangkai Anggrek Putih. Novel-novel tersebut jauh dari eksploitasi seks secara liar seperti yang ada di media lherr saat ini.

Di masa Rasulullah S.A.W dan para Khulafaur-Rasyiddin menjalankan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yakni ketika Islam diterapkan sebagai sebuah ideologi, masyarakat hanya disuguhi dengan nilai-nilai Islam yang banyak bertebaran dalam kitab-kitab fiqih, kitab-kitab tarikh, dan lain sebagainya, yang intinya membina kepribadian kaum muslimin.
Tersedia banyak kitab untuk membina hati kita seperti Minhajul Abidin karya Imam Ghazali, Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah. Atau, tulisan-tulisan dalam buku Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu (terjemahan) karya Ibnul Qayim al-Jauziah yang bisa menjaga kesucian cinta kita, sampai kitab fiqih politik seperti karya monumental Imam al-Mawardhi, al-Ahkamus Shulthaniyah. Kan itu bagus untuk menambah wawasan, apalagi buku-buku tersebut sekarang bisa kita dapati dengan mudah berkat jasa para penerjemah untuk memudahkan kita mempelajari. Betul kan?

Nah, kalau sudah begini bukan hanya menjadi urusan kita, tapi pemerintah harus bersikap proaktif, mampu menjadi pelindung rakyat dengan menciptakan rasa aman. Aturan dan sanksi diberlakukan dengan tegas tanpa pandang bulu. Kecuali kalau memang pemerintah sudah tidak peduli dengan masa depan kita.

Kemana Media Islam?
Remaja Islam sebenarnya sangat berharap akan ada media Islam yang mampu bersaing dengan media-media remaja lain. Apakah majalah atau tabloid, pokoknya bisa tampil memikat, gaul, memahami gaya remaja, dan tentu saja menampilkan wajah Islam yang ramah.

Sayangnya, mungkin sebagian investor atau orang-orang Islam yang kaya kurang begitu peduli dengan urusan seperti ini. Mungkin juga karena mereka menganggap media remaja Islam itu tidak menjanjikan keuntungan bagi mereka. Kalau itu permasalahannya, kan bisa dicari formula bacaan yang tepat dan juga manajemen yang profesional.

Untuk urusan dakwah bukankah keikhlasan dan keseriusan menjadi prioritas? Selain itu, dibandingkan dengan keselamatan generasi muda di masa-masa mendatang, investasi di majalah remaja Islam menjadi suatu perkara yang sangat penting. Sekarang pilih mana, membiarkan terus remaja kita tenggelam dalam bacaan-bacaan yang “memabukkan” atau memberikan bacaan alternatif yang “mencerahkan”? Rasanya semua sudah tahu jawabannya.

———————————————————————————————————-

Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 27-34 dengan perubahan