Umat Muslim Lebih Mencintai Ajaran Yesus Daripada Umat Kristen

0
71

Diterjemahkan dari artikel yang ditulis oleh Dr. Laurence Brown dari leveltruth.com

Ketika saya masih kecil, pada tahun 1960-1970-an dan tinggal hanya beberapa blok jauhnya dari distrik Haight-Ashbury di San Francisco, saya dikelilingi oleh gerakan hippie. Pada saat itu adalah zamannya kebebasan seksual, revolusi budaya, dan kecerobohan sosial.

Saya tidak pernah terjebak dalam gerakan hippie, tapi karena kehidupan semasa kecil saya dikelilingi oleh gerakan itu, oleh karenanya saya mengetahui perkembangannya. Satu hal yang saya ingat dengan jelas adalah banyak dari kaum hippie yang dijuluki sebagai “Pengikut fanatik Yesus.” Seiring saya mengingat-ingat kembali kenangan masa kecil saya, hampir empat dekade kemudian, eufemisme ini tampak aneh. Kaum hippie dianggap “Pengikut fanatik Yesus” karena mereka berpakaian layaknya Yesus, membiarkan rambut mereka gondrong seperti Yesus, meninggalkan cinta materialisme / cinta duniawi seperti yang Yesus lakukan, dan mengabdi kepada Tuhan, menyebarkan perdamaian dan cinta kasih.
Sekarang, banyak dari kaum hippie yang jatuh ke dalam penggunaan obat terlarang dan kehidupan seksual. Sebuah praktik yang jauh dari sifat-sifat dan keteladanan Yesus. Namun, bukan hal ini yang membuat kaum hippies disebut sebagai “pengikut fanatik Yesus.” Sebaliknya, mereka disebut “pengikut fanatik Yesus” karena rambut mereka yang gondrong, pakaian yang longgar, jauh dari cinta keduniawian, persatuan di antara sesama mereka dan pasivisme, semua ini adalah hasil dari upaya mereka untuk berperilaku seperti Yesus. The House of Love and Prayer (Rumah Ibadah Cinta dan Do’a) yang terletak di dekat rumah saya, adalah tempat berkumpulnya para kaum hippie yang berjiwa baik ini, dan nama dari rumah ibadah mereka adalah cerminan dari fokus mereka dalam kehidupan.

Melihat kembali ke belakang, apa yang terasa aneh bagi saya sekarang bukanlah kaum hippie yang ingin mempraktekkan ajaran-ajaran Yesus, tetapi fakta bahwa orang-orang mengkritik mereka karena hal itu. Apa yang tampak lebih aneh adalah sebagian orang Kristen, di era modern sekarang, juga mengkritik hal tersebut. Dan sesungguhnya, apa yang tampak paling aneh, sebelum saya masuk Islam, adalah bahwa umat Islam tampaknya lebih mempraktekkan ajaran Yesus daripada orang-orang Kristen.

Sekarang, pernyataan saya di atas membutuhkan penjelasan, jadi inilah penjelasan saya: Pertama-tama, baik Kekristenan dan Islam menganggap Yesus sebagai nabi dari agama mereka. Namun, ajaran Yesus telah hilang dari keyakinan dan praktik kebanyakan penganut Kristen. Sebaliknya, ajaran-ajaran Yesus dihormati dan dipraktekkan dalam Islam.

Praktek agama

Yesus disunat (Lukas 2:21). Paulus mengajarkan sunat itu tidak perlu (Roma 4:11 dan Galatia 5: 2). Sedangkan umat Muslim juga disunat.
Yesus tidak makan daging babi, sesuai dengan hukum Perjanjian Lama (Imamat 11: 7 dan Ulangan 14: 8). Muslim secara keseluruhan juga tidak makan babi. Bagaimana dengan umat Kristen? Hmm… saya rasa Anda sudah tahu jawabannya.
Yesus tidak memberi atau mengambil riba (bunga), sesuai dengan larangan dalam Perjanjian Lama (Keluaran 22:25). Riba (bunga) dilarang dalam Perjanjian Lama dan Al-Qur’an, sebagaimana juga dilarang dalam agama Yesus. Perekonomian sebagian besar negara Kristen, bagaimanapun, terstruktur berdasarkan riba.
Yesus tidak berzina, dan tidak melakukan hubungan di luar nikah dengan wanita. Sekarang, masalah ini meluas ke kontak fisik dengan lawan jenis. Kecuali melakukan ritual keagamaan dan membantu mereka yang membutuhkan, Yesus tidak pernah menyentuh seorang wanita selain ibunya. Penganut Yahudi Ortodoks yang taat terus mempraktekkan ajaran ini sampai sekarang sesuai dengan ajaran Perjanjian Lama. Demikian juga, Muslim yang taat tidak mau bersentuhan antara lawan jenis. Bisakah penganut Kristen yang terbiasa melakukan “peluklah sesamamu” dan “ciumlah pengantinmu” mengklaim hal yang sama?
Praktek Ibadah

Yesus mensucikan dan membersihkan dirinya sebelum berdoa, seperti praktek para nabi yang mendahuluinya (lihat Keluaran 40: 31-32 tentang Musa dan Harun), dan inilah yang dilakukan umat Muslim.
Yesus berdoa dengan sujud (Matius 26:39), seperti para nabi lainnya (lihat Nehemia 8: 6 tentang Ezra dan orang-orang, Yosua 5:14 tentang Yosua, Kejadian 17: 3 dan 24:52 tentang Abraham, Keluaran 34: 8 dan Bilangan 20: 6 tentang Musa dan Harun). Siapakah yang berdoa seperti itu, Kristen atau Muslim?
Yesus berpuasa selama lebih dari sebulan pada suatu waktu (Matius 4: 2 dan Lukas 4: 2), seperti yang dilakukan orang-orang saleh sebelumnya (Keluaran 34:28, I Raja-Raja 19: 8), dan seperti ini pulalah yang dilakukan Muslim setiap tahunnya pada bulan Ramadhan.
Yesus melakukan perjalanan jauh untuk tujuan ibadah, sebagaimana semua orang Yahudi Ortodoks juga melakukannya. Umat Muslim melakukan perjalanan ibadah ke Mekkah, dan hal ini juga disinggung di dalam Bibel. (Untuk referensi lebih lengkap, bisa merujuk pada The First and Final Commandment oleh Dr. Laurence Brown).

Masalah Keimanan

Yesus mengajarkan keesaan Tuhan (Markus 12: 29-30, Matius 22:37 dan Lukas 10:27), sebagaimana juga disampaikan dalam perintah utama (Keluaran 20: 3). Dia tidak pernah mengajarkan trinitas.
Yesus menyatakan dirinya sebagai seorang pria dan seorang nabi Allah, dan tidak pernah dia mengaku ilahi. Agama manakah yang lebih sesuai dengan hal ini? Apakah formula trinitas yang diajarkan Kristen atau ajaran tauhid (menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak menyekutukan-Nya) dalam Islam?

Singkatnya, Muslim tampaknya menjadi “Pengikut Yesus yang fanatik” dari era modern, jika yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah mereka yang hidup berdasarkan hukum-hukum Tuhan dan teladan Yesus.

Kita bertanya-tanya apa yang menyebabkan jurang perbedaan yang sangat besar antara para pengikut Yesus di zamannya dan penganut Kristen modern di zaman sekarang. Pada saat yang sama, kita harus menghormati fakta bahwa umat Muslim lebih memuliakan dan mempraktekkan ajaran Yesus daripada penganut Kristen. Selanjutnya, kita harus ingat bahwa Perjanjian Lama menubuatkan tiga nabi yang harus diikuti. Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus adalah yang pertama dan kedua, dan Yesus Kristus sendiri telah menubuatkan nabi ketiga dan terakhir yang akan datang. Oleh karena itu, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menubuatkan tentang seorang nabi terakhir, dan kitalah yang salah jika kita tidak mempertimbangkan bahwa nabi terakhir itu adalah Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, dan wahyu terakhirnya adalah Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here